Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Sabtu, 01 Maret 2014

"HI(RE)DUP" PULARISME DI INDONESIA

Oleh : Mahendra P       / 802011004 /EMAIL  : lunatic090110@gmail.com  / MD302A

Pandangan akan keberagaman atau pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik. Itu adalah pengertian keberagaman yang ideal, dan sepertinya belum terjadi di Negara kita ini.

                INDONESIA adalah sebuah Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan didalamnya terdapat 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) bahkan Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah suku terbanyak di dunia. Patut lah kita sebagai warga Negara Indonesia tercinta ini merasa bangga dengan keberagaman yang ada di dalamnya. Keberagaman di Indonesia sendiri tidak hanya ada pada sukunya saja tetapi juga pada keberagaman ras, agama, golongan, bahasa, kuliner, kesenian dan banyak berbagai macam yang lainnya.

                Dalam membicarakan keberagaman atau pluralitas dari Negara Indonesia yang membuat berbagai Negara di dunia kagum, tetap saja banyak masalah terjadi di dalamnya. Masalah seperti masalah primodialisme, masalah agama, dan berbagai macam masalah lain yang sebenarnya malah ditimbulkan oleh keberagaman itu sendiri, dan juga akan sangat memalukan bila bocor ke “luar”.

                Dari berbagai macam masalah yang datang dari keberagaman ini yang sudah lam terjadi dan masih sangat pelik adalah masalah keberagaman agama yang terdapat di Indonesia.  Dimana menurut koentjaraningrat (dalam  wiloso, dkk) mengatakan bahwa religi atau agama dan kepercayaan adalah salah satu unsur dari 7 unsur universal budaya, terlebih di indonesia kepercayaan atau agama yang datangpun sudah melebur dengan budaya . Indonesia sendiri kalau tidak salah semenjak tahun 1945 (setelah merdeka) atau 1950an sudah menetapkan 5 agama yang diakui oleh Negara, antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha (tidak mengurutkan menurut apapun). Dan beberapa tahun terakhir ini Indonesia menambahkan satu agama lagi yang diakui, ya itu Khonghucu. Ketetapan ini bukan lah sekedar membuat peraturan dan mengakui 6 agama/kepercayaan, akan tetapi dengan proses berfikir yang tidak sebentar dan dengan banyak pertibangngan.

                Kembali lagi kedalam masalah yang timbul dari keberagaman, kita lihat dari agama yang hanya ada 6 saja sudah banyak sekali masalah yang timbul, seperti penistaan agama, penyerangan terhadapa umat agama, tindak kekerasan atas nama agama, dan banyak lagi, pikirkan dengan masalah yang akan telah atau akan muncul dari keberagaman suku yang jumlahnya ada sekitar 700an? Bukkannya saya melihat dari sisi negative, tetapi memang seperti itu yang terjadi di Indonesia ku tercinta ini.



 Salah satu kejadian yang menarik untuk saya angkat adalah kejadian dibongkar(paksa)nya patung “manusia akar” di jantung kota Jogjakarta oleh salah satu organisasi masyarakat (ormas) salah satu agama. Patung manusia akar sendiri adalah patung berbentuk sesosok kaki manusia sampai ke sekitar pinggul dengan badan akar, karya kreatif seniman-seniman Jogja pada Event Bienalle Jogja 2011. Patung manusia akar ini diberi nama “Tropic Effect”. Yang mencerminkan manusia di iklim tropis ini sudah terlalu kebablasan merusak lingkungan dan hutan, seakan manusialah yang paling perkasa di bumi ini. Sebenanya maksud dari patung ini cukup baik, karena tujuannya mengingatkan bahwa manusia benar-benar sudah kelewatan merusak alam sekitar, akan tetapi suatu ormas baru akhir-akhir ini menolak adanya patung manusia akar dikarenakan menurut mereka patung manusia akar adalah perlambang kemusrikan, porno, cabul dan sebagainya. yang masih menjadi pertanyaan adalah patung itu sudah ada semenjak tahun 2011, kenapa baru didesak untuk dipermasalahkan sekarang (2014). Dan yang paling membuat warga jogja semakin tidak menghormati ormas ini adalah pertama posisi patung itu yang berada di jantung kota jogja (berada di daerah sekitar perempatan di ujung selatan jalan Malioboro), yang notabene jogja adalah kota yang memiliki beberagaman, kota penuh toleransi yang akhirnya dirusak oleh kepentingan satu golongan. Kedua, caranya yang dengan menteror pihak yang berwajib pada patung itu. Tidak hanya warga jogja yang beraneka ragam saja yang marah dengan perlakuan ormas tersebut, bahkan banyak orang yang kebetulan memeluk agama atau kepercayaan yang sama dengan agama yang di “agung-agung”kan oleh ormas tersebut juga naik pitam (saya memberi tanda kutip karena saya sendiri tidak yakin, apakah itu mengagungkan, memegang teguh, atau hanya sebatas menggunakan nama dari suatu agama sebagai suatu perlindungan). Dengan adanya kejadian itu kota Jogjakarta, kota penuh toleransi tercoreng oleh suatu “golongan”.

            Kejadian-kejadian serupa sering terjadi di Indonesiaku tercinta ini, tidah hanya dari ormas yang saya sebut diatas saja, banyak pihak selalu mengagungkan agamanya dan akhirnya malah menjatuhkan agama lain, atau suku, ras, bahkan golongan tertentu, yang mereka tidak sadari adalah bahwa perlakuan itu di Indonesia hanya akan memperburuk nama agama yang mereka pegang teguh (walau sepertinya tidak berlaku pada pemerintah). 

            Orang-orang yang mengatas namakan Tuhan dari suatu agama untuk melakukan tindak kekerasan, menjatuhkan nama baik siapapun, perusakan, dan lain sebagainya benar-benar tidak menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang diyakini di tiap agama maupun kepercayaan yang ada bukan hanya di Indonesia tercinta, tetapi juga di dunia bertujuan atau menginginkan atau mengajarkan KEDAMAIAN.

Lalu bagaimana caranya agar di Indonesia ini keberagaman tidak menghasilkan konflik? Pertanyaan ini lah yang sebenarnya sudah dicari jawabannya sejak lama tetapi tetap saja tidak ada perwujudan yang membawa perubahan yang signifikan pada rakyat Indonesia ini. Sebenarnya jawabannya sangat simple, yaitu toleransi, tetapi sangat sulit dilakukan. Selalu saja ada prasangka-prasangka yang membuat rasa ingin bertoleransi perlahan menghilang. Contohnya saja, jika anda membaca tulisan saya ini ormas apa yang terbayang oleh anda? Ya, sangat sulit bagi manusia “menyingkirkan” prasangka, tetapi sulit bukan berarti tidak bisa dan tidak boleh dicoba.

            Pernahkah anda membayangkan kalau pelangi hanya memiliki satu warna? Pernahkah anda membayangkan kalau semua nada hanya ada nada do? Pernahkah anda pembayangkan kalau alphabet hanya ada huruf A saja? Pelangi tidak akan indah jika tidak ada beragam warna didalamnya. sebuah musik yang indah tidak dapat tercipta dari sebuah nada saja. Kata-kata penuh makna tidak akan berarti bila semua hurufnya adalah A. dengan kata lain semua jawaban untuk menuju Indonesia yang beragam dan damai tanpa konflik ada dalam diri setiap warga Negara, tergantung pada kesadaran dan bagaimana mereka melihat keberagaman itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Wiloso, P. G., dkk, 2012, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Salatiga: FISKOM PERSS

http://ahmadgaus.wordpress.com/2012/11/06/toleransi-agama/

http://baltyra.com/2014/02/17/jogja-menangis-sebab-fpi-merobek-jantung-toleransi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme

https://www.google.com/search?q=pluralisme+di+indonesia&client=firefox-a&hs=gIZ&rls=org.mozilla:en-US:official&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=sroOU9T2BYSFrAflk4HAAw&ved=0CAkQ_AUoAQ#facrc=_&imgdii=_&imgrc=otrzYuE1G-WqaM%253A%3BZyS73OYdvYaGYM%3Bhttp%253A%252F%252Fdreamlandaulah.files.wordpress.com%252F2010%252F05%252Fadian_pluralisme-agama-b.jpg%3Bhttps%253A%252F%252Fdreamlandaulah.wordpress.com%252Ftag%252Fpluralisme%252Fpage%252F2%252F%3B250%3B329



Tema     : Pluralisme      /     Topik     : ancaman pada Pluralisme
 

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda