Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Selasa, 18 Maret 2014

KEBUDAYAAN SEKATEN DI SURAKARTA




Oleh : Andre Bagus PA / 672012082 / MD302A
Email : Bagusandre73@gmail.com




A. Pendahuluan
F
olkloradalah bagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam tulisan maupun dengan contoh yang disertai dengan gerakan isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja,1997: 2). Folklor juga mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, yaitu sebagai alat pendidik, pelipur lara, dan proyeksi keinginan masyarakat pemiliknya. 

Dalam perkembangannya, cerita yang melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dalam jangka waktu yang relatif lama tentu akan mengalami perubahan, penambahan, dan pengurangan. Begitu pula dengan bentuk permukaan luar pelaksanaan upacara akan mengalami perubahan dan pergeseran dengan tetap menjaga nilai, tujuan, maupun kesakralannya. Salah satu penyebabnya adalah penyebaran cerita yang dilakukan secara lisan, dituturkan dari satu orang ke orang yang lain, turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Padahal manusia mempunyai daya ingat dan kemampuan yang terbatas. Untuk itu, pendokumentasian terhadap cerita rakyat yang mencakup latar belakang dan sejarah perkembangan Upacara Tradisi Sekaten perlu dilakukan agar tidak hilang dan mengalami kepudaran. 

Cerita rakyat diadakannya perayaan Sekaten di Surakarta merupakan cerita rakyat milik bersama atau umum bagi para pendukung cerita tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya antusias masyarakat yang masih merayakan dengan khidmad selama satu minggu dalam mengikuti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adanya kekayaan sastra tersebut dapat dipergunakan sebagai modal apresiasi sastra, sebab sastra lisan dapat membimbing masyarakat ke arah pemahaman, gagasan, dan peristiwa berdasarkan praktik yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad.

Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan sesamanya. Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasunanan Surakarta sekarang ini masih memiliki beranekaragam hasil kebudayaan. Hal tersebut masih tercermin dengan dilakukannya beberapa upacara tradisional, di antaranya: upacara jamasan pusaka, sekaten, upacara labuhan, upacara garebeg besar, sesaji mahesa, lawung, dan lain sebagainya. Upacara tradisional tersebut masih terpelihara dengan baik.

Keraton Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan Islam. Dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul pembawa ajaran Islam di muka bumi, sehingga hari kelahiran beliau diperingati oleh umat Islam, karena Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kebenaran. Selain itu dalam ajaran Islam disebutkan bahwa orang harus selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Keraton Kasunanan Surakarta mengemasnya dalam bentuk upacara tradisional. Salah satu budaya tradisional yang hingga saat ini tetap dipertahankan keberadaannya adalah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada dasarnya upacara tradisi ini merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut sebagai wujud rasa syukur tersebut diadakan setiap tahun sekali dalam penyelenggaraan Sekaten. Perayaan Sekaten ini diadakan setiap 12 Mulud atau 12 Rabiul Awal.

Pada zaman dahulu orang Jawa menyukai gamelan, maka pada saat hari raya Islam itu di dalam masjid diadakan penabuhan gamelan, agar orang-orang menjadi tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran tentang agama Islam. Untuk keperluan itu para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamai Kyai Sekati. Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali lainnya yaitu pada hari lahir Nabi Muhammad SAW dalam masjid dipukul gamelan. Ternyata banyak orang datang ke masjid untuk mendengarkan gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) yang dibunyikan mulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore di Pendopo Masjid Agung. Dan pada puncak acaranya tepat tanggal 12 Rabiul Awal diadakan Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan (kakung dan putri) yang bermakna keselamatan dan pembawa berkah.

Upacara Tradisi Sekaten sebagai aset budaya daerah yang sampai sekarang masih diperingati oleh sebagian besar masyarakat Surakarta, mempunyai cerita rakyat yang melatarbelakangi penyelenggaraannya. Cerita rakyat yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta terbentuk dari unsur-unsur intrinsik yang mengandung nilai budaya dan dibangun oleh konteks masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat tersebut perlu adanya penyebarluasan serta pendokumentasian agar kemurnian cerita aslinya tidak punah.

Kajian mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah memang sudah sering dilakukan, tetapi setiap masyarakat memiliki keanekaragaman cerita rakyat sendiri yang berbeda dengan cerita rakyat masyarakat lainnya. Kajian Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan keanekaragaman cerita rakyat yang dimiliki masyarakat Indonesia pada umumnya dan cerita rakyat daerah untuk memperkaya kebudayaan nasional, sampai kapan pun kajian cerita rakyat dari berbagai daerah di tanah air Indonesia akan tetap dilakukan. Upaya pelestarian budaya ini diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan memiliki budaya nasional. Sehingga pewarisan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita tersebut dapat menanamkan nilai budi pekerti sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

Upacara Tradisi Sekaten

G.P.H. Puger dalam bukunya Sekaten,menjelaskan tentang asal mula dan maksud perayaan yang diadakan tiap-tiap tahun baik di Surakarta maupun di Yogyakarta. Asal mula Sekaten dimulai pada jaman Demak, jaman mulainya kerajaan Islam di tanah Jawa. Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya dalam menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa pada waktu itu menyukai gamelan, maka pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung dipukul gamelan, sehingga orang berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan pidato-pidato tentang agama Islam.

Menurut Supanto (1982: 6), upacara tradisional sebagai pranata sosial penuh dengan simbol-simbol yang berperanan sebagai alat komunikasi antar sesama warga masyarakat, dan juga merupakan penghubung antar dunia nyata dengan dunia gaib. Bagi para warga yang ikut berperan serta dalam penyelenggaraan upacara tradisional, unsur-unsur yang berasal dari dunia gaib menjadi nampak nyata melalui pemahamannya terhadap simbol-simbol tersebut. Upacara tradisional biasanya diadakan dalam waktu-waktu tertentu. Ini berarti menyampaikan pesan yang mengandung nilai-nilai kehidupan itu harus diulang-ulang terus, demi terjaminnya kepatuhan para warga masyarakat terhadap pranata-pranata sosial yang berlaku.

Salah satu bentuk tradisi yang masih dipertahankan ialah Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain” yaitu kalimat syahadat yang merupakan suatu kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten selain berasal dari kata syahadatain juga berasal dari kata : (1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng; (2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan; (3) Sakhotain : menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan; (4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk; (5) Sekat : batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.(K.R.T. Haji Handipaningrat : 3).

Nilai Simbolis

Kata simbol berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta (2003: 654), simbol atau lambang ialah sesuatu seperti tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya warna putih ialah lambang kesucian, gambar padi sebagai kemakmuran.

Nilai merupakan sesuatu yang dikaitkan dengan kebaikan, kebajikan, dan keluhuran. Nilai merupakan sesuatu yang selalu dihargai, dijunjung tinggi, dan selalu disejajarkan oleh manusia dalam memperoleh kebahagiaan hidup. Dengan nilai manusia dapat merasakan kepuasan, baik lahir maupun batin. Dengan nilai pula manusia akan mampu menentukan sikap, cara berpikir, maupun cara bertindak demi mencapai tujuan hidupnya. 

The Liang Gie (dalam Sutarjo, 1998: 8), mendefinisikan nilai sebagai suatu cita-cita, dan cita-cita mutlak yang terkenal dalam filsafat adalah hal yang benar, hal yang baik dan hal yang indah. Pengertian nilai secara sempit sering diasosiasikan sebagai etika tradisisonal yang ruang lingkupnya berkisar kepada kesejajaran antara yang baik dan yang buruk. Nilai adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman, tuntutan yang baik dalam kehidupan masyarakat. Nilai berfungsi sebagai pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian, nilai dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan yang diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.

Kebudayaan terdiri dari gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai sebagai hasil karya dan perilaku manusia. Begitu erat kebudayaan manusia dengan simbol-simbol, maka tidak berlebihan bila manusia tersebut sebagai makhluk bersimbol. Dunia kebudayaan adalah dunia penuh simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis. Ungkapan-ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia, yang jelas membedakannya dari hewan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia tidak pernah bisa melihat, menemukan, dan mengenal dunia secara langsung tetapi melalui simbol-simbol (Herusatoto, 1987: 10)

Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat. Simbolisme ini terlihat dalam upacara-upacara adat yang merupakan warisan turun-temurun dari generasi yang tua ke generasi berikutnya yang lebih muda. Kata simbol berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 1987 : 10). Sejalan dengan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anton Moeliono,1996 : 630), bahwa “simbol atau lambang ialah : (1) sesuatu seperti tanda (lukisan,lencana, dan sebagainya) yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu, misalnya gambar tunas kelapa lambang pramuka, warna biru lambang kesetiaan; (2) simbol bisa berarti tanda pengenal tetap yang menyatakan sifat, keadaan, dan sebagainya, seperti peci putih dan serban ialah lambang haji.”

Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional pada dasarnya upaya pendekatan manusia kepada Tuhannya, yang menciptakan, menurunkannya ke dunia, memelihara hidup, dan menentukan kematian manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa simbolisme dalam masyarakat tradisional disamping membawakan pesan-pesan kepada generasi berikutnya juga selalu dilaksanakan dalam kaitannya dalam religi (Herusatoto, 1987 : 30-31). Unsur unsur dari kebudayaan yang paling menonjolkan sistem klasifikasi simbolik orang Jawa menurut Koentjaraningrat adalah bahasa dan komunikasi, kesenian dan kasusasteraan, keyakinan keagamaan, ritual, ilmu gaib serta beberapa pranata dalam organisasi sosialnya. (1984: 428).

Prosesi upacara Tradisi Sekaten 


 




Upacara Tradisi Sekaten merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang masih dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang. Upacara ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kelurahan Baluwarti pada khususnya dan masyarakat Surakarta pada umumnya. Pelaksanaan upacara ini hingga sekarang masih tetap dilaksanakan setiap tahunnya. Upacara Tradisi Sekaten merupakan suatu peristiwa tradisional yang sangat populer serta senantiasa menarik perhatian puluhan ribu pengunjung, tidak saja datang dari daerah sekitar Keraton Kasunanan Surakarta akan tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Walimin selaku abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta, bahwa pengunjung tidak hanya berasal dari kota surakarta saja, namun daerah di sekitarnya seperti Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten. Bahkan akhir-akhir ini perayaan sekaten juga menarik perhatian banyak wisatawan dan orang asing. Namun meski demikian sangat disayangkan bahwa lama kelamaan perkembangannya menjadi seperti keramaian biasa, sebab para pengunjungnya kebanyakan sudah lupa atau sama sekali tidak mengerti akan arti yang sesungguhnya dari perayaan sekaten tersebut. Adapun waktu pelaksanaannya bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12 Rabiul Awal. Atau dalam perhitungan Jawa jatuh pada tanggal 5 sampai dengan 12 Mulud. G.P.H. Puger menjelaskan, bahwa upacara ini merupakan momentum sebagai wilujengan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas segala limpahan nikmat dan karunia yang diberikan. Untuk tahun 2006, pelaksanaan Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta jatuh pada bulan Mulud, tanggal 02 April 2006 tepatnya pada Minggu Wage.

Perayaan sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal dan berakhir dengan Garebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal yang ditandai dengan keluarnya gunungan. Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai jenis makanan dan sayuran yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung.
Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal, diawali dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan jaman Demak dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk membunyikan gamelan, yaitu pada pukul empat sore. Dua buah gamelan tersebut bernama Kyai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid. Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV, yaitu tahun 1718 Saka yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Gamelan yang lainnya bernama Kyai Guntur Sari, berada di sebelah utara dan melambangkan syahadat Rosul. Kyai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo pada tahun 1566 Saka. Selama perayaan sekaten selama satu minggu, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh secara bergantian.

Pada tanggal 5 Rabiul Awal tersebut, sebagai awal perayaan sekaten, yang lebih dulu ditabuh adalah Kyai Guntur Madu dengan memperdengarkan gending Rambu. Rambu berasal dari bahasa Arab ‘Robbuna’ yang berarti Allah Tuhanku. Rambu mengisyaratkan gending yang ditabuh khusus untuk penghormatan kepada Tuhan. Sedangkan Kyai Guntur Sari memperdengarkan gending “Rangkung” yang berasal dari bahasa Arab “Roukhun” yang berarti jiwa besar atau jiwa yang agung. Rangkung menurut etimologi atau lebih tepatnya kerata basa atau jarwa dhasaknya berasal dari kata ‘barang kakung’ yang menginterpretasikan pada seorang Nabi, Khalifah, dan Raja-Raja Mataram yang kesemuanya laki-laki. Sedangkan menurut G.P.H. Puger berpendapat bahwa gending-gending yang pertama dibunyikan, Rambu dan Rangkung adalah nama dua jin Islam yang berbincang dan sangat setuju atas usaha yang dilakukan Wali songo dalam penyebaran agama Islam melalui media gamelan.





Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang, sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan gamelan dipukul pertama kalinya. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Namun G.P.H. Puger menanggapi mitos tersebut dengan pemikiran yang logis. Diungkapkannya bahwa pernyataan mitos yang sangat dipercaya masyarakat tersebut menandakan pada jaman dahulu sudah dikenal adanya ilmu kesehatan. Terbukti bahwa masyarakat dianjurkan makan sirih yang mempunyai banyak fungsi untuk kesehatan tubuh. Karena kandungan sirih tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit, menyehatkan gigi, berfungsi dalam pencernaan, dan akan menyegarkan badan. Selain itu banyak kita jumpai jika musim sekaten tiba di areal halaman Masjid Agung akan dipenuhi oleh penjual yang ikut meramaikan perayaan sekaten dengan menjual berbagai makanan ataupun berbagai barang khas dari sekaten, seperti misal telur asin, jenang, sirih, pecut, dan mainan anak-anak.

Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 12 malam. Bila perayaan sekaten jatuh pada hari Jumat, gamelan tidak dibunyikan mulai Maghrib sampai siang, karena hari Jumat merupakan hari mulia bagi orang Islam. Gamelan tersebut berhenti pada waktu-waktu sholat karena memberikan kesempatan kepada penabuh gamelan itu sendiri maupun bagi masyarakat yang mendengarkannya untuk menjalankan kewajiban sholat. Sehingga fungsi perayaan sekaten sebagai syiar Islam tetap terpelihara.


DAFTAR PUSTAKA
Anton Moeliono (penyunting). 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
________________________. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Padang : Angkasa Raya.
B. Rahmanto.1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
B. Soelarto. 1993. Garebeg di Kasultanan Yogyakarta. Jakarta: Kanius.
akarta: Kanisius.
Serat Kabar Sedyatama. 1865. Babad Sekaten: Karaton Kasunanan Surakarta.
 

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda