Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Rabu, 05 Maret 2014

Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia



Oleh : Sharah Azizah / 602012602 / MD302B

Dalam dekade 1960-an dan 1970-an, berbagai peristiwa telah menimbulkan pengaruh yang besar di dunia. Pembangunan yag cepat dan luas dalam bidang transportasi dan komunikasi menyebabkan dunia “susut”, kita memasuki era dunia. Mobilitas kita telah meningkat sehingga jarak tidak lagi merupakan masalah. Pesawat-pesawat jet dapat membawa kita kemana saja dengan waktu yang singkat; orang-orang di seluruh dunia bergerak. Para pedagang internasional, mahasiswa-mahasiswa asing, diplomat-diplomat, dan terutama turis-turis masuk dan keluar dari aneka ragam budaya yang sering tampak asing dan kadang-kadang misterius. Kini kita mempunyai banyak kesempatan untuk melakukan hubungan-hubungan antarbudaya dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkait dengan masalah komunikasi antarbudaya, komunikasi antarbudaya terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya lain.[1]

Dalam keadaan demikian, kita segera dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi dimana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan haus disandi balik dalam budaya lain. Seperti kita lihat, budaya mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas seluruh perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki setiap orang. Konsekuensinya, perbendaharaan-perbendaharaan yang dimiliki dua orang yang berbeda budaya akan berbeda pula, yang dapat menimbulkan segala macam kesulitan.[2]

Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi.[3]

Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan terletak pada variasi langkah dan cara bagaimana manusia berkomunikasi dengan melintasi komunitas manusia atau kelompok sosialnya. Pelintasan komunikasi tersebut menggunakan kode-kode pesan baik secara verbal maupun non-verbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam konteks interaksi. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan, dan bagaimana makna serta pola-pola itu diartikulasikan dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia. Sehingga, dapat dirumuskan bahwa komunikasi antar budaya merupakan komunikasi yang terjadi diantara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, bisa berbeda secara ras, etnis, atau sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Sementara itu kebudayaan merupakan cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.

-GLOBALISASI-

Kemampuan untuk menindahkan produk, perlengkapan, manusia, informasi, dan sekuritas dengan cepat ke seluruh dunia, tanpa masalah batas nasional atau internasional, telah meningkatkan apa yang biasanya disebut dengan kerja sama antar negara. Kehadiran dan daya jangkaunya terkadang sulit untuk dimengerti. Misalnya, McDonald tersibuk berada di Munich, Jerman, dan toko 7-Eleven paling aktif berada di Samutparkam, Thailand. Ada lebih dari 11.000 Kentucky Fried Chicken yang terdapat di lebih dari 80 negara. Gerai es krim Baskin-Robbins dapat dibeli di lebih dari 5.800 gerai, di mana 2.700 gerainya berada di luar Amerika Serikat. Per bulan Mei 2007, Toyota Motor Corporation, penghasil kendaraan terbesar di dunia, mengoperasikan “52 pabrik luar negeri di 26 negara/wilayah” dan memasarkan “kendaraan di lebih dari 170 negara/wilayah.” General Electric mengumpulkan laba sebesar 163,3 miliar dolar, mempekerjakan lebih dari 300.000 orang dan beroperasi di lebih dari 100 negara pada tahun 2007.[4]

Bila komunikasi terjadi antara orang-orang yang berbeda bangsa, ras, bahasa, agama, tingkat pendidikan, status sosial atau bahkan jenis kelamin, komunikasi demikian disebut komunikasi antarbudaya. Komunikasi antar budaya sering dipertukarkan dengan dengan istilah komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication) dan terkadang diasosiasikan dengan komunikasi antaretnik (interethnic communication). Komunikasi antar budaya sebenarnya lebih inklusif daripada komunikasi antaretnik atau komunikasi antar ras, karena bidang yang dipelajarinya tidak sekadar komunikasi antara dua kelompok etnik atau dua kelompok ras. Komunikasi antar budaya lebih informal, personal dan tidak selalu bersifat antarbangsa / antarnegara, komunikasi internasional cenderung mempelajari komunikasi anatrbangsa lewat saluran-saluran formal dan media massa.[5]

Komunikasi antar budaya juga terlihat dalam komunikasi antar bangsa. Ketika mahasiswa menonton MTV, NBC, BBC, misalnya sadar ataupun tidak sadar, mereka sedang bersentuhan budaya di luar dirinya. Di sini peran media massa sangat besar di dalam memperkenalkan budaya lain, yang bahkan mempengaruhi budaya lawan komunikasinya. Namun apapun konteks di mana komunikasi antar/lintas budaya berlangsung, dalam peristiwa tersebut penyesuaian diri atau adaptasi mesthi terjadi diantara pihak-pihak yang berkomunikasi yang berbeda dalam latar belakang budaya lantaran perbedaan ras, etnis, klas sosial-ekonomi, kebangsaan, agama, daerah asal, dan status mayoritas-minoritas. Penyesuaian dalam komunikasi antar budaya yang berhasil melibatkan munculnya fakor-faktor indikasi rasa seperti kepuasaan dan kenyamanan; saling hormat, -krasan, -akrab; dan, tercapainya tujuan kegiatan seperti memperoleh gelar universitas sebagaimana mesthi dicapai oleh setiap mahasiswa asing, mencapai kesepakatan perjanjian perdagangan bagi pembisnis asing, serta rampungnya proyek pembangunan bagi penasehat teknik bantuan asing. Salah satu ciri abad 20, terlebih abad 21 adalah semakin banyaknya jumlah orang yang harus mengalami interaksi/komunikasi antar budaya. Disamping menjalankan peran sebagai mahasiswa asing, pembisnis asing, dan penasihat teknik bantuan asing, interaksi/komunikasi antar budaya juga diperankan oleh tenaga misionaris, juru dakwah, diplomat, tentara asing, imigran, wisatawan, tenaga kerja asing seperti TKI-TKW, dan sebagainya[6]

                 - Faktor-Faktor yang Disebut Komunikasi Antar Budaya-

  Faktor-faktor yang termasuk dalam Komunikasi Antar Budaya dalam buku “Komunikasi Lintas Budaya”:[7]
(1.)   Globalisasi : dari sudut pandang antropologis, globalisasi merupakan “Keterkaitan menyeluruh, bukti dari pergerakan global dari sumber daya alam, perdagangan barang-barang, tenaga kerja manusia, modal keuangan, informasi, dan penyakit menular.
(2.)   Konflik dan Keamanan Internasional : dunia sekarang menjadi tempat yang semakin berbahaya dibandingkan beberapa dekade lalu. Pemanasan global terus menerus akan mengakibatkan kekurangan air diseluruh dunia dan akan membuat bagian dunia menjadi miskin dan tidak stabil yang lebih rentan terhadap perang, terorisme, dan kebutuhan akan intervensi internasional.
(3.)   Kompetisi Dunia untuk Sumber Daya Alam : kenaikan harga sumber daya alam secara jelas berdampak buruk kepada negara dunia ketiga. Kenaikan harga minyak secara alami mengarah kepada kenaikan yang sama pada biaya produksi makanan, biaya yang dibebankan pada konsumen. Secara bersamaan, hal ini menyebabkan kenaikan harga dan kelangkaan bahan makanan di banyak tempat di Afrika, Asia Tenggara, dan Asia Selatan.
(4.)   Masalah Pelayanan Kesehatan Dunia : hubungan global sekarang ini juga memengaruhi masalah pelayanan kesehatan pada saat ini dan yang akan datang. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) berusaha untuk mendeteksi, memonitor, dan melaporkan sejumlah kejadian akibat penyakit SARS yang dapat tersebar dengan mudah melalui wisatawan mancanegara. Selain itu pemanasan global juga menjamin peningkatan angka kematian karena diare, malaria, dan demam berdarah di negara miskin.
(5.)   Perubahan Populasi : populasi dunia meningkat sehingga menyebabkan kondisi kehidupan yang tidak dapat dipertahankan lagi dan kurangnya kesempatan ekonomi akan mendorong orang untuk melirik dunia maju.


              -Perbedaan Kebiasaan Sehari-hari Masyarakat Indonesia dengan Masyarakat Barat -

Setiap orang mempunyai suatu sistem pengetahuan dari budayanya berupa realitas yang tak pernah dipersoalkan lagi (Schutz, 1970). Realitas ini menyediakan skema interpretatif bagi seseorang untuk menafsirkan tindakannya dan tindakan orang lain. Sistem makna kultural antara lain merupakan aturan budaya (cultural rules) dan tema nilai (value themes).[8]

Teori diatas mungkin membantu menjelaskan beberapa bentuk pertemuan yang melibatkan orang-orang Barat dan orang-orang Indonesia. Berikut adalah contohnya:

‘Hello’, ‘How are you?’ ‘Good Morning.’ ‘Have you eaten yet?’ ‘Where are you going?’ These are greetings which people use in diffrent languages when they meet each other. But what is a greeting?
A greeting is a way of being friendly to someone. It is a way of being polite. It is also a way of starting a conversation. In many languages a question is used as q greeting: ‘where are you going?’ ‘how is everything with you?’ But questions like these are not real questions. They do not require a full qnswer or even a true one. In English, for example, the commonest greeting is a question a person’s health: ‘How are you?’ But we do not expect the person to tell us about their health when they reply. We do not expect them to talk about their heandache or their backache, if they have one. People reply to these questions with a fixed expression such as ‘I’m fine, thanks’ or ‘i’m very well, thanks.’ In the same way, in countries where people greet each other with ‘Where are you going?’, a simple reply such as ‘Just walking around’ is sufficient. It is not necessary to describe where you are actually going.
In the most languages, a greeting is usually followed by ‘small talk’. Small talk means the little things we talk about at the start of a conversation. In English speaking countries people often make small talk about the weather: ‘Nice day, isn’t it?’ ‘Terrible weathe, isn’t it?’ But there is something special about small talk. It must be about something which both people have the same opinion about. The purpose of small talk is to let both people agree on something. This makes meeting people easier and more comfortable. People usually agree about weather, so it is a safe topic for small talk. But people often disagree about religion or politics so these are not suitable topics for small in English. The topics for small talk also depend on where the conversation is taking place. At football matches, people make small talk about the game they are watching: ‘Great game, isn’t it?’ At bus stop, people may comment about the transport system: ‘The buses are very slow these days, aren’t they?’
Greeting and small talk are an important part of conversation in any language. The way people greet each other and the things they talk about, however, may be different from one language to another. This shows that there is much more to learn when we learn language than just the vocabulary and the grammar of the language. We also have to learn the social behavior of the people who speak it.[9]

Kehidupan sosial dibentuk oleh serangkaian peristiwa kecil. Dari kejadian-kejadian sosial biasa dan sehari-hari itulah kita membangun dan menerapkan bentuk-bentuk budaya kita – permainan-permainan kehidupan, dengan aturan-aturan dan nilai-nilainya. Juga dari peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari ini pula fenomena “gegar budaya” timbul.[10]

Komunikasi antar budaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya. Pada dasarnya setiap kali terjadi perbedaan budaya antara komunikator dan komunikate, setiap itu terjadi komunikasi antar budaya. Karena itu, penelitian komunikasi antar budaya memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda itu berinteraksi proses komunikasi; bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan komponen-komponen budaya.[11]

Berdasarkan data-data yang sudah dipaparkan di atas tentang komunikasi antar budaya masyarakat Indonesia dan masyarakat Barat, maka ada beberapa masalah yang dapat kita lihat, diantaranya: (1.) Dunia semakin menyusut dikarenakan adanya globalisasi (2.) kita masih cenderung menganggap budaya kita sebagai suatu kemestian, tanpa mempersoalkannya lagi (3) masih terbatasnya pengetahuan kita tentang kebiasaan sehari-hari dari kelompok lain sehingga memunculkan konflik yang dapat menghambat komunikasi antar budaya.



DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, Deddy dan Rakhmad, Jalaludin., Komunikasi Antar Budaya., (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2001),
Richard , J.C. dan Long,  M.N.., BREAKTHROUGHT  a course in english communication practice., (Oxford: Oxford University Press, 1984),
Wiloso , Pamerdi Giri., Ilmu Sosial dan Budaya Dasar., (Salatiga: Widya Sari Press, 2010), 153-154.
Samovar, Larry A.,  Porter, Richard E. , McDaniel, Edwin R.., Komunikasi Lintas Budaya., (Jakarta: Salemba Humanika, 2010),



[1] Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmad., Komunikasi Antar Budaya., (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2001), 11-12.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Larry A. Samovar I Richard E. Porter I Edwin R. McDaniel., Komunikasi Lintas Budaya., (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), 3-4.
[5] Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmad., Komunikasi Antar Budaya., (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2001), v.
[6] Pamerdi Giri Wiloso., Ilmu Sosial dan Budaya Dasar., (Salatiga: Widya Sari Press, 2010), 153-154.
[7] Larry A. Samovar I Richard E. Porter I Edwin R. McDaniel., Komunikasi Lintas Budaya., (Jakarta: Salemba Humanika, 2010),
[8] Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmad., Komunikasi Antar Budaya., (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2001), 178-179.
[9] J.C.Richard dan M.N.Long., BREAKTHROUGHT  a course in english communication practice., (Oxford: Oxford University Press, 1984), 7-8.
[10] Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmad., Komunikasi Antar Budaya., (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2001), 180-181.
[11] Ibid

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda