Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Sabtu, 01 Maret 2014

Adat Batak “Mangadati”

Oleh : Ivana Elia -- 602012007 -- MD302B


       Indonesia adalah negara yang terkenal dengan berbagai macam kebudayaannya. Kita mengetahui bahwa setiap daerah yang ada di negara Indonesia ini memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satu contohnya adalah adat pernikahan yang turun temurun telah ada sejak pada jaman dahulu. Dalam kesempatan ini, saya akan  membahas pernikahan antara pasangan yang berasal dari daerah yang berbeda.

Komunikasi antar budaya disamping memang tidak mungkin lagi dapat dihindari, sesungguhnya menjadi hal yang sangat penting bagi seluruh penduduk negeri ini. Didalam proses komunikasi antar budaya, antara sumber dan komunikan (yaitu mereka yang terlibat dalam komunikasi) berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dari sinilah terkadang muncul sifat-sifat keunikan dari komunikasi antar budaya tersebut.

            Karena keunikan-keunikan yang terjadi, maka saat ini saya tertarik untuk mengupas dan berbagi pengalaman yang pernah saya alami dalam keluarga saya yang mana kedua orangtua saya dengan suku yang berbeda dapat bersatu dalam pernikahan yang unik dengan adat Batak “Mangadati”, orang tua saya bersuku Batak dan Jawa. Sangat menarik untuk membagikan mengenai perbedaan latar belakang budaya ini.

Hingga pada saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa konsep asli religi masih diyakini oleh seluruh penduduk bumi ini, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan. Kali ini saya akan membahas tentang salah satu bagian kecil dari kebudayaan suku Batak. 

Orang batak meyakini bahwa alam semesta ini diciptakan oleh roh yang mereka sebut Debeta Mula Jadi Na Balon, yang berdiam di atas langit. Nilai budaya kekerabatan para masyarakat Batak terwujud dalam pelaksanaan adatnya, yakni dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya. Itu artinya, harus mencari jodoh dari yang berbeda marga.

Setiap etnis memiliki nilai budayanya masing-masing, mulai dari adat istiadat, jenis makanan, tarian daerah, budaya dan pakaian adat serta memiliki pula bahasa daerah masing-masing. Walaupun banyak etnis budaya di Sumatera Utara tidak menciptakan perbedaan antar etnis dalam bermasyarakat karena dapat berbaur satu sama lain dengan memupuk kebersamaan yang baik. Daerah Sumatera Utara memiliki nilai positif dalam aspek kebudayaan, karena memiliki penduduk yang berasal dari berbagai etnis yang berbeda.

Orang Batak mendasarkan pemahamannya bahwa upacara adat hanyalah merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan oleh oleh para leluhur, karena itu bagi mereka keberadaanya perlu dilestarikan dengan menyingkirkan nilai yang mengandung unsur perdukunan, jimat, pembuatan patung-patung, kesurupan, menyembah setan dan hal-hal semacamnya. Menurut iman yang saya yakini, itu adalah tipuan iblis yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Perkawinan dalam suku Batak, seseorang hanya dapat menikah dengan orang Batak yang berbeda marga sehingga apabila ada yang menikah, ia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak berbeda marga). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi pernikahan yang ada di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama kristen. Tetapi tak sedikit juga orang Batak yang mengadakan acara adopsi marga ini dengan upacara adat dari asal muasal kehidupan religius leluhur.

Contoh pengalaman orangtua saya : pernikahan ibu saya seorang perempuan yang bersuku Jawa dan ayah bersuku Batak. Beberapa tahun setelah pernikahan ada semacam upacara adat yang namanya “Mangadati” yang mewajibkan ibu saya untuk membeli marga dari mertuanya. Ibu saya harus menandatangi kepala adat Batak yang berkuasa untuk memberikan marga dalam suku Batak, apabila disetujui sang kepala adat akan memberikan syarat bahwa ibu saya harus memberikan seekor kerbau dan uang senilai Rp. 4.000.000,- kepada kepala adat, dan mengadakan semacam pesta yang mana seluruh keluarga besar dari ibu dan ayah saya harus berkumpul bersama untuk menjadi saksi dan mengikuti beberapa ritual ke danau toba yang tak lain adalah makam para nenek moyang.

Kepala adat ini adalah orang yang sangat terpandang dalam keluarga suku Batak. Sehingga sangat dihormati dan memiliki kuasa yang sangat tinggi untuk memutuskan apakah ibu saya berhak untuk mendapatkan marga atau tidak.

Didalam pesta, antara kepala adat dan keluarga besar saling berbincang-bincang untuk saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan. Kemudian acara selanjutnya adalah potong kerbau, penyerahan potongan kerbau dari ibu saya kepada kepala adat sebagai wujud bentuk penghormatan secara simbolis. Berikut adalah contoh gambar yang saya unduh dari Berlipro.com (sumber) diakses pada tanggal 17 Februari 2014

Setelah itu menari tarian tor-tor bersama-sama sembari diiringi musik dengan membagi-bagikan uang dari si kepala adat kepada kedua keluarga yang maknanya adalah berbagi berkat karena kehadiran keluarga baru yakni ibu saya yang akan diberikan marga. Kemudian kami semua bersama-sama pergi ke danau Toba, sesampainya kami disana, potongan kerbau yang tadi diberikan ibu saya kepada kepala adat kemudian diberikan diatas makam yang berada dipingggir danau Toba yang diartikan menyulangi orang mati sebagai wujud penghormatan dari kepala adat kepada sang nenek moyang yang telah menjadi leluhur dengan doa-doa seperti mantra dan tarian kebanggaan bahwa sejatinya mereka telah mendapatkan anggota baru dan menceritakan kegembiraannya melalui tarian kepada almarhum nenek moyang.

Keyakinan budaya Batak akan adanya hubungan antara orang yang hidup dengan roh orang mati tercermin dari sini. Pada hakekatnya, budaya ritual semacam ini masih tetap dilakukan orang-orang Batak hingga saat ini, walaupun tidak seluruhnya, namun masih tetap ada. Sebagian besar dari keluarga saya yang bersuku Jawa mungkin tidak mengerti akan makna dari upacara tersebut. Kepercayaan dalam suku Batak, manusia yang hidup di dunia ini masih dapat berhubungan dengan roh-roh dari anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. Mengapa saudara dari ayah saya sangat menghormati nenek moyang yang telah meninggal? Karena menurut cerita yang saya dengar dari saudara saya yang bersuku Batak, kebahagiaan bagi orang meninggal didapatkan apabila rohnya dapat memasuki persekutuan dengan roh-roh leluhurnya. Menurut budaya atau kepercayaan Batak, kami diajarkan untuk ke makam dan sebagainya tujuannya adalah agar kami selalu dilindungi oleh roh leluhur dan dijauhkan dari arwah-arwah gentayangan yang akan membawa sial. Kepercayaan seperti itu masih sangat dipegang teguh oleh sebagian orang Batak. Orang Batak ini ingin mengkomunikasikan kepada orang Jawa bahwa mereka memiliki kepercayaan yang harus dilestarikan yakni memuja roh-roh orang mati. 

Yang mana belum tentu kami sebagai orang Jawa yang berbeda suku mau mengikuti budaya Batak semacam ini. Namun pengetahuan kami menjadi luas dan dapat menghargai budaya lain dimana kami diterima dengan baik oleh suku Batak. 

Sehingga ketika sejauh ini saya mempelajari ilmu sosial dan budaya, saya menjadi mampu membuka diri memperluas pergaulan dengan saudara-saudara saya yang bersuku Batak  dan Jawa, meningkatkan kesadaran diri untuk menghargai budaya orang lain, menjadi makhluk yang memiliki etika/etis bahwasannya tidak mencela kebudayaan orang lain yang berbeda budaya dengan saya, ketika hal-hal tersebut sudah menjadi gaya hidup saya dalam berkomunikasi dengan budaya yang berbeda maka terwujud perdamaian dan dapat menjadi peredam konflik ditengah-tengah masyarakat.

Maka dari itu kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman. Perbedaan kultur didalamnya juga menyangkut kepercayaan, nilai, serta cara berperilaku kultural dikalangan mereka. Latar budaya yang berbeda antara kami inilah yang menyebabkan pemahaman terhadap budaya lawan bicara kami tak seberapa mendalam terbukti ketika tiba-tiba kami diajak mengikuti ritual yang istilahnya “memberi makan orang mati, memotong kerbau sebagai simbol yang memiliki arti tertentu, dan sebagainya.” Tetapi keadaan dan minat untuk berkomunikasi itu tidak dapat dipungkiri, karena dari situlah muncul keunikan-keunikan. Jadi kita harus menghargai perbedaan budaya satu sama lain, karena setiap orang berhak hidup dengan cara budaya asal mereka masing-masing, termasuk meneruskan adat dari nenek moyangnya.

Sekian karya tulis dalam bentuk artikel yang dapat saya bagikan. Semoga ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan kiranya menambah wawasan mengenai hal-hal yang belum diketahui pada sebelumnya. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel saya. Tuhan Memberkati.



Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda