Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Kamis, 13 Maret 2014

Globalisasi Rugikan Indonesia US$ 1,9 Miliar Per Tahun



Oleh : Naomi Friska Aritonang / 602012001/ MD302B
602012001@student.uksw.edu
TEMPO Interaktif, Jakarta:Globalisasi tidak serta merta memberikan keuntungan bagi suatu negara. Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Carunia Mulya Firdausy, globalisasi ekonomi melalui pengurangan tarif dan subsidi sebesar 30 persen justru merugikan Indonesia hingga US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun per tahun.

Globalisasi ekonomi ini buat Indonesia bagaikan buah simalakama. tidak dimakan ayah mati, dimakan ibu yang mati,” tuturnya saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam seminar Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, apa yang terjadi di Indonesia berbeda jauh dengan negara di Asia lainnya, seperti Cina yang bisa mengeruk keuntungan dari globalisasi hingga US$ 37 miliar atau Rp 333 triliun per tahun.

Kontribusi ekspor Indonesia ke kawasan Asia Timur cenderung terus naik dari 9,9 persen pada 1985 menjadi 27,2 pada 2003. Namun, menurut Carunia, kenaikan angka itu masih lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi impor dari negara-negara kawasan Asia Timur ke Indonesia, yaitu dari 13,8 persen pada 1985 menjadi 37,3 persen pada 2003.

"Artinya, akibat globalisasi, ketergantungan impor kita justru semakin tinggi," kata Carunia.

Lebih lanjut dia memaparkan, penyebab itu lantaran Indonesia gagal memanfaatkan peluang globalisasi dengan meningkatkan total factory productivity (TFP). Kecenderungannya, menurut dia, Indonesia lebih mendorong pertumbuhannya dengan ekspor produk mentah dari pada produk manufaktur (olahan).

Carunia menambahkan, produktifitas total pabrik itu merupakan faktor mutlak untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan. Hal ini karena dengan tingginya faktor TFP maka dapat diperoleh produktifitas dan efisiensi teknis yang tinggi bagi peningkatan TFP.

Salah satu faktor produksi yang dapat mendorong tingginya kontribusi TFP adalah peningkatan pasokan dan kemampuan teknologi nasional. Carunia pun menyarankan, paradigma pembangunan yang hanya difokuskan pada penggunaan sumber daya alam yang besar harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penggunaan teknologi tinggi yang memadahi.

"Pembangunan yang berorientasi pada knowledge based economy sangat penting bagi kelangsungan pembangunan nasional yang kuat dan berkesinambungan," tuturnya.

ANALISIS :
·         Adanya Globalisasi sebenarnya membawa keuntungan sekaligus kerugian bagi masyarakat, terkhususnya masyarakat Indonesia. Maka dari itu pernyataan dari kalimat diatas bahwa Globalisasi itu seperti buah simalakama tersebut adalah benar.

Jika kita mengikuti Globalisasi, maka otomatis lama kelamaan budaya kita sedikit demi sedikit akan terkikis dan akan mengikuti arus globalisasi tersebut. Sedangkan jika kita tidak mengikuti globalisasi, maka negara kita akan tertinggal dari arus globalisasi dan tidak bisa mengikuti perkembangan negara lain di segala bidang.
Akibat dari globalisasi di atas menyebutkan bahwa ketergantungan impor di Indonesia semakin tinggi, kita kehilangan budaya bercocok tanam secara perlahan karena pemerintah lebih memilih untuk meng-impor segala sesuatu dari luar karena berfikir yang ada di luar lebih baik dari apa yang kita punya. 

Dan dapat dilihat, Indonesia juga gagal dalam memanfaatkan arus globalisasi.  Seharusnya dalam dunia globalisasi, kita Indonesia bisa ikut dalam berpartisipasi memajukan nama negara kita dengan ikut mempromosikan keunggulan dari negara kita, contohnya kebudayaan, hasil alam, dll. Kita Indonesia ini kaya, tetapi mengapa kita harus impor barang-barang dari luar dan lebih membangga-banggakan apa yang ada diluar sana.

Seharusnya kita bisa memanfaatkan apa yang ada di Indonesia dari pada membeli dari luar. Budaya ingin segala sesuatu instan itulah yang membuat negara kita jatuh dalam dunia globalisasi. Negara kita hanya bisa menjadi pengikut saja, dan tidak bisa menciptakan sesuatu hal yang baru. Gunakanlah sumberdaya alam yang kita miliki dan gunakan sumberdaya manusia yang ada dengan maksimal. Karena pembangunan yang berorientasi pada knowledge based economy sangatlah penting bagi pembangunan negara bersama.

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda