Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Sabtu, 01 Maret 2014

Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia Khususnya di Kota Bengkalis-Riau

Oleh  : Julianne Moore /672012208/ MD302B


Gambar 1. Atraksi Barongsai pada perayaan Imlek
Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari ribuan pulau-pulau yang tidak hanya kaya akan kekayaan alam tapi juga budaya serta adat istiadat. Beragam jenis bahasa serta suku bisa kita dijumpai di Indonesia, salah satunya adalah Suku Tionghoa. Suku Tionghoa adalah orang-orang yang berasal dari daratan China yang menetap di Indonesia dan kemudian menyebar ke Sabang sampai Merauke.

Perayaan Tahun Baru Imlek berasal dari China yang dilakukan oleh para petani dalam penyambutan musim semi. Imlek biasanya jatuh pada tanggal satu dibulan pertama diawal tahun baru dalam perhitungan kalender lunar. Perayaan tahun baru ini dilakukan dengan cara sembahyang kepada Sang Pencipta, sembahyang kepada leluhur, menjamu serta bersilahturami dengan tetangga-tetangga sebagai rasa syukur dan harapan agar mendapat rejeki yang lebih banyak dan penghidupan yang semakin baik. 

Perkembangan budaya Tionghoa di Indonesia mengalami banyak sekali hambatan dan rintangan. Dapat kita lihat perbedaannya pada zaman Soekarno, Imlek dirayakan oleh masyarakat Indonesia secara terbuka di berbagai daerah. Tapi, sejak pemerintahan pak Soeharto yang ingin menyeragamkan pluralitas dengan melarang bahasa mandarin, budaya China, menutup sekolah-sekolah mandarin bahkan memberantas kaum China dengan kekerasan, saat itu kebudayaan China semakin memudar. Namun pada akhirnya, China kembali bangkit pada saat pemerintahan Gus Dur, beliaulah orang yang mengembalikan hak-hak kaum Tionghoa dan memberikan kebebasan untuk bisa menjalani hidup sesuai dengan budaya masing-masing. 

Elizabeth mengungkapkan bahwa “Kebebasan perayaan imlek di Indonesia mulai terasa sejak dibukanya kran demokrasi oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemudian pada tahun 2004, Presiden Megawati secara resmi mengumumkan bahwa Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.”

Salah satu masyarakat Tionghoa yang bisa kita temui dan masih kental budaya Chinanya adalah masyarakat di Pulau Bengkalis, Riau. Disini, masyarakat Tionghoa sendiri menyambut perayaan imlek tidak jauh berbeda dengan perayaan tahun baru di China. Pada pembukaan tahun baru, masyarakat menyiapkan 12 macam sajian untuk menyembah Sang Pencipta. Biasanya sajian tersebut mengandung arti ‘Kebahagiaan’, ‘Kemakmuran’, ‘Panjang umur’, dan ‘Keselamatan’. Kue yang wajib dihidangkan adalah kue keranjang, karena kue keranjang disamakan dengan kata ‘nian gao’ yang artinya tahun yang semakin tinggi dengan harapan semakin tinggi pula harapannya. Arti lain dari kue keranjang yaitu kehidupan manis karena rasanya yang manis. Jadi diharapkan kehidupan selanjutnya semakin baik dan manis.


Gambar 2. Kue Keranjang/Nian Gao

Pada hari raya Imlek, segala alat sembahyang, perhiasan rumah seperti lampion, tulisan kaligrafi, serta semua pernak-pernik berwarna merah. Merah disimbolkan sebagai lambang kebahagiaan, semangat dan berani. Lampion sendiri diartikan sebagai harapan atau kebahagiaan.

Nyanyian lagu imlek dan pernak-pernik yang berwarna merah dipasang disetiap rumah. Ada yang bermain kembang api/petasan karena pada zaman China kuno dulu, bunyi petasan dipercaya mampu mengusir roh jahat. Salah satu hal penting dan harus ada dalam imlek yaitu Angpao. Angpao diberikan dari orang yang sudah menikah ke orang yang belum menikah. Tapi, orang yang belum menikah tidak boleh memberi angpao kepada orang lain.

Gambar 3. Angpao

Biasanya masyarakat Bengkalis merayakan Imlek dengan sangat meriah. Pada malam hari menjelang hari raya, masyarakat membakar petasan/kembang api yang tak kunjung henti. Yayasan Tionghoa juga mengundang artis dari Malaysia atau Taiwan untuk memeriahkan acara tersebut sehingga suasana hari raya menjadi sangat meriah.




Gambar 4. Masyarakat bermain petasan/kembang api

Di rumah masyarakat sendiri disediakan berbagai cemilan seperti kacangan, permen, kuaci, dan aneka kue kering tidak ketinggalan juga arak(tidak semua rumah) atau minuman bersoda yang dijamukan kepada kerabat-kerabat ataupun dan tetangga yang datang. 

Pada hari raya ke-6, masyarakat berkumpul di kelenteng untuk sembahyang dan menyaksikan atraksi barongsai dan naga. Selajutnya diadakan pawai keliling kota. Barongsai akan berjiarah kerumah-rumah untuk memberi salam dan kemudian tuan rumah akan memberikan angpao kepada barongsai. 
 
Gambar 5. Perayaan Imlek ke-6 – pawai kota (Ki Tong)

Gambar 6. Perayaan Imlek ke-6 – Pawai Kota (Angkat Tandu)

Pada hari raya ke-9, masyarakat sembahyang kepada Tuhan dengan menyiapkan berbagai persembahan, ada tebu, kue keranjang, buah-buahan, dan berbagai sajian lainnya. Sembahyang kepada Tuhan sebagai ucapan terima kasih dan berharap agar segala hal berjalan dengan baik dan lancar, sehat sejahtera, dan semua impian terkabulkan.

Sedangkan pada hari raya ke-15 yang biasa dikenal dengan istilah ‘Cap Go Meh’ adalah malam pertama bulan purnama tahun baru. Ada masyarakat yang menyatakan bahwa Cap Go Meh merupakan hari Valentine versi China, oleh karena itu banyak yang mencari jodoh pada hari tersebut. Ada yang sembahyang di kelenteng dan rumah masing-masing. Ada juga yang menyebutkan bahwa Cap go Meh adalah hari pesta lampion. Setelah Cap Go Meh, maka berakhirlah hari raya Imlek.
Gambar 7. Masyarakat Tionghoa memasang Lampion di jalan


Kesimpulan dari saya sendiri, Imlek adalah hari berkumpul bersama keluarga. Anak-anaknya yang merantau ke luar daerah akan pulang berkumpul bersama keluarganya, menikmati momen-momen penting bersama keluarga dan menikmati makan malam bersama(reunion dinner). 

Imlek itu bukanlah sebuah perayaan agama, tapi perayaan budaya. Bagi masyarakat Tionghoa, siapa saja diperbolehkan untuk merayakan Imlek meskipun agamanya Islam, Kristen, Hindu ataupun Buddha yang penting adalah mereka berketurunan China. Sebagian orang salah kaprah menganggap bahwa imlek adalah hari raya agama Buddha. Disini saya menegaskan bahwa Imlek bukanlah hari raya agama Buddha. Tapi mengapa dominan umat Buddha yang merayakan imlek? Hal ini dikarenakan rata-rata penduduk Indonesia yang beragama Buddha adalah keturunan China/Tionghoa. Oleh karena itu, umat Buddha masih banyak terbawa budaya yang diajarkan oleh nenek moyang mereka dan budaya itu sendiri masih sangat kental dan tidak bisa dipisahkan (sudah mendarah daging). Disisi lain, agama Buddha sendiri tidak melarang umatnya untuk merayakan hari raya Imlek. Sedangkan untuk agama Kristen yang umatnya berketurunan Tionghoa juga ikut merayakan imlek dengan cara yang sederhana dan berbeda-beda.

Mungkin perayaan imlek dari satu tempat dengan tempat yang lain agak berbeda. Hal ini wajar saja karena disebabkan oleh peristiwa 1998 dulu dimana pemerintah mencoba untuk menghilangkan kebudayan China atau faktor lingkungan, proses asimilasi maupun akulturasi. Meskipun perayaan yang berbeda, namun intinya adalah sama.



DAFTAR PUSTAKA



 Topik : Perayaan Tahun Baru Masyarakat Tionghoa 



Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda