Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Minggu, 02 Maret 2014

Seni Pertunjukan Wayang di desa Warak kota Salatiga


Oleh : Salis Vita Auliya/362010037/MD302B

Wayang merupakan salah satu kesenian Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan peradapan dunia. Wayang selain dikenal sebagai warisan budaya orang Jawa. Pada masa kejayaanya, kesenian wayang mampu menjadi kesenian yang penuh makna. Pemahaman terhadap tradisi pewayangan dewasa ini mengalami penurunan. (Drs. Djoko, 2006:1). Masyarakat majemuk yang hidup di seluruh wilayah Nusantara memiliki berbagai macam adat-istiadat atau seni budaya. (Bayu Wibisana, 2010:1). Krisis budaya menjadi salah satu alsan semakin berkurangnya akan seni pertunjukan wayang.
Kebudayaan adalah kompleks ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan; kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat  dan kompleks benda-benda serta hasil karya manusia.(Hertati, 2011:6). Tantangan yang dihadapi dalam melestarikan dan menghadirkan seni pertunjukan wayang  tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pendukungnya.
Salatiga terbagi menjadi empat kecamatan, yaitu kecamatan sidorejo, kecamatan tingkir, kecamatan argomulyo, dan kecamatan sidomukti. Dari setiap kecamatan yang aktif menampilkan pertunjukan wayang yaitu desa Warak Kota Salatiga kelurahan Sidomukti kelurahan Dukuh masih bertahan dalam mengdakan pertunjukan wayang setiap tahunnya. Warak menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi turun temurun, salah satunya “wayangan”. Nilai tersebut sebagai gagasan kolektif (bersama) tentang apa yang dianggap baik, penting, diinginkan dan diangap layak, sekaligus tentang yang tidak baik, tidak penting, tidak diinginkan dan tidak layak dalam sebuah kebudayaan. Nilai menunjukkan  apa yang penting dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. (Pamerdi, 2012:57). Modern kini kebudayaan tradisional tidak luput dari perkembangan tekhnologi yang membuat kesenian tradisional tergeser. Namum, beda lagi pada Warak, masih melestarikan wayang sebagai warisan leluhur. Masyarakat masih tetap setia menanti seni pertunjukan wayang. Sehingga warga setempat selalu merayakan ulang tahun desa atau mertideso setiap bulan sapar atau biasa disebut saparan dengan menggelar seni pertunjukan wayang.
Pertunjukan wayang merupakan media yang menggambarkan kehidupan manusia, yang dikenal dengan istilah wadah dan isi. Wadah merupakan perabot atau atau medium yang terdiri dari empat aspek, pakeliran, yaitu sabet, catur lakon dan iringan. Sedangkan isi  adalah nilai-nilai yang diungkapkan dalam pakeliran seperti nilai kemanusiaan, keadilan, kepahlawanan, dan sebaganya. (Drs. Djoko, 2006:2). Seni pertunjukan wayang di Warak selain menjadi tradisi dan guna melestarikan warisan leluhur, fungsi-fungsi lainnya selain memberikan hiburan, sarana control sosial, sarana pelestarian dan pengembangan ni;ai-nilai budaya bangsa, juga dapat memberikan informasi bagi penontonnya.
                Pada masa lalu, upaya merevitalisasikan wayang sebagai media komunikasi sudah banyak dilakukan, sayangnya pada masa kini upaya semacam itu mulai redup.(Gunarjo,2011:60). Wayang mungkin terdengar sebagai hiburan untuk orang-orang tua, padahal Wayang sebernarnya tidak terbatas usia untuk menikmatinya. Jika dilihat lebih dalam seni pertunjukan Wayang mengandung ajaran, niali-nilai kehidupan manusia yang membantu kita untuk hidup lebih baik, sehingga wayang harus dikenalkan lebih dini. Dalam dunia wayang ditampilkan contoh-contoh perilaku yang baik dan jahat. Dengan bercerita atau mendongen, wayang membentuk ide-ide, kepercayaan, moralitas dan tingkah-laku dari semua budaya.
 Sebagai masyarakat khususnya yang perduli akan warisan budaya lebih perduli, menyisihkan perhatian serta waktunya bahkan terjun langsung dalam seni pewayangan sehingga mengenal kebudayaan daerah lebih dalam. Pastilah merasa memiliki budaya yang sudah ada dengan sangat bangga. Jangan sampai mengenal budaya wayang setelah budaya diakui oleh Negara lain. Kita tidak sekedar menjadi objyek pemuda yang pasif sebagai penerus warisan kebudayaan, marilah perduli dengan melestarikan dan memahami budaya masing-masing daerah. Semua tergantung bagaimana para penerus kebudayaan mengelola diri untuk sebuah nilaikebudayaan yang sudah ada.



Daftar Pustaka
Pamerdi Giri Wiloso. Ilmu Sosial  dan Budaya Dasar. Salatiga: Anugrah Karya Bersama. (2012)
Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.Bandung: Remaja Rosda Karya.
Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy,M.A. Dinamika Komunikasi. Bandung. Remaja Rosdakarya.(2004)
Hertati, dkk. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.(2011)
Prof. Drs. Suwaji Bastomi. Seni dan Budaya Jawa. Semarang: IKIP Semarang Pers
David Kaplan. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (2002)
Drs. Djoko N Witjaksono, Ma. Wayang Koleksi Museum Jawa Tengah. Semarang: ISBN (2006)
Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (2002)
T.O Ihromi. Pokok-Pokok Antropologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (2006)



Topik     : Pelestarian kebudayaan Wayang

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda