Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih
Tampilkan postingan dengan label Tugas TTS MD302B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas TTS MD302B. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

"LUNTURNYA EKSISTENSI BUDAYA TANAH AIR / BANGSA"



OLEH   : IRA MARTA PUTRI/ 132012017 /MD302B

Keadaan Budaya Indonesia Saat Ini

Latar Belakang

Sejak Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 sampai sekarang, kurang lebih 69 tahun lamanya Indonesia mengalami berbagai macam gangguan seperti keamanan, politik, sosial budaya yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas nasional. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi tinggal kenangan.
Dan masalah politik yang sedang marak saat ini adalah melonjaknya angka korupsi yang terjadi di Indonesia, dan oknum-oknum pemerintahanlah yang banyak menjadi tersangka utamanya. Padahal anggota pemerintahan seharusnya bertugas untuk menyejahterakana rakyatnya, namun pada realitasnya para petinggi / para pejabat justru lebih mementingkan untuk menyejahterakan diri sendiri dengan mengorbankan rakyat kecil. Kemiskinan meningkat, kisruh terjadi diberbagai daerah, dan korupsi merajalela dimana-mana
Inilah realita yang tak dapat dipungkiri dan sedang terjadi di Indonesia saat ini. Kondisi keamanan, politik, sosial budaya saat ini Indonesia sedang amburadul. Terus mau dibawa kemana negeri ini????
Pengaruh Budaya Luar terhadap Budaya Indonesia
Keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, baik suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat serta masih banyak lagi lainnya. Pada mulanya Indonesia mendapat pengaruh yang besar dari Tionghoa, lalu kebudayaan India serta arab. Dari waktu kewaktu budaya barat mulai marak dan dengan mudah diserap oleh masyarakat Indonesia tanpa peduli apakah kebudayaan tersebut merusak atau tidak. Dan pada realitanya, masyarakat Indonesia lebih suka menghadapi budaya luar daripada melestarikan budaya tanah air sendiri.
Bila kebiasaan ini terus menerus berlangsung tanpa adanya proses penyaringan dan pengontrolan, maka akan dipastikan kebudayaan Indonesia akan musnah. Permasalahan ini timbul bukan karena faktor luar, tapi justru berasal dari dalam diri pribadi masing – masing warga masyarakat yang seakan malu serta menganggap kuno budayanya sendiri. Dan menganggap budaya luar lebih gaul, lebih wahh, dan lebih modern. Beberapa contoh budaya asing yang masuk ke indonesia, yaitu freesex, pengkonsumsian narkoba, aborsi dan minum-minuman keras. Yang pertama adalah freesex. Saat ini freesex tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, namun banyak anak – anak remaja pula yang mulai melakukan coba – coba. Dan yang kedua adalah pengkonsumsian narkoba. Orang barat biasanya menggunakan narkoba sebagai penambah stamina, merilekskan pikiran, semangat dan meningkatkan kreatifitas dalam bekerja. Dengan dosis yang aman bagi mereka. Di Indonesia, orang sering menggunakan narkoba untuk menghilangkan stres dengan dosis yang berlebihan. Yang tidak jarang menyebabkan kematian bagi pengkonsumsinya. Dan yang ketiga adalah aborsi. Aborsi sebenarnya tidak jauh hubungannya dengan kasus freesex inilah banyak kaum wanita yang hamil diluar nikah. Dan untuk menutupi rasa malu mereka akan  melakukan berbagai cara supaya orang – orang tidak mengetahuinya. Salah satunya dengan cara aborsi. Padahal resiko yang akan di alami orang yang melakukan aborsi sangat besar. Kasus abortus /aborsi ini sebenarnya  tidak  terlalu jauh hubungannya dengan kasus freesex inilah banyak kaum wanita yang hamil di luar nikah dan karena rasa malu kebanyakan para wanita itu melakukan jalan pintas dengan aborsi tanpa memikirkan akibat apa saja yang akan dialaminya kelak. Selain dibenci oleh Tuhan, kegiatan ini dapat mencelakai pihak wanita itu sendiri. Dan yang terakhir adalah minum-minuman keras. Masyarakat Indonesia kini menganggap bahwa minum-minuman keras itu hal yang biasa. Mulai dari orang yang berasal dari kelas atas hingga kelas rendah. Orang yang berasal dari kelas atas biasanya akan membeli minum-minuman keras yang bermerk, seperti Wine ,Brandy, Whyski Vodka,Mansion House dan masih banyak lainnya. Sedangkan orang-orang yang berasal dari kalangan bawah biasanya lebih memilih oplosan. Padahal orang-orang luar negeri mengkonsumsi alkohol hanya untuk menghangatkan tubuh saja. contoh kasus akibat mengkonsumsi oplosan yang terjadi pada Senin,  6 Januari 2014  −  09:42 WIB seperti 24 korban miras oplosan di Mojokerto, Korban Miras Oplosan Mojokerto Tambah 2 Orang. Dari kedua contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa oplosan sekalipun dapat menimbulkan dampak yang serius hingga kematian.

 Selain dari segi sisi negatif, budaya barat juga memberikan dampak positif juga, misalnya dalam bidang IPTEK, pembangunan dan masih banyak lainnya. Dan semua itu tentunya tidak terlepas dari pengawasan Pancasila sebagai paradigma kehidupan di Indonesia. Dari penjelasan diatas, jelas sekali bahwa kebudayaan luar berpengaruh sekali terhadap budaya bangsa , tinggal bagaimana kita menyaring serta menyeleksi budaya-budaya luar itu agar tidak merusak budaya kita. Budaya luar yang sesuai dengan kepribadian bangsa dapat diterapkan guna memperkaya budaya Indonesia. Sedangkan budaya kuar yang tidak sesuai hendaknya kita buang jauh-jauh agar tidak merusak kepribadian asli bangsa Indonesia.

PERUBAHAN BUDAYA
Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya serta dijadikan pedoman bagi tingkah lakunya. Kebudayaan saat ini dan dahulu sangatlah berbeda. Misalnya kebudayaan barat  mulai mengikis kebudayaan yang yang dimiliki Indonesia, misalnya budaya freesex, minum-minuman keras, hingga hilangnya rasa hormat anak kepada orangtuanya.

Kita semua juga tahu, bahwa Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan budaya dari nenek moyang kita terdahulu, hal itulah yang harus dibanggakan. Namun pada relitanya semakin majunya arus gobalisasi membuat semakin berkurangnya rasa cinta terhadap budaya bangsa. Dan dari celah inilah banyak warisan budaya kita yang dicuri oleh bangsa lain. Seperti contohnya :

  1. Batik dari jawa oleh Adidas
  2. Lagu rasa sayange dari maluku oleh pemerintah Malaysia
  3. Tari reog ponorogo dari jawa timur oleh pemerintah malaysia
  4.  Alat musik gamelan dari jawa oleh pemerintah Malaysia
  5.  Tari kuda lumping dari jawa timur oleh pemerintah Malaysia
  6.  Lagu kakak tua dari maluku oleh pemerintah Malaysia
  7.  Lagu anak kambing saya dari nusa tenggara oleh pemerintah Malaysia
  8.  Motif batik perang dari yogyakarta oleh pemerintah Malaysia
  9.  Alat musik angklung oleh pemerintah Malaysia
  10.  Lagu jali-jali oleh pemerintah Malaysia
  11. Tari pendet dari bali oleh pemerintah Malaysia

Dari data tersebut, bisa dibuktikan bahwa masyarakat indonesia sendiri kurang memperhatikan bagian dari budaya indonesia. dan diharapkan untuk masyarakat indonesia lebih memperhatikan bagian dari peninggalan budaya indonesia. dan sekarang akan diupayakan oleh pemerintah agar mendidik anak-anak muda untuk perduli terhadap hal tersebut, dan lebih mengenalkan dari dini sikap akan pentingnya pengetahuan budaya indonesia.

Saran: Diharapkan sebagai warga indonesia kita juga harus mengenal serta memahami berbagai macam kebudayaan yang ada, serta kita berkewajiban untuk menjaga serta melestarikan budaya yang ada supaya budaya yang dimiliki oleh negeri ini tidak diambil oleh bangsa lain. Sebenarnya itu semua juga

Minggu, 30 Maret 2014

Sang Garuda yang terluka



Oleh :  Caroline Yuni Prasetyawati Lukitoo/852010020/MD302B

 “Nasionalisme” ,kata ini mungkin bukanlah sesuatu yang spesial bagi generasi bangsa dewasa ini. Hal ini tidak lagi menjadi insipirasi dan motivasi bagi anak bangsa. Tidak lagi membakar semangat seperti saat diucapkan pada masa-masa sebelum berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat. Kenyataan yang diterima generasi ini adalah mereka hanya sedikit berusaha menghagai kata itu “nasionalisme” dengan senyuman kecil. Mereka tidak lagi merasakan apa yang dirasakan oleh para pendiri bangsa ini. Mereka tidak pernah atau barangkali belum pernah merasakan terjajah oleh bangsa lain. Mereka tidak pernah merasa bagaimana rasanya saat dipaksa bekerja, rasanya berperang dan kehilangan orang-orang terkasih di medan perang demi menghapuskan penjajahan dan untuk sebuah pengakuan akan negara yang berdaulat.
 
Sebagai generasi muda, penulis merasa topik ini penting untuk diangkat. Penulis tertarik akan hal ini semenjak mengikuti kelas matakuliah umum ISBD dan Kewarganegaraan. Muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak penulis :
“ Mengapa nasionalisme seperti tidak memiliki arti bagi anak bangsa di zaman ini?
Bukankah sebagai ideologi bangsa, Pancasila lebih menekankan pada persatuan  dan bukan perpecahan?
Namun apakah semua yang terjadi di negara ini berlandaskan Pancasila dan UUD1945 sebagai Identitas bangsa Indonesia?
Mengapa keberagaman yang seharusnya dapat menjadi keunikan bangsa malahan menjadi masalah internal bangsa yang sampai saat ini belum bisa teratasi?
Atau kah harus diakui bahwa negara kita belum siap hidup bersama dalam keberagaman yang ada? “

·        Keberagaman Indonesia


Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, selain itu  merupakan bangsa yang besar dengan berbagai macam latar belakang suku, budaya dan agama dari para penduduknya. Hal ini membuat negeri ini menjadi amat kaya dengan segala macam keberagaman yang ada.
Gambar-gambar berikut merupakan salah satu dari contoh dari sekian banyak keberagaman tersebut :

-          Keberagaman kebudayaan Indonesia

Dapat dilihat dari gambar-gambar diatas bawah tiap etnis memiliki kebudayaannya masing-masing serta tidak ada unsur kemiripan antara satu dengan yang lain.
-          Keberagaman Agama di Indonesia

              
  Semua Keberagaman ini dapat menyatukan jika kita melihatnya sebagai keunikan serta dapat menghargai itu. Namun disisi lain keberagaman itu dapat menjadi duri dalam daging jika kita belum bisa atau bahkan belum siap untuk saling menerima. Keberagaman jika tidak didasari dengan keadilan, kesamaan dan persatuan, dapat memicu timbulnya kecemburuan dan persaingan . Yang satu merasa lebih penting dari yang lain. Yang satu merasa lebih tinggi dari yang lain dan mulailah melahirkan sikap eksklusif dari suku atau agama tertentu.
Bila diamati dengan baik, hal-hal yang timbul di masa ini adalah dampak dari lunturnya kesaktian Pancasila. Pancasila telah mengalami banyak penyimpangan. Sejak negara ini mulai berdiri hingga pada saat ini. Sehingga tidak dapat disalahkan bila anak bangsa merasa seakan tidak lagi dapat berlindung dibawah naungannya. Namun apakah itu tujuan dari para pendiri bangsa saat merumuskan Pancasila? Jawabannya tentu “ tidak “


·         Pancasila sebagai dasar negara
Pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia, disamping merupakan falsafah, ideologi, pandangan hidup dan nilai bangsa. Hal ini berarti keberadaan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Inilah yang memberikan ciri khas bangsa yang berbeda dengan bangsa lain yaitu pola pikir, sikap dan perilaku yang senantiasa mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkadung dalam Pancasila. Namun faktanya Pancasila hanya seperti sebuah mimpi yang indah bagi negri ini. Yang ada bukan Pancasila yang melandasi pemikiran kelompok tertentu tetapi pemikiran kelompok itulah yang mengatasnamakan Pancasila.
Mengamati dari sila pertama “Ketuhanan yang Mahaesa” . menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang mengakui adanya kuasa yang besar diluar kemampuan manusia. Namun hal ini bukan berarti Indonesia adalah negara yang hanya menganut satu agama tertentu. Dari sila pertama dapat dikatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara menjunjung tinggi kebebasan umat beragama. Namun, kenyataan yang ada semakin berbalik dari apa yang tertulis. Terjadinya pengrusakan beberapa tempat ibadah dari kaum minoritas dan saat hal ini terjadi pemerintah seolah takbisa berbuat apa-apa. Bagaimana generasi penerus bangsa dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain dan saling menghargai jika fakta yang selalu mereka lihat berbanding terbalik dari apa yang diajarkan untuk mereka. Sedangkan Pancasila sendiri menuntut untuk sampai pada pemahaman akan kebersamaan sekalipun berbeda.

Selain itu juga masalah internal bangsa yang timbul dan semakin memadamkan api nasionalisme adalah gerakan-gerakan yang memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bila dilihat dari akar permasalahan secara umum. Alasan timbulnya gerakan-gerakan ini dapat dikatakan karena merasa kurangnya keadilan. Yang seharusnya telah diamanatkan dalam sila ketiga dari Pancasila, yang berbunyi “ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”.
 Keadilan yang dimaksudkan disini ialah pemerataan pembangunan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Mengapa rakyat yang hidup di daerah-daerah perbatasan lebih memilih berganti kewarganegaraan menjadi warga negara tetangga. Karena mereka melihat fakta bahwa kehidupan di negara lain lebih menjamin. Perbedaan yang terlihat amat mencolok dari daerah-daerah perbatasan Indonesia dan negara lain. Sedangkan kita hanya lebih banyak terfokus dengan permasalahan ibu kota negara yang macet, dengan permasalah pertikaian selebritis, dengan permasalah koprusi yang tak kunjung habisnya. Namun kita lupa bahkan mungkin tidak pernah mengingat dan mengalihkan pandangan kita kepada saudara-saudara sebangsa kita yang hidupnya amat memprihatikan. Mereka bahkan tidak mempunyai guru tetap dalam sebuah sekolah, mereka bahkan harus membayar sampai empat bahkan lima kali lipat dari beberapa rupiah yang kita pakai untuk mendapatkan makanan yang rasa dan kualitasnya sama dengan yang kita makan.

Begitu mirisnya melihat apa yang terjadi, Sang Garuda yang gagah itu terluka disana-sini. Ia butuh segera disembuhkan. Jika kita terus mengukit kesalahan tanpa memperbaikinya. Apakah gunanya?
Nasionalisme tidak hanya dibutuhkan saat kita menjadi negara jajahan . Nasionalisme tidak hanya dibutuhkan dimasa-masa sebelum merdeka. Namun nasionalisme terus dibutuhkan bahkan setelah merdeka demi mempertahakan keutuhan sebuah negara. Nasionalisme bukan hanya semangat melawan penjajahan dari bangsa lain. Tetapi juga adalah semangat kita melawan penjajahan oleh diri kita sendiri ; kemalasan kita, ketidakpedulian, kebodohan,bahkan ketertinggal di segala bidang. Hal ini masih menjadi PR bersama bagi bangsa ini.  Nasionalisme juga berarti peduli kepada bangsa karena mencintai berarti peduli mencintai negri berarti mencintai bangsanya dan menginginkan yang terbaik. Mengusahakan persatuan bukan perpecahan.
·         Nasionalisme di Era globalisasi
Diera globalisasi ini rasa nasionalisme sangat dibutuhkan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa. Bukan berarti kita harus membenci bangsa lain. Namun semangat nasionalisme membuat kita lebih meningkatkan kualitas bangsa dengan meningkatkan sumberdaya manusia yang kita miliki dan mempersiapkan diri untuk persaingan-persaingan baik segi ekonomi, sosial dan pendidikan yang telah menanti didepan mata. Selain itu nasionalisme mengajarkan kita untuk tetap bangga dan mencintai bangsa ini dan berusaha membuatnya sebagai sebuah kebanggaan.
Mencintai bukanlah hal yang mudah, mencintai berarti menerima, memaafkan dan berkorban. Tanah air kita membutuhkan generasi yang mencintainya. Dan tidak mudah untuk mencintai sebuah bangsa dengan beribu penduduk dan latarbelakangan yang berbeda. Namun kita memiliki contoh yang amat baik dari para pendiri bangsa. Sedikit mengingat kembali pada sejarah. Pada hari perumusan pancasila dan UUD 1945, terdapat banyak sekali perdebatan didalamnya. Diantara berbagai macam ideologi dan latar belakang serta pemikiran-pemikiran lainnya para pendiri bangsa harus mengesampingkan semua kepentingan yang bersifat kelompok , suku, ataupun agama tertentu dan mengalah untuk kepentingan bangsa dan kebaikan bersama.
Pancasila merupakan dasar negara kita yang wajib kita hormati dalam hidup sehari-hari sebagai warga negara Indonesia. Dan nasionalisme tetap dibutuhkan dalam hati kita. Untuk menjaga bangsa ini dari segala permasalahan dan perpecahan.


Penyebab dan Dampak Banjir di Jakarta




Oleh :Rheza Winahyu / I672012060@student.uksw.edu/MD302B



 
Gambar Banjir yang terjadi di Jakarta



                Beberapa bulan terakhir perhatian pemerintah dan rakyat Indonesia terfokus pada berbagai bencana yang melanda negeri ini. Salah satu bencana tersebut adalah banjir di Jakarta.
                Bencana banjir sebenarnya bukan hal baru bagi penduduk Jakarta sebab setiap tahun penduduk di wilayah-wilayah tertentu di Jakarta selalu mengalami banjir. Hujan beberapa jam saja dengan curah hujan yang tinggi sudah bisa menyebabkan banjir. Untuk tahun 2014 ini bencana banjir di Jakarta lebih istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
                Kalau di tahun 2013 banjir di Jakarta lebih luas cakupannya, bahkan istana negara dan bandara pun tak luput dari serbuan banjir. Namun banjir tahun lalu cepat surut sedangkan di tahun 2014 ini daerah-daerah yang terkena banjir lebih sedikit namun surutnya sangat lama. Bahkan ada yang satu minggu lebih banjir belum bisa surut, hingga air banjir berwarna kehijauan, keruh, dan pasti juga berbau. Selain itu ada beberapa wilayah yang ditahun-tahun sebelumnya tidak terkena banjir, tahun ini mengalami kebanjiran parah. Lalu apa penyebab banjir di Jakarta begitu parah tahun ini?

A.        Penyebab Banjir di Jakarta
Banjir yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1.         Adanya pemanasan global yang makin parah
Akibat pemanasan global yang semakin parah di dunia ini, Indonesia ikut menanggung akibatnya. Salah satunya adalah iklim yang tidak menentu dan curah hujan yang tinggi di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya di Jakarta.
2.         Curah hujan yang tinggi
Curah hujan yang sangat tinggi di Puncak dan Bogor menyebabkan sungai-sungai dan bendungan di sana penuh air dan air tersebut megalir ke Jakarta. Karena sungai-sungai di Jakarta banyak yang dangkal akibatnya air kiriman dari Puncak dan Bogor tersebut meluap dan menggenangi berbagai tempat di Jakarta yang dekat dengan sungai maupun bendungan.


3.         Kebiasaan penduduk membuang sampah ke sungai
Mengingat begitu banyaknya penduduk di Jakarta maka tak mengherankan jika masih banyak penduduk yang dengan sengaja membuang sampah di sungai. Jika ditanya mengapa membuang sampah di sungai,kebanyakan akan menjawab bahwa mereka tidak punya tempat pembuangan sampah, jadi sampah yang terpaksa dibuang di sungai. Akibatnya sungai makin dangkal dan jika curah hujan tinggi, terjadilah banjir karena sungai yang meluap.
4.         Banyaknya penduduk yang membuat rumah di bantaran dan di atas sungai
Akibat begitu banyaknya rumah yang didirikan di bantaran sungai bahkan di atas sungai menyebabkan sungai makin sempit. Jika ada air kiriman dari Puncak dan Bogor atau hujan yang tinggi, sungai tidak bisa menampung semua air tersebut sehingga meluap dan menggenangi daerah-daerah sekitarnya.
Menurut penulis, berbagai hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta.

B.        Dampak Banjir di Jakarta
Terjadinya banjir di Jakarta di tahun 2014 ini menimbulkan berbagai dampak baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Dampak-dapak tersebut diantaranya:
1.         Penduduk terpaksa mengungsi
Karena wilayahnya tergenang air, ribuan penduduk Jakarta terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Di pengungsian mereka harus mau tidur di tempat seadanya serta makan seadanya.
2.         Kerugian material yang sulit dihitung
Akibat banjir menyebabkan rumah-rumah penduduk rusak termasuk perabotan rumah. Selain itu karena ditinggal mengungsi banyak orang kehilangan harta benda karena dicuri orang. Akibat banjir juga dirasakan berbagai perusahaan di Jakarta, perusahaan-perusahaan tidak bisa beropersi tempat bekerja karena tergenang air dan listrik yang mati.
3.         Dampak psikologis bagi penduduk yang terkena banjir
Masyarakat yang mengalami banjir banyak yang sedih dan putus asa karena harus tinggal di pengungsian dalam waktu lama, tidak bisa bekerja, tidak bisa sekolah dan setelah banjir mereda mereka pun harus membersihkan kembali rumah mereka yang penuh dengan lumpur dan sampah-sampah akibat banjir.
4.         Pemerintah harus mengeluarkan dana ekstra untuk membantu korban banjir
Pemerintah Indonesia melalui BNPB harus mengeluarkan begitu banyak dana untuk mendirikan posko-posko pengungsian, dapur umum, tenda-tenda, bahan makanan, obat-obatan, tikar, selimut, dan berbagai keperluan untuk pengungsi.
Itulah berbagai dampak yang timbul akibat terjadinya banjir di Jakarta.

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa banjir di Jakarta disebabkan berbagai hal yang kompleks yang sulit untuk diubah. Sehingga dampak banjir sangat berat dirasakan warga masyarakat maupun pemerintah DKI Jakarta. Dalam hal ini, saya sebagai penulis tidak hanya memaparkan penyebab dan dampak dari banjir di Jakarta, tapi penulis juga akan menawarkan solusi yang diharapkan dapat memecahkan persoalan tentang banjir di Jakarta ini.
Ada beberapa solusi yang jika dilaksanakan sesuai dengan aturannya, akan berhasil memecahkan bahkan mencegah terjadinya banjir di Jakarta. Solusi-solusi tersebut diantaranya adalah :
1.         Setiap satu minggu sekali diadakan kerja bakti masal bagi seluruh warga penghuni bantaran sungai dan masyarakat sekitar.
Pentingnya membersihkan areal sungai dari sampah-sampah rumah tangga yang sengaja di buang di sungai dan juga terjadinya pendangkalan sungai mengakibatkan arus air yang tidak lancar. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan terjadinya banjir, oleh karena itu pembersihan sungai dari sampah dan pengerukan sungai sangat dibutuhkan demi kelancaran arus air. Kerja bakti masal ini sebaiknya diadakan hari minggu dimana sebagian besar orang libur dari aktifitas kerja sehingga dapat berpartisipasi secara maksimal dalam kerja bakti ini. Setiap RT diharapkan mengirimkan paling sedikit 75% dari seluruh kepala keluarga yang menghuni wilayah satu RT tersebut. Sebaiknya diadakan penjadwalan bagi setiap kepala keluarga dan juga absensi sehingga akan mudah diketahui siapa saja yang tidak berangkat pada saat kerja bakti masal tersebut. Bagi mereka yang membolos dari kerja bakti masal tersebut, sebaiknya dikenakan sangsi berupa denda dengan nominal yang bisa ditentukan sesuai dengan musyawarah warga. Besarnya denda sebaiknya tidak terlalu sedikit atau murah sehingga masyarakat tidak menyepelekan kerja bakti masal ini. Uang denda yang terkumpul, nantinya bisa dimanfaatkan untuk membenahi sarana dan prasarana yang berguna bagi masyarakat sekitar.
2.         Diadakan penjagaan di seitar bantaran sungai dan juga patroli keliling untuk menjaga kebersihan sungai.
Sungai yang bersih setelah diadakan kerja bakti masal di hari Minggu tidak akan bermanfaat jika masyarakat sekitar tetap bertahan pada kebiasaan lamanya untuk membuang sampah di sungai. Untuk menghindari terulangnya kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai, perlu adanya seorang penjaga di bantaran sungai dekat pemukiman penduduk. Orang ini bertugas mengawasi siapa-siapa saja yang membuang sampah di sungai, mencatat nama atau bahkan memfotonya sebagai bukti, lalu menegur satu kali. Bia lain kali hal itu masih diulangi, maka si penjaga bantaran sungai wajib mendenda sebesar denda yang telah disetujui bersama. Karena diharapkan si penjaga sungai ini mampu mengenali warganya, maka diharapkan yang menjadi penjaga sungai adalah orang yang telah lama tinggal di daerah tersebut atau orang yang dituakan sehingga masyarakat sekitar hormat kepadanya sehingga segan untuk mengotori sungai. Tentu saja menjadi penjaga sungai tidak hanya menjaga sungai dan mengawasinya tetapi juga melakukan patroli di sekitar tempat-tempat dimana warga sering membuang sampah. Untuk pekerjaannya mengawasi dan berpatroli itulah penjaga sungai akan menerima upah yang diambil dari denda warga masyarakat.
3.         Pemerintah berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan untuk mendirikan pusat pengolahan sampah rumah tangga.
Mengingat bantaran sungai yang sudah berpenjaga, warga masyarakat mungkin menjadi bingung bagaimana cara mereka membuang sampah rumah tangganya. Hal inilah yang mendasari penulis mempunyai ide untuk mengumpulkan masing-masing sampah rumah tangga sesuai dengan jenisnya. Misalnya sampah berbahan dasar plastik dikumpulkan dalam tempat yang terpisah dengan sampah berbahan dasar kertas, daun, dan sebagainya. Di setiap RW, pemerintah akan memfasilitasi sebuah area yang nantinya akan digunakan untuk mengolah sampah. Jika warga sudah memilah sampah berdasarkan jenisnya, mereka dapat menjual sampah-sampah tersebut ke tempat ini. Selanjutnya, hasil sampah dari masyarakat akan didaur ulang oleh para pekerja di area tersebut. Pengolahan sampah ini mempunyai manfaat ganda yaitu sebagai pemecahan masalah sampah warga dan juga membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran karena mereka dapat bekerja di area ini untuk mengolah sampah. Uang hasil pengolahan sampah menjadi barang-barang daur ulang maupun pupuk, hasilnya akan digunakan untuk membeli sampah warga dan juga membayar upah para pekerja di pengolahan sampah tersebut.
4.         Pemerintah harus menindak tegas para pemilik bangunan yang melanggar tata kota.
Sering kita jumpai, wilayah yang seharusnya untuk penghijauan ataupun taman kota, berubah menjadi tempat perbelanjaan modern maupun hunian masyarakat. Hal ini tentu menyebabkkan terganggunya peresapan air hujan, sehingga dapat meningkatkan potensi banjir. Pemerintah harus tegas memberikan sanksi kepada para pemilik bangunan-bangunan tersebut untuk segera membongkar bangunan mereka. Jika solusi 1 sampai 3 selalu berhubungan dengan uang, dalam hal ini pemberlakuan denda dianggap tidak akan menyelesaikan masalah, karena biasanya para pemilik bangunan yang melanggar tata kota ini adalah kaum berduit yang uangnya tidak akan habis untuk membayar denda. Jika mereka tahu bahwa sanksi dari bangunan yang melanggar tata kota hanyalah sebatas denda, mereka akan melakukan hal yang sama dengan membangun bangunan yang melanggar tata kota di tempat lainnya.

Penulis percaya dengan melakukan hal-hal tersebut di atas dengan rutin dan cermat, maka masalah banjir di Jakarta bisa diminimalisir atau bahkan bisa dihindari sama sekali. Selanjutnya penulis berharap bahwa masyarakat Jakarta akan dapat merubah kebiasaannya membuang sampah di sungai dan mulai belajar dari pengalamannya terkena banjir setiap tahun.