Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Kamis, 06 Maret 2014

Kebudayaan Sulawesi Utara

Beragam Kebudayaan Suku Minahasa, Sangihe-Talaud, dan Bolaang Mongondow
(Sulawesi Utara)


Oleh : Regina Clara Maria (682013055)
 MD302A

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan kebudayaan. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari begitu banyak pulau, suku, dan bahasa yang berbeda dari tiap-tiap daerah didalamnya. Salah satunya, yaitu provinsi Sulawesi Utara.

Sulawesi Utara merupakana provinsi yang terletak di ujung pulau Sulawesi, dan berbatasan dengan Negara Filipina disebelah utara. Ibu kota Sulawesi Utara adalah Manado, dan dikenal dengan suku Minahasa.  “Si Tou Timou Tumou Tou”, yang artinya “Manusia hidup untuk menghidupi (sesama) manusia”, merupakan slogan daerah Sulawesi Utara yang diperkenalkan oleh Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu-Langi, atau yang dikenal dengan Sam Ratulangi. Sam Ratulangi adalah pahlawan nasional dari Sulawesi Utara. 
Berbicara masalah budaya, Sulawesi Utara sendiri tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, tetapi juga akan seni dan budaya yang turun-temurun dari nenek moyang. Secara garis besar, Sulawesi Utara terdiri dari 3 suku, yaitu Minahasa, Sangihe-Talaud, dan Bolaang Mongondow . Banyak hal menarik, unik, dan berbeda dari adat atau kebiasaan ketiga suku tersebut. Misalnya, gaya berbicara, logat, tradisi, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Karena keberagaman tersebut, tak heran jika dari Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa bahasa daerah. Dari Suku Minahasa, yaitu Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan, dan Bantik. Dari Suku Sangihe-Talaud, yaitu Sangie Besar, Siau, dan Talaud. Dari Suku Bolaang Mongondow, yaitu Mongondow, Bolaang, Bintauna, dan Kidipang.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa Sulawesi Utara kaya akan seni dan budaya, maka selanjutnya akan dijelaskan beberapa kebudayaan di Minahasa, Sangihe-Talaud, dan Bolaang Mongondow.
Ø  Kebudayaan Minahasa:
·         Budaya Mapalus. Mapalus merupakan sebuah tradisi budaya suku Minahasa dimana dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong. Budaya mapalus mengandung arti yang sangat mendasar. Mapalus juga dikenal sebagai local spirit dan local wisdom masyarakat di Minaahasa.
·         Pengucapan syukur. Pengucapan syukur merupakan tradisi masyarakat Minahasa yang mengucap syukur atas segala berkat yang telah Tuhan berikan. Biasanya pengucapan syukur dilaksanakan setelah panen dan dikaitkan dengan acara keagamaan untuk mensyukuri berkat Tuhan yang dirasakan terlebih panen yang dinikmati. Acara pengucapan syukur ini dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat suku Minahasa pada hari Minggu umumnya antara bulan Juni hingga Agustus. Saat pengucapan syukur hampir setiap keluarga menyediakan makanan untuk para tamu yang akan datang berkunjung terlebih makanan khas seperti nasi jaha dan dodol.
·         Alat Musik Bambu. Alat musik bambu ini terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Setelah berkembang menjadi suling bamboo, alat musik bambu sekarang sudah berkembang menjadi Musik Bambu Seng Klarinet (MBSK). Dahulu, alat music ini terbuat dari Bulu Tui (Bambu Kecil) dan sekarang telah menggunakan bahan steinless (vernekel).
·         Alat Musik Kolintang. Alat musik pengiring tari Katrili ini terbuat dari kayu yang cara memainkannya dengan dipukul. Alat musik ini dapat mengeluarkan nada rendah maupun tinggi dan bunyinya cukup panjang. Dan karena itu, suara Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi), dan Tang (nada tengah) menginspirasi suku Minahasa memberi nama Kolintang untuk alat music tersebut.
·         Upacara Perkawinan Adat Suku Minahasa. Sebagian besar suku Minahasa menganut agama Kristen Protestan. Mereka cenderung mengganti pesta malam perkawinan dengan acara kebaktian dan makan malam. Adat perkawinan suku Minahasa yaitu upacara Toki Pintu, Buka/Putus Suara, Antar harta, Prosesi Upacara Adat di Pelaminan. Keempat acara tersebut dilaksanakan dalam satu hari.
·         Tari Maengket. Maengket adalah tari tradisional Minahasa dari zaman dahulu kala dan sampai saat ini masih berkembang. Tarian ini sudah ada dan dikenal di tanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal pertanian, tarian ini dilakukan leluhur kita pada saat panen padi di ladang dengan menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana.
·         Tari Lenso. Tari Lenso adalah tarian pergaulan muda-mudi rayat Minahasa. Tarian ini menceritakan bagaimana seorang pemuda Minahasa mencari jodohnya atau calon istri. Dalam tarian ini, yang menjadi perantara adalah lenso atau selendang. Pada saat si pemuda melamar sang gadis dengan memberikan lenso pada sang gadis, apabila lenso atau selendang dibuang berarti lamarannya di tolak, dan sebaliknya jika lenso diterima oleh sang gadis berarti cintanya diterima.
·         Tari Katrili. Tari Katrili adalah salah satu tari yang dibawa oleh Bangsa Spanyol pada waktu mereka dating dengan maksud untuk membeli hasil bumi yang ada di tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, mereka menari-nari tarian Katrili. Lama kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang menjual hasil bumi mereka dengan menari bersama-sama sambil mengikuti irama music dan aba-aba. Tari Katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan, setiap wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung ke Sulawesi Utara seringkali disuguhi dengan tarian ini.
·         Tari Kabasaran. Tari Kabasaran adalah tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur (gong kecil). Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian pada umumnya yang mengumbar senyum dan gerakan yang lemah gemulai.

Daerah Minahasa juga kaya akan objek-objek wisatanya. Mungkin yang selama ini diketahui oleh masyarakat luas hanyalah Bunaken, tetapi ternyata masih banyak lagi objek wisata lainnya yang juga tak kalah indahnya. Mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata buatan, dan wisata budaya kuliner, yang tentunya sangat menarik perhatian karena keanekaragamannya. Berikut adalah objek-objek wisata dari daerah Minahasa:
1. Wisata Alam (Bahari/Danau/Gunung/Air panas/Sungai)
  • Pemandangan Pantai dan Taman Laut Bunaken
  • Pemandangan Laut dan Pantai Kalasei
  • Pemandangan Laut  dan Pantai Mangatasik
  • Pemandangan Laut dan Pantai Moinit
  • Pemandangan Laut dan Pantai Kora-Kora
  • Pemandangan Laut dan Pantai Batu-Nona
  • Pemandangan PantaiGangga dan Lehaga
  • Pemandangan laut dan Pantai Bentenan
  • Pemandangan Danau Tondano
  • Pemandangan Danau Linouw
  • Pemandangan Gunung Duasudara dan Gunung Batuangus
  • Pemandangan Kawah G. Mahawu dan G. Lokon
  • Pemandangan Kaki Gunung Soputan
  • Pemandangan Puncak Gunung Klabat
  • Tempat Aliran Sungai Arung Jeram
  • Tempat Air terjun Tincep
2. Wisata Sejarah dan Kepurbakalaan
  • Batu Pinabetengan adalah tempat musyawarah adat  (perang dan pembagian wilayah adat), terletak di Kec. Tombaso/Kab.Minduk. Jarang diadakan acara adat secara kelembagaan, namun secara individu atau perorangan sering dijadikan tempat pemujaan roh leluhur (Opo) demi mendapatkan sesuatu secara mistik (jodoh, jabatan dan kekayaan).
  • Kuburan Kuno Waruga adalah peti mati tempo doeloe orang Minahasa (batu besar yang dilobangi untuk meletakkan mayat dalam posisi duduk, artinya direbus).
  • Minawanua & Benteng Moraya adalah tepat pemukikan tempo doeloe orang Tondano; dan benteng pertahanan orang Minahasa ketika melawan kompani Belanda. Kedua tempat bersejarah ini terletak di Kota Tondano/Kab.Minduk. Belum direkonstruksi alias ‘tabiar.
  • Jalan Gunung Potong Ratahan terkenal sebagai kawasan pertempuran  antara pasukan Permesta dan TNI pusat, bisa dikembangkan menjadi wisata ‘perang-perangan’.
  • Goa-Goa Peninggalan Tentara Jepang, terletak di Tonsealama Tondano dan Kawangkoan/Kab.Minduk. Kondisinya tidak dirawat.
  • Fosil Manusia dan makanan Purba orang Minahasa, terletak di desa Paso Kab. Minduk. Tidak dilestarikan (fosilnya entah di mana).
  • Pangkalan udara tentara Jepang, terletak di desa Kalawiren dan Tasuka kec. Kakas di kawasan danau Tondano.
  • Pegunungan Wulurmahatus adalah tempat pemukiman pertama leluhur Minahasa. Terletak di kawasan Minahasa Tenggara. Belum diolah.
  • Tempat pemakaman/Kubur Penginjil asal Jerman bernama Ev. Riedel (Tondano) dan Ev. Schwartz (Langowan) di Kab. Minduk.
  • Monumen Patung Pahlawan Nasional dan Tempat Pemakaman/kubur Pahlawan Nasional Dr. G.S.S.J. Ratulangi terletak di Tondano.
  • Tempat Pemakaman/Kubur Imam Bondjol terletak di Lota Pinelen; dan panasehat spiritual P. Diponegoro Kyai Modjodi Kampung Jawa Tondano.
  • Klenteng di Pusat Kota Manado dan Vihara Umat Budha terletak di Tomohon.

3. Wisata Buatan
  • Bukit Kasih adalah ’simbol perdamaian antar umat beragana’ (di puncak bukit dibangun sejumlah rumah ibadah: gereja, mesjid, pura dan vihara), terletak di desa Kanonang /Kab. Minduk. Belum terolah secara professional (perlu pihak ketiga).
  • Taman Koleksi Satwa khas Sulawesi Naenmundung, terletak di Kota Bitung.
  • Taman Rekreasi Sumaru Endo, terletak di desa Rembokan (pesisir D. Tondano)/Kab. Minduk.
  • Lokasi Festival Danau Tondano, terletak di desa Paleloan Tondano/Kab.Minduk. Kondisinya terlantar.
  • Tempat Mandi Air Panas, terletak di kelurahan Tataaran Tondano/Kab.Minduk dan di desa Paso dan Remboken/Kab.Minduk.
  • Tempat Pancing Ikan, terletak di desa Bajo Tumpaan/Kab.Minsel; dan di pantai timur Minahasa (Kora2w dan Belang). Belum diolah.
  • Arena Pacuan Kuda, terletak di Tompaso Kab.Minduk.
  • Kawasan Kuliner Seafood Kalasey, terletak di kab. Minduk.
4. Wisata Budaya Kuliner dan Lainnya
  • Kuliner, meliputi aneka makanan khas Minahasa (tinoransak, pangi, saut, posana,dsb); Sea-Food, termasuk aneka makanan ringan alias kue-kue/kukis (pala manis, kacang goyang, kacang tore, dodolbobengka, klaper tart, cucur,apang, dsb).
  • Candramata, seperti kain bentenan, kerajinan keramik tanah liat di desa Pulutan Remboken, kerajinan anyaman bambu di Kinilow Tomohon, kerajinan tempurung kelapa diberbagai pelosok Minahasa, dsb.
  • Kawasan rumah adat di Woloan Tomohon.
  • Ragam Kesenian Tradisional (maengket, kolintang, cakalele, tari katrili, tari tumatenden, tari pisok, musik bambu dan clarinet, dan musik bia), terdapat di hampir seluruh wilayah Minahasa, manado dan Bitung.
  • Wisata hiburan (pub, café, karaoke) tersebar di Kota Manado dan Kota Bitung.

Itulah beberapa hal yang merupakan bagian dari kebudayaan Suku Minahasa. Selanjutnya adalah kebudayaan dari suku Sangihe-Talaud.

Ø  Kebudayaan Sangihe-Talaud:
  • Upacara adat 'Tulude' sangat terkenal dari daerah ini, yang diadakan di akhir bulan Januari tiap tahun. Upacara ini merupakan wujud ungkapan syukur masyarakat daerah ini karena telah diberkati oleh Sang Pencipta tuk memasuki tahun yang baru
  • Upacara adat Tulude yang pertama dilaksanakan di Manuwo (Salurang) kecamatan Tabukan Selatan. Diadakan dalam masa pemerintahan "Kulano Manentonau" pada permulaan abad ke-16
  • Kue adat atau "Tamo" mengandung arti yang khusus yakni:
    1. Kue Tamo adalah lambang penghormatan tuan pesta kepada tamu.
    2. Kue Tamo adalah perlambang bahwa pesta yang diadakan mengandung norma-norma kebangsaan (di puncak kue ada panji atau bendera yang dipancang)
    3. Kue Tamo merupakan raja seluruh santapan yang dihindangkan dalam pesta tsb
  • Tari-Tarian dari daerah ini antara lain: Tari Alabadiri dibawakan oleh para pria yang berjumlah 13 orang dimana 1 orang menjadi pemimpinnya, Tari Gunde dibawakan oleh para wanita juga berjumlah 13 orang dan  Tari Upase
  • Jenis budaya yang lainnya adalah "Mekalumpang" merupakan suatu jenis kesenian yang berbalasan-balasan atau berpantun-pantunan dengan lagu-lagu.
  • Selain itu terdapat budaya seni urai yaitu "Kawila Sahuma" atau "Kawila Ino", merupakan seni membuat atau merangkai tempat makan sirih. Ada juga seni urai yang lain yang disebut dengan "Mekahiurang", merupakan seni menenun kain Kofo. Pakaian Kofo adalah tenunan asli Satal.
  • Tanaman pisang Abacca atau Manila-henep merupakan tanaman langkah dari daerah ini, padahal di kolong bumi ini cuma di Satal (Sangihe-talaud) dan Filipina terdapat tumbuhan ini, yang merupakan bahan kertas uang dollar AS
  • Pohon kelapa bisa didapati sepanjang mata memandang, makanya banyak terdapat kopra. Buah Pala juga bisa didapati disini...ehm dagingnya kalo dibikin manisan eunak....., trus biji pala bisa tuk dibuat bumbu dapur.
  • Kalo bicara soal makanan, orang Sangir punya makanan pokok sagu (tentu saja selain nasi), trus kue khasnya ada yang namanya bagea, bangket, kahaka (ini sejenis kue dari bahan dasar ubi & gula merah)
  • Punya pemberdayaan sarang burung walet yang ada di pulau Kalama, punya emas yang berkadar tinggi, yang sudah ditemukan dan dikelola di Sangir Selatan, industri kayu hitam ada di pulau Talaud
  • Keindahan taman laut di Satal tak ada tandingannya di dunia, hanya di Satal terdapat gunung berapi di bawah laut  yang dikasi nama G.Karangetang

Itulah beberapa hal yang merupakan bagian dari kebudayaan Sangihe-Talaud. Setelah suku Minahasa dan suku Sangihe-Talaud, selanjutnya adalah kebudayaan dari suku Bolaang Mongondow.

Ø  Kebudayaan Bolaang Mongondow:
  1. Objek Wisata:
  • Pantai Lolan
  • Tanjung Ompu
  • Pulau Tiga
  • Air Panas Bakan
  • Kolam Desa Tudu Aog
  1. Makanan khas:
Makanan khas dari suku Bolaang Mongondow yang paling popular adalah Da’un Bagu bo yondog binango’an. Makanan lainnya adalah:
  • Sinorang
  • Pogioton
  • Sinabedak
  • Dinangoi
  • Binarundak
  • Allingkoge
  • Gogodu
  • Lalampa
  • Sangkara
  1. Tarian dari suku Bolaang Mongondow:
·         Tari Tayo
·         Tari Joke'
·         Tari Mosau
·         Tari Rongko atau Tari Raga

Suku Bolaang Mongondow memiliki moto tesendiri, yaitu: Mototabian, Mototanoban, Mototompiaan, Motobatu molintak kon Totabuan (Bahasan Bolaang Mongondow), yang artinya: Saling Menyayangi, Saling Ingat Mengingatkan, Saling Memperbaiki, Bersatu Membangun dan memajukan Kampung Halaman.

Provinsi Sulawesi Utara terkenal dengan semboyannya, yaitu “Torang Samua Basudara”, yang artinya “Kita Semua Bersaudara”. Semboyan tersebut merupakan cerminan sikap dari masyarakat Sulawesi Utara yang hidup berdampingan dengan rasa saling mengasihi tanpa memperdulikan adanya perbedaan agama, ras, dan sebagainya. Meskipun masyarakat Sulawesi Utara bermayoritaskan agama Kristen, tetapi kehidupan bermasyarakat dengan agama yang lain seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu terjalin dengan sangat baik.
 


DAFTAR PUSTAKA





E-mail:
682013055@student.uksw.edu

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda