Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Senin, 03 Maret 2014

Tanah Minahasa dan Kekayaan daerahnya



Oleh : Rimma Ollyvia Boseke / 802009079 / MD302A


Minahasa adalah salah satu dari sekian  banyak suku yang ada di Indonesia. Adat dan istiadat suku Minahasa tidak kalah beragamnya dengan suku-suku lain yang ada di negara ini. Minahasa adalah suku asli yang ada di pulau Sulawesi (Celebes) tepatnya di Sulawesi Utara. Tanah Minahasa memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Selain itu, Minahasa mendapat julukan kota Nyiur Melambai karena banyak ditumbuhi pohon kelapa. Tanah yang subur dan penuh dengan keindahan ini membuat semua mata yang melihat akan terasa dimanjakan karena dipenuhi dengan dedaunan hijau dari pohon  kelapa dan cengkeh yang menjadi kekayaan orang minahasa. 

Minahasa kaya akan adat istiadat, budaya dan bahasa daerah yang digunakan oleh delapan etnis yang ada di minahasa seperti Toutemboan, toulour, toumbulu, toudano tonsea dan lain-lain. Orang Minahasa memiliki sifat organisasi yang baik karena orang-orang Minahasa memiliki satu prinsip hidup yang membuat orang Minahasa menjadi satu kesatuan yaitu melalui Mapalus. Mapalus merupakan satu tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang orang Minahasa yang berarti saling menolong, mendukung dan membantu serta bergotong-royong dalam mengerjakan segala sesuatu. Budaya Mapalus menjadi satu prinsip ddan nilai plus yang dimiliki oleh orang Minahasa. Melalui konsep Mapalus ini kemudian lahirlah satu falsafah dasar orang Minahasa yaitu SI TOU TIMOU TUMOU TOU (orang hidup untuk menghidupkan). Berdasarkan falsafah/prinsip dasar inilah orang Minahasa dapat menjalin hubungan kekerabatan yang erat dimanapun berada. Falsafah ini yang mengikat orang Minahasa menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahkan dimanapun mereka berada. Contohnya : orang-orang Minahasa yang tinggal di Luar Negri ataupun di tempat perantauan  membentuk “Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK)” misalnya: KKK USA, KKK Holland, KKK Sedunia, KKK SEJABODETABEK, dan lain sebagainya. Falsafah orang Minahasa yang membuat semua orang Minahasa (kawanua) menjadi semakin erat dan tak terpisahkan. 

Selain memiliki Falsafah/Prinsip yang luar biasa, Minahasa memiliki banyak kekayaan  daerah lainya seperti Kesenian dan Musik. Kesenian Minahasa adalah karya orang Minahasa untuk memenuhi hasratnya akan keindahan dan rasa senang meliputi: Seni suara, seni tari, seni musik, seni sastra, seni ukir, seni patung, seni bangunan, seni gambar, kerajinan, hiasan, busana dan masakan(Wenas, 2007). 

Tarian maengket adalah salah satu dari tarian daerah sulawesi utara yang sampai saat ini di jaga kebudayaannya. Tarian maengket adalah tarian tradisional suku Minahasa yang mengisahkan rasa syukur orang-orang minahasa kepada Tuhan Yang Maha Esa akan hasil pertanian yang berlimpah yang diberikan kepada orang minahasa. Dahulu tarian Maengket ini hanya dilakukan pada waktu panen hasil pertanian, tetapi pada zaman sekarang ini tarian maengket menjadi khas dari Sulawesi Utara dan dipertontonkan untuk acara-acara besar, pesta atau penyambutan tamu. Disetiap sekolah dari sekolah dasar (SD) sampai Sekolah Menengah  Atas  (SMA) memiliki satu kelompok tari Maengket. Dua kali dalam setahun tarian maengket ini di lombakan, biasanya pada HUT Provinsi atau Kota dan pada HUT RI (17 Agustus). Setiap sekolah mengambil peranan untuk mengikuti lomba ini. Oktober tahun 2013 yang lalu tarian Maengket di lombakan dalam rangka pertemuan Kerukunan Keluarga Kawanua Sedunia yang diadakan di Jakarta dan di ikuti oleh beberapa rumpun (kelompok). Tarian Maengket ini menjadi icon Sulawesi Utara. Dalam tarian maengket ini terdiri dari 3 babak(tahap) yaitu Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan.
Tarian Maengket

Selain tarian maengket, ada juga tarian katrili yang merupakan tarian yang berasal dari Spanyol. Tarian ini masuk ke suku Minahasa pada saat bangsa Spanyol masuk ke Sulawesi Utara untuk membeli hasil bumi. Tarian ini dilakukan oleh beberapa pasang orang dengan irama musik yang dibarengi dengan aba-aba. Tahun 90an tarian ini menjadi tarian yang sering dilakukan dalam acara ppesta pernikahan, bahkan sampai sekarang ini masih sering di lakukan pada pesta pernikahan orang-orang Minahasa walaupun melangsungkan pernikahan di luar Minahasa.  
 
Tarian Katrili

Selanjutnya, Tarian Cakalele atau yang disebut tarian Kabasaran. Tarian ini merupakan tarian tradisional yang digunakan oleh orang-orang Minahasa pada zaman dahulu untuk mempertahankan negerinya yaitu Minahasa dari orang-orang yang ingin merebut dan menguasai Minahasa. Tarian ini merupakan tarian perang yang menggunakan tombak dan pedang sebagai alat utama yang dipakai untuk melawan musuh dalam medan peperangan. Tarian kabasaran ini juga seing di lakukan pada saat menerima tamu negara atau turis asing, pawai budaya, juga untuk acara adat (misalnya pemindahan waruga).
Tarian Cakalele atau yang disebut tarian Kabasaran.

Selain tarian, Minahasa juga  memiliki darah kesenian dalam bidang musik seperti Musik bambu dan Kolintang. Musik bambu adalah kesenian yang khas dan hanya ada di tanah Minahasa. Sesuai dengan namanya, alat musik ini terbuat dari bambu. Pemain musik bambu ini terdiri dari 40 orang. Sebelum musik populer merajalela dan menguasai Minahasa, musik bambu menjadi alat musik yang digunakan untuk menyemarakkan pesta pernikahan. Tapi, sangat disayangkan musik bambu di tanah Minahasa sudah mulai pudar karena dipengaruhi oleh musik-musik pop. Sekarang ini saya sudah jarang sekali menemui acara-acara yang menggunakan musik bambu. Sangat amat disayangkan juga jika warisan budaya ini hilang. Kolintang merupakan alat musik  dari Sulawesi Utara, khususnya Minahasa. Satu tahun belakangan ini ada satu lembaga kebudayaan Sulawesi Utara yang berkantor di Jakarta sedang berusaha menyelamatkan budaya musik kolintang dan memperkenalkan Kolintang di dunia.
Bukan hanya kaya akan kesenian, tetapi Minahasa memiliki tempat-tempat yang menjadi tempat pariwisata yang memperlihatkan  keindahan batu-batu megalit. Batu-batu ini hanya bisa i temui  di tanah Minahasa.
1.       WARUGA
Waruga adalah merupakan kuburan batu yang berbentuk kubus. Dalam kuburan batu ini posisi mayatnya tidak seperti mayat-mayat yang lain yang ditelentangkan, tetapi mayatnya dibuat seperti berjongkok.
Kubur batu Waruga

2.       Watu Pinawetengan
Watu dalam bahasa indonesia adalah batu. Saya pernah mendengar bahwa watu pinawetengan ini menjadi tempat pertemuan antara opo-opo (roh leluhur orang Minahasa) dengan para Tonaas (mediator). Batu yang ada di situ dijadikan tempat untuk ibadah. Menurut sejarah, watu pinawetengan adalah tempat para pemuka agama dan leluhur (nenek moyang orang Minahasa) bertemu dan membicarakan suatu keseppakatan untuk membagi Minahasa menjadi beberapa bagian dengan beberapa etnis. Oleh karena itu tempat itu dinamakan “Watu Pinawetengan (watu = batu, pinawetengan = pembagian)”. Orang-orang yang datang ke  watu pinawetengan biasanya adalah orang-orang yang punya permohonan dan orang-orang yang ingin sembuh dari penyakit yang sudah lama mereka derita. Orang-orang yang mengunjungi watu pinawetengan bukan hanya orang yang menginginnkan kesembuhan atas penyakit mereka tapi ada juga yang menginginkan supaya terbebas dari marabahaya. Untuk meminta kesembuhan dan perlindungan orang-orang harus mengikuti upacara atau ritual yang dipimpin oleh tonaas yang dipercaya dapat menjadi mediator antara Opo (roh nenek moyang) dengan orang-orang yang ingin sembuh. Saya pernah menyaksikan secara langsung bagaimana ritual meminta kesembuhan. Sekitar 14 tahun yang lalu, saya dan keluarga besar saya pergi berkunjung ke Watu Pinawetangan dengan maksud mengantarkan paman saya yang sudah bertahun-tahun sakit dan tidak kunjung sembuh. Obat-obat medis pun sudah tidak bisa di harapkan, akhirnya dengan usulan tonaas yang ada di daerah rumah saya menyarankan untuk meminta kesembuhan pada Opo (roh nenek moyang) di watu pinawetengan. Akhirnya, keluarga besar pun menuruti saran dari sang tonaas. Dengan membawa beberapa perlengkapan kami menuju ke Watu pinawetengan yang berada diatas bukit. Pada saat melakukan ritual, tonaas meminta ijin terlebih dahulu pada arwah sang leluhur, setelah itu pasien (orang yang sakit) dan keluarga harus mengelilingi batu itu kurang lebih tujuh kali putaran dengan membisikkan kata-kata yang sudah di sampaikan oleh tonaas, kemudian setelah itu berdoa minta kesembuhan. Setelah berdoa, orang yang sakit itu digiring dan dibawa ke tempat mata air yang dekat dengan batu itu dan dimandikan.
Lokasi tempat keberadaan Watu Pinawetengan
Watu Pinawetengan


Hubungan kekerabatan yang erat dan proses hidup orang Minahasa yang saling bahu-membahu dan tolong menolong membuat satu kesatuan utuh yang tercipta antar sesama. Inilah sedikit tentang Minahasa dan kebudayaan yang dimiliki. Minahasa adalah tanah yang kaya akan banyak hal.  Ini hanyalah sedikit dari banyaknya budaya di Minahasa.


Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda