Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Minggu, 02 Maret 2014

KEBUDAYAAN DARI PROVINSI LAMPUNG

Oleh :  Livia Ratri M.S. (802012099)- ISBD- MD302A
liviaratri@ymail.com

Provinsi Lampung yang beribukotakan Bandarlampung adalah sebuah provinsi paling ujung bagian selatan di Pulau Sumatra, Indonesia. Di sebelah utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatra Selatan. Provinsi Lampung memiliki luas 35.376,50 km² dan terletak di antara 105°45′-103°48′ BT dan 3°45′-6°45′ LS. Daerah ini di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah timur dengan Laut Jawa. Beberapa pulau termasuk dalam wilayah Provinsi Lampung, yang sebagian besar terletak di Teluk Lampung, di antaranya: Pulau Darot, Pulau Legundi, Pulau Tegal, Pulau Sebuku, Pulau Ketagian, Pulau Sebesi, Pulau Poahawang, Pulau Krakatau, Pulau Putus, dan Pulau Tabuan. Ada juga Pulau Tampang dan Pulau Pisang di yang masuk ke wilayah Kabupaten Lampung Barat.

Keadaan alam Lampung, di sebelah barat dan selatan, di sepanjang pantai merupakan daerah yang berbukit-bukit sebagai sambungan dari jalur Bukit Barisan di Pulau Sumatera. Di tengah-tengah merupakan dataran rendah. Sedangkan ke dekat pantai di sebelah timur, di sepanjang tepi Laut Jawa terus ke utara, merupakan perairan yang luas.

Pada zaman Hindia Belanda status Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung termasuk wilayah Onder Afdeling Telukbetung, sedangkan pada zaman pendudukan Jepang dibawah pimpinan seorang Siho (bangsa Jepang), dibantu oleh seorang Fuku Siho (bangsa Indonesia). Sejak kemerdekaan Indonesia hingga awal tahun 1980-an Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung memiliki status kota kecil yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Lampung Selatan dengan sebutan Kota Tanjungkarang-Telukbetung. Setelah mengalami beberapa kali perubahan nama dan akhirnya Provinsi Lampung diresmikan pada 18 Maret 1964, yang memiliki 12 kabupaten dan 2 kota yaitu:

No.
Kabupaten/Kota
Pusat Pemerintahan
Kecamatan
1.
Kab. Lampung Barat
Kota Liwa
17
2.
Kab. Lampung Selatan
Kalianda (Kota)
17
3.
Kab. Lampung Tengah
Gunung Sugih
26
4.
Kab. Lampung Timur
Sukadana
23
5.
Kab. Lampung Utara
Kotabumi
23
6.
Kab. Mesuji
-
7
7.
Kab. Pesawaran
Gedong Tataan
7
8.
Kab. Pringsewu
Kota Pringsewu
8
9.
Kab. Tanggamus
Kota Agung
16
10.
Kab. Tulang Bawang
Menggala
6
11.
Kab. Tulang Bawang Barat
Tulang Bawang Tengah
8
12.
Kab. Way Kanan
Blambangan Umpu
14
13.
Kota Bandar Lampung
-
13
14.
Kota Metro
-
5

Lampung memiliki pelabuhan utama yang bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni. Bandaranya terletak di Lampung Selatan yang dulu dikenal dengan nama Bandara Branti berubah nama menjadi Bandara Radin Inten II.
Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.

Lampung memiliki logo atau lambang sebagai berikut:

Arti dari lambang Provinsi Lampung:
PERISAI
1. Dasar Lambang bersudut lima. Kesanggupan mempertahankan cita-cita dan membina pembangunan rumah tangga yang didiami oleh dua unsur golongan masyarakat untuk mencapai masyarkat makmur dan adil berdasarkan Pancasila.
2. Warna Dasar Perisai
a. Hijau : Menunjukkan daerah dataran tinggi yang subur untuk tanaman musim
b. Coklat : Menunjukkan daerah dataran rendah yang subur untuk sawah dan lading
c. Biru : Menunjukkan kekayaan sungai dan lautan yang merupakan sumber perikanan dan kehidupan para nelayan
3. Warna Tepi Perisai
Kuning emas : Tanda kebesaran cita masyarakat Lampung untuk membangun daerah dan negaranya.


2. PITA SANG BUMI RUWA JURAI

1. Bentuk Pita
a. Dilihat dari bawah merupakan pintu gerbang masuk ke daerah Lampung yang subur serta makmur.
b. Dilihat dari atas merupakan wadah pebangunan yang berintikan pertanian lada dan padi oleh masyarakat yang kaya budaya.
2. Warna Putih
a. Putih jernih melambangkan kesucian dan keikhlasan hati masyarakat.
b. Pita putih berarti pula suatu hamparan kain putih yang biasa dipakai masyarakat adat untuk menyambut para tamu terhormat.
3. Arti Tulisan
a. Sang Bumi : Rumah tangga agung yang luas berbilik-bilik
b. Ruwa Jurai : Dua unsur golongan masyarakat yang berdiam di wilayah Propinsi Lampung.
4. Arti Ruwa Jurai
a. Linguistik Cultruil : terdiri dari dua unsur keturunan asal yang tergolong dalam:
1) Masyarakat Lampung yang berbahasa “O”
2) Masyarakat Lampung yang berbahasa “A”
b. Sosiologis : terdiri dari dua unsur golongan masyarakat yang terdapat sekarang
1) Masyarakat Lampung Asli
2) Masyarakat Lampung Migrasi

3. AKSARA LAMPUNG
1. Bunyi Aksara : Lampung
2. Asal Kata :
a. Legende : berasal dari nama Poyang si LAMPUNG keturunan Dewa SENEMBAHAN DAN NEIDODARI SINUHUN yang dikatakan saudara, SI JAWA ratu Mojopahit dan SI PASUNDAYANG Ratu Pejajaran dari SI LAMPUNG adalah Ratu DIBALAU.
b. Berasal dari kata TOLANG P’OH WANG (Tulang Bawang), nama negara yang pernah ada di daerah ini semasa Dinasti Han. Kata-kata itu merupakan rangkaian kata To (orang), Lang P’ohwang (Lampung).

4. DAUN DAN BUAH LADA

a. Daun Lada : 17 buah, dan buah lada 8.
b. Lada merupakan produksi utama penduduk asli sejak dahulu, sehingga Lampung dikenal bangsa-bangsa Asia abad ke-7 dan bangsa-bangsa barat pada abad ke-15.
c. Biji Lada : 64 menunjukkan bahwa terbentuknya Dati I Lampung 1964.

5. SETANGKAI PADI

a. Buah padi 45
b. Padi merupakan produksi utama penduduk sejak permulaan abad ke-20 (1905), sehingga karena kedua hasil produksi laba dan padi tersebut, maka terjadilah kehidupan bersama saling mengisi antara kedua unsur golongan masyarakat sampai terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang.

6. LADUK
1. Golongan rakyat serba guna
2. Dapat dipergunakan untuk pertanian, alat rumah tangga dan dapat pula dipergunakan untuk membela diri.

7. PAYAN
1. Tumbak pusaka tradisional
2. Merupakan lambing budaya ksatria dan bila perlu dipakai untuk mempertahankan kehormatan keluarga serta negara dari ancaman musuh.
GUNG
1. Warna gung kuning tua (kuningan)
2. Arti gung : Perlambang keagungan seni budaya asli.
3. Fungsi gung:
a. Sebagai alat inti seni budaya (tabuhan)
b. Sebagai tanda pemberitahuan karya besar dimulai
c. Sebagai alat penghimpun masyarakat untuk bermusyawarah
4. Lingkaran Gung:
a. Lingkaran besar berarti himpunan masyarakat ruwa jurai serta asal usulnya.
b. Lingkaran kecil berarti pemimpin (pemerintah) yang mengeratkan hubungan kerjasama antara yang dipimpin dan yang memimpin.

8. SIGER
1. Warna Siger : Kuning emas
2. Arti Siger : Mahkota perlambang adat budaya dan dan tingkat kehidupan terhormat.
3. Kandungan Bentuk :
a. Siger pada suku Lampung yang beradatkan saibatin memiliki lekuk tujuh dan dengan hiasan batang/pohon sekala di masing-masing lekuknya, ini memiki makna ada tujuh adok/gelar pada masyarakat pesisir yaitu Suttan/dalom, Raja jukuan/dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas/inton, gelar/adok ini hanya dapat digunakan oleh keturunan lurus saja, dengan kata lain masih kental dengan nuansa kerajaan, dimana kalau bukan anak raja dia tidak berhak menggunakan gelar/adok raja begitu juga dengan gelar/adok lainnya.
b. Siger pepadun memiliki lekuk Sembilan yang berartikan ada Sembilan Marga yang bersatu membentuk Abung Siwo Megou. Tapi bentuk dari siger pepadun sangat mirip dengan buah sekala, hal ini pun bukan mustahil dikarenakan kerajaan sekala bekhak merupakan cikal bakal ulun lampung, dan proses terbentuknya abung siwo megou merupakan penyebaran orang lampung dari dataran tinggi Sekala Bekhak di Gunung Pesagi.
Di dalam bidang siger terdapat Bunga Melur (melati 4 buah, tiap bunga mempunyai 4 daun bunga yang berkelopak 5).
4. Dengan pengertian sebagai berikut:
a. Kuntum Bunga : yaitu 4 paksi asal Sekala Berak yang terdiri dari kekuasaan paksi:
1) Umpu Perenong
2) Umpu Belenguh
3) Umpu Bejalan di way
4) Umpu Nyerupa
5. Kelompok Daun Bunga:
Setelah berkembang dan tersebarnya masyarakat di seluruh Daerah Lampung, maka terbinalah 5 Daerah Keratuan yang masing-masing dipimpin oleh:
a. Ratu Dipuncak
b. Ratu Pemanggilan
c. Ratu Dipunggung
d. Ratu Dibalau
e. Ratu Darah Putih
6. Daun Bunga Skala yang terdapat pada puncak lengkungan siger atas dimana ujungnya mengenai tiang paying. Bunga Skala itu menjulang dari 4 daun kembangnya (dari bawah) yang mengandung pengertian sebagai berikut:
Menjulang dari 4 daun bunga:
Semua jurai yang berasal dari Sekala Berak yang dilambangkan oleh paksi pak mempunyai filsafat hidup Piil Pesenggiri. Bunga Sekala berdaun lima bahwa filsafat Piil Pesenggiri itu bertemali 5 alam pikiran sebagai berikut:
a. Piil Pesenggiri
Piil artinya berjiwa besar
Pesenggiri artinya menghargai diri
b. Juluk Adek
Juluk artinya gelar sebelum kawin
Adek artinya gelar setelah kawin
c. Nemui Nyimah
Nemui artinya terbuka hati menerima tamu
Nyimah artinya member dengan ikhlas
d. Nengah Nyappur
Nengah artinya suka berkenalan
Nyappur artinya pandai bergaul
e. Sakai Sambaian
Sakai artinya suka tolong menolong
Sambaian artinya bergotong royong

9. PAYUNG
1. Warna Payung : Kuning muda
2. Bagian Payung :
a. Jari payung 17
b. Bagian tepi 8
c. Garis batas ruas 19
d. Rumbai payung 45
3. Arti Payung
a. Sebagai payung agung yang melambangkan Negara Republik Indonesia, proklamasinya tanggal 17 Agustus 1945
b. Sebagai payung jurai yang melambangkan Provinsi Lampung tempat semua berlindung
4. Tiang dan Puncak Payung
a. Tiang Payung : Eka menjulang satu cita
b. Bilatan Puncak : Esa terbilang satu kuasa

Pengertian : Satu cita membangun Bangsa dan Negara RI dengan ridho Tuhan yang Maha Esa.
Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis, kain tenun bersulam benang emas yang indah. Nilai estetis kain tapis menyatu dalam beberapa azas dan ketentuan, yaitu (1) azas kesatuan organis, (2) azas tema atau konsep, (3) azas keseimbangan, (4) azas bertingkat, (5) azas kerumitan, dan (6) azas kesungguhan.
Kain tapis bagi masyarakat adat Lampung memiliki makna simbolis sebagai lambang kesucian yang dapat melindungi pemakainya dari segala kotoran dari luar. Selain itu dalam pemakaiannya kain tapis juga melambangkan status sosial pemakainya. Makna simbolis kain tapis terdapat pada kesatuan utuh bentuk motif yang diterapkan, serta bidang warna kain dasar sebagai wujud kepercayaan yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam. Kain tapis merupakan pakaian resmi masyarakat adat Lampung dalam berbagai upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga.
Biasanya kain tapis digunakan oleh pria dan wanita pada penyelenggaraan upacara adat, seperti perkawinan, tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung, yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal, apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin, yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger, serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh.Sebagai penutup badan dikenakan kawai, yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Sedangkan, kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang dililitkan. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan, memiliki bentuk seperti baju kurung. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang), sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap, yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher.
Contoh gambar kain tapis


Makna simbolik dari aksesoris tradisional lampung, yaitu:  gelang burung yang khusus digunakan hanya ketika kedua mempelai bersanding.  Penggunaan gelang burung dalam prosesi pernikahan memiliki makna adanya beban besar yang harus siap dipikul kedua mempelai ketika memasuki kehidupan rumah tangga. Di samping itu, wujud burung garuda pada gelang tersebut melambangkan harapan agar hubungan pasangan pengantin kekal hingga akhir kehidupan.

Perhiasan kepala pengantin dan keluarga, antara lain siger, kopiah mas, dan syuket (mahkota mirul yang dililit kain sembagi), umumnya menunjukkan status sosial dari pengguna dan kekerabatan etnis. Siger saibatin, pernik berupa daun sekala/bambu, menunjukkan kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarakat. Siger pun memiliki makna simbolik. Jumlah lekuknya melambangkan jumlah marga dalam adat pepadun atau jumlah adoq (gelar adat) pada adat saibatin.

Selain dari aspek bentuk, pemilihan warna dalam aksesoris perhiasan juga memiliki pemaknaan tersendiri. Nuansa keemasan yang dominan dalam pernak-pernik perhiasan mempelai pengantin dalam adat Lampung melambangkan kejayaan. Selain itu, kombinasi warna keemasan dengan putih dan merah yang dominan dalam busana pengantin Lampung memiliki pesan atau harapan agar kedua mempelai memiliki keteguhan hati dalam mengarungi mahligai pernikahan.

Bicara soal kebudayaan di Lampung, terdapat banyak sekali jenis-jenis musik tradisional termasuk alat-alat musik tradisionalnya. Kalau dari segi musik, musik Klasik Lampung adalah yang masih bertahan sampai sekarang. Berikut adalah alat musik tradisonal lampung:
1. Gamolan (alat musik pukul)
2. Serdam (alat musik tiup)
3. Kompang (alat musik pukul)
4. Kerenceng atau terbangan
5. Gambus lunik (alat musik petik)
6. Sekhdap dan Bekhdah

Lampung juga terkenal dengan tari tradisionalnya, seperti Tari Sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang, bisa dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan. Tari cangget selalu ditampilkan pada setiap upacara yang berhubungan dengan gawi adat, seperti: upacara mendirikan rumah, panen raya, dan mengantar orang yang akan pergi menunaikan ibadah haji, dan Tari Bedana sebagai perwujudan luapan sukacita atas wiraga (gerak badan) untuk mencapai ekstase, dalam batas-batas tertentu ketika menari diiringi gamelan khasnya, jiwa kita seperti mengembarai lembah-lembah hijau di bawah kaki Gunung Rajabasa, semua berubah indah.
Berbagai macam tempat wisata di Lampung juga dapat menarik para wisatawan, mulai dari keindahan pantai, kebun binatang, air terjun dan objek-objek wisata lainnya.

Dibawah ini adalah beberapa objek wisata yang ada di Lampung:
  1. Pasir Putih di Lampung Selatan
  2. Merak Belatung di Lampung Selatan
  3. Wai Lalaan di Tanggamus
  4. Waduk Batu Tegi di Tanggamus
  5. Pantai Marina di Lampung Selatan
  6. Pantai Mutun di Lampung Selatan
  7. Pantai Duta di Lampung Selatan
  8. Taman Purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur
  9. Danau Ranau di Lampung Barat
  10. Teluk Semangka di Tanggamus
  11. Way Kambas di Lampung Timur
  12. Musium Lampung di Bandar  Lampung
  13. Bendungan Way Jepara di Lampung Timur
  14. Kalianda Resort di Lampung Selatan
  15. Makam Raden Intan di Lampung Selatan
  16. Way Belerang di Lampung Selatan
  17. Pulau Cantik di Lampung Selatan
  18. Bendungan Way Ramem di Lampung Utara
  19. Air Terjun Putri Malu di Lampung Selatan
  20. Lembah Hijau di Bandar Lampung
  21. Tabek Indah di Bandar Lampung
  22. Menara Siger di Lampung Selatan
  23. Gunung Krakatau di Lampung Selatan
  24. Gunung Seminung  di Lampung Barat
  25. Hutan Monyet di Bandar Lampung
  26. Bumi Kedaton di Bandar Lampung
  27. Makam Pahlawan di Bandar Lampung
  28. Pemandian Air Panas di Bandar Lampung
  29. Pulau Tangkil di Lampung Selatan
  30. Kelapa Rapat di Lampung Selatan
  31. Pantai Selaki di Lampung Selatan
  32. Way Lima di Pesawaran
  33. Kali Akar di Bandar Lampung
Provinsi Lampung sebenarnya memiliki kebudayaan yang begitu banyak dan unik yang bisa dikembangkan agar tidak hilang dan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Indonesia seharusnya juga bangga memiliki kekayaan berbagai macam suku, bahasa, maupun kebudayaan yang berbeda, karena dari perbedaan inilah kita dapat menilai bagaimana uniknya dan indahnya budaya dari seluruh nusantara yang patut dilestarikan.

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda