Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Sabtu, 01 Maret 2014

UPACARA TIWAH

(Antara kebudayaan dan Keagamaan)
Oleh : Yusica Elbasia/852010003/MD302B


Indonesia dikenal sebagai negara dengan ragam pulau dan kebudayaan. Daya tarik wisatanya terletak pada keindahan alam serta keunikan-keunikan yang dimiliki setiap wilayah di Indonesia. Bangunan bersejarah, keindahan pantai, tari-tarian, makanan khas, ukiran, sampai pada kegiatan masyarakat dalam berbagai acara budaya.  Menurut Koentjaraningrat ,“Kebudayaan adalah suatu sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Salah satu hasil kebudayaan yang jarang disoroti melalui media pengkabaran adalah upacara Tiwah yang berasal dari suku Dayak Ngaju di Kalimantan tengah. Upacara Suci Tiwah adalah upacara kematian agama Hindu kaharingan yang dilakukan untuk memimpin liau (arwah) didalam perjalannya menuju lewu liau (tempat peristirahatan/ surga). Lewu liau adalah tempat jiwa dipersatukan dengan nenek moyangnya, dan untuk kedua kalinya memakamkan tulang-tulang orang yang sudah wafat di tempat peristirahatan tetap yang di sebut sandung. 



Tiwah merupakan upacara kematian kedua, karena sebelum dilaksanakanTiwah, ada upacara kematian yang pertama dengan memimpin liau menuju tempat peristirahatan sementara, yaitu di bukit pasahan raung. Pasahan raung adalah tempat pemondokan sementara peti mayat orang yang mati dan biasanya dibuat dihutan yang jauh dari perkampungan. Upacara Tiwah tidak boleh diabaikan karena pengabaiannya akan menyebabkan liau yag bertahan di bukit dan dipercaya dapat mendatangkan bencana bagi keluarga yang masih hidup. Oleh karena itu, suku Dayak Ngaju percaya bahwa orang yang sudah meninggal sangat bergantung dengan keluarganya yang masih hidup. Keluarga yang masih hiduppun bergantung kepada arwah nenek moyang mereka yang dipercayai sewaktu-waktu dapat datang kembali ke dunia untuk berhubungan dengan keluarga yang masih hidup untuk menyampaikan petuah, nasihat, ataupun teguran apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran adat leluhur di dunia, terutama di kalangan keluarga arwah. Bilamana teguran tersebut terjadi maka yang ditegur akan menderita penyakit puji liau (teguran arwah) yang kalau tidak segera dijawab dengan tepat akan menyebabkan kematian.

Dalam kehidupannya suku Dayak Ngaju harus melestarikan budaya dan adat istiadat yang ada, sehingga ketika meninggal, arwahnya akan diterima oleh nenek moyang yang terlebih dahulu pulang ke negeri para arwah atau lewu liau. Apalagi jika ada orang dari suku ini yang meninggal secara tidak wajar, misalnya karena dibunuh, maka dianggap mati secara tidak luhur karena menurut mereka ia mati dengan terpaksa dan belum waktunya untuk mati. Rohnya akan mengalami penderitaan, baik di dunia maupun di akhirat karena ia tidak diberikan tempat. Arwahnya akan bergentayangan di bumi dan di langit dan arwahnya tidak diterima oleh nenek moyang mereka. Oleh karena itu, tidak heran jika orang Dayak Ngaju sangat menghormati dan mentaati adat-istiadatnya serta takut untuk melakukan kejahatan, karena  jika tidak, maka penderitaan di akhirat akan menanti dirinya. Akan tetapi penderitaan tersebut akan dapat diakhiri melalui upacara Tiwah ini.

Jika kita berbicara tentang upacara suci Tiwah secara umum, jelas akan berhubungan dengan Agama Kaharingan atau Agama Helo. Agama Kaharingan adalah agama suku bagi orang dayak yang ada di Kalimantan. Mereka yang menganut kepercayaan tersebut, hidup dalam mitos-mitos yang dibangun berdasarkan kepercayaan yang mereka anut. Kaharingan berasal dari kata haring ditambah dengan awalan ka dan akhiran an, yang kemudian menjadi KaharinganHaring artinya hidup atau bisa juga berarti tumbuh dengan sendirinya. Jadi Kaharingan sama dengan agama yang hidup dan tumbuh berdasarkan pesan Tuhan atau Ranying Hattala Langit melalui perantara para leluhur atau nenek moyang. Kaharingan ada semenjak Ranying Hatalla Langit menciptakan manusia dan mengatur segala sesuatunya agar kelak manusia dapat menuju kehidupan yang sempurna dan abadi. Menurut kepercayaan ini, manusia diciptakan dari tanah milik Ranying Hattala Langit. Mengapa diciptakan berasal dari tanah milik Ranying Hattala Langit, karena jika dari tanah milik manusia di dunia, tanah itu dikatakan tanah sial.
            
Menurut kepercayaan Agama Kaharingan setiap manusia diciptakan atau dilahirkan dari tiga unsur, yaitu unsur yang berasal dari Ranying Hattala Langit, ayah dan ibu secara biologis. Jika salah satu dari ketiga unsur tidak ada, maka kelahiran dianggap tidak sempurna. Setalah manusia itu wafat, maka ketiga unsur tadi diantar oleh Duhung Maha Tandang[1] ke tempat yang telah ditetapkan oleh Ranying Hattala Langit sejak awal.
            Tiga tahapan pelaksanaan upacara kematian menurut suku dayak:


  1. Penguburan, menyerahkan arwah yang meninggal kepada kepada Raja Entai Nyahu yang bertugas sebagai penjaga kuburan.
  2. Tantulak Ambun Rutas Matei atau istilah lainnya Mapas pali yaitu untuk menjauhkan keluarga dari arwah yang meninggal dari segala bentuk kesialan dan kematian.
  3. Upacara Suci Tiwah ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa dan roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpung Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habasung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.



            Upacara Suci Tiwah adalah upacara keagamaan, bukan upacara adat yang secara umum dilakukan oleh suku Dayak di Kalimantan. Upacara ini dapat dilaksanakan dengan syarat arwah-arwah yang ditiwahkan itu semasa hidupnya harus beragama Kaharingan. Didalam pelaksanaannya, upacara suci Tiwah diberikan tata adat dan tata cara khusus dengan hikmat dan bersih sebagaimana telah diatur sejak dahulu kala dan sampai sekarang tetap diingat dan dilaksanakan oleh umat Kaharingan. Nilai-nilai keagamaan, budaya maupun sosial yang terkandung di dalamnya, menjadikan Upacara Suci Tiwah sebagai upacara tertinggi dan beresiko tinggi bagi umat Kaharingan. Oleh karena itu, pelaksanaan dan persiapan segala sesuatu harus dilakukan dengan baik dan cermat, karena jika terjadi kekeliruan dalam pelaksanaannya, maka para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat. Sebagai contoh, jauh dari rezeki di masa mendatang, kesehatan terganggu atau sakit-sakitan, menanggung berbagai kutukan di masa mendatang.

            Tujuan Upacara Suci Tiwah ialah mempersatukan ketiga unsur yaitu unsur Allah (Hatalla), Bapak, Ibu. Upacara ini tidak hanya diperuntukan bagi orang yang mati secara tidak wajar (dibunuh, tabrakan, dll) melainkan untuk semua penganut agama Kaharingan yang meninggal. Jika keluarga dari orang yang meninggal tidak menyelenggarakan upacara suci Tiwah, maka keluarga yang bersangkutan akan hidup dengan kesialan atau hidup di ddalam hukum karma (pali). Contohnya, dalam pendidikan gagal dan hidupnya selalu tertuju dalam hal-hal negatif. Selain itu arwah yang tidak ditiwahkan itu akan tetap tinggal di pulau raung dan akan bergentayangan. Oleh karena itu, upacara suci Tiwah harus dilakukan agar arwah orang yang sduah meninggal dapat mencapai surga atau disebut Lewu Tatau Dia Rumpung Tulang, Rundung Raka Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habasung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau.

            Ditengah kebudayaan Indonesia yang beragam dan begitu kuat ternyata beberapa masyarakat masih membawa tradisi budayanya (agama buminya) kedalam gereja tanpa harus mempertimbangkan apakah sesuai dengan inti ajaran agama Kristen atau tidak. Hal ini terjadi di GKE Eka-Asi Tangkehan yang menyelenggarakan Upacara Suci Tiwah. Umat Kristen adalah persekutuan orang-orang percaya menjadi suatu umat yang mengemban suatu gaya hidup berdasarkan ajaran dan perilaku seorang juruselamat, Yesus Kristus. Persekutuan orang-orang percaya ini biasanya disebut dengan satu istilah yang populer yaitu GEREJA.[2] Sebagai orang-orang kristen yang mengaku percaya, ternyata orang-orang kristen tidak menutup diri terhadap nilai-nilai budayanya, khususnya orang dayak Ngaju yang menjadi jemaat “Gereja Kalimantan Evangelis” (GKE). Tidak dapat dipungkiri pengaruh budaya Kaharingan  masih terlihat di dalam kehidupan bergereja dan berjemaat. Di GKE Eka Asi-Tangkehan, Kalimantan tengah, jemaat kristen masih menyelanggarakan dan melestarikan Upacara Suci Tiwah. Tiwah terakhir diadakan pada tahun 2006 dan diselenggarakan oleh tiga keluarga. 

            Kematian dalam perspektif kristen tidak hanya berbicara tentang definisi kematian atau berbicara  dosa yang sangat berkaitan erat dengan kematian rohani-jasmani melainkan tidak lepas dari sifat dan kuasa Allah.[3] Kematian itu adalah salah satu kenyataan hidup karena dosa juga adalah salah satu kenyataan hidup. Kematian datang karena dosa , Roma 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Kematian jasmani hanya sebagian dari akibat dosa. Dosa tidak mempunyai belas kasihan sehingga kita berpisah dari Allah, mengakibatkan manusia memerlukan penebusan, sehingga manusia dapat dibawa kembali kepada cahaya Tuhan. Allah sungguh bekerja bagi kebaikan semua orang yang percaya kepada-Nya Dai telah melihat manusia ketika dihancurkan oleh kejatuhan ke dalam dosa. Manusia tidak mampu datang kembali kepada-Nya, dan oleh sebab itu Allah sendiri yang menghampiri manusia. Inilah arti inkarnasi Yesus Kristus.[4] Siapa yang bisa mengalahkan dosa maut? Hanya Allah. Oleh karena itu,  Dia datang dalam wujud manusia. Bagaimana ia datang? Dia memasuki aliran sejarah manusia untuk menyamakan diriNya dengan manusia. Mengapa Dia datang? Dia berkata bahwa Dia datang untuk memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang, Markus 10:45 “Karena anak manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. Secara rohani seorang yang percaya pada Kristus mempunyai hidup yang kekal berdasarkan iman pribadinya pada Dia. Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup, (Yoh. 5:24)”. 

            Upacara Suci Tiwah yang dilaksanakan pada bulan September, tahun 2005 ini dilakukan oleh tiga keluarga. Upacara ini mereka lakukan selain menjadi tradisi masyarakat Dayak Ngaju, juga bertujuan untuk menghantarkan arwah orangtua mereka yang beragama Kaharingan menuju Lewu Tatau untuk mendapatkan kehidupan yang suci dan sempurna. Keyakinan akan adanya keselamatan melalui Upacara Suci Tiwah, menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi kepada arwah orangtua yang selama hidupnya menganut agama Kaharingan, dan inilah yang menjadi salah satu alasan keluarga mereka melaksanakan Upacara Suci Tiwah. Masyarakat menganggap bahwa upacara ini adalah tradisi dan merupakan upacara besar bagi umat Kaharingan. Oleh rasa kebersamaan dan kekerabatan yang tinggi, masyarakat sadar bahwa partisipasi mereka sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan upacara suci Tiwah berlangsung.

            Beberapa faktor diselenggarakan Upacara Suci Tiwah oleh gereja yang didapatkan berdasarkan wawancara dengan beberapa jemaat GKE Eka-Asi Tangkahen adalah:

Kebudayaan 

            Upacara Suci Tiwah adalah kebudayaan suku Dayak Ngaju yang hadir melalui kehadiran Agama Kaharingan. Oleh karena itu, Kaharingan tidak akan dapat dipisahkan dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat suku Dayak Ngaju. Upacara ini terus dilakukan juga dengan alasan untuk melestarikan kebudayaan.

Sosial

            Masyarakat Dayak Ngaju sangat melekat dengan budaya gotong royong. Sebagai contoh, ketika menanam dan musim panen tiba, maka masyarakat Dayak Ngaju saling bergotong-royong untuk membantu keluarga atau kerabatnya. Sama halnya dengan upacar pernikahan dan upacara kematian.

Kewajiban atau tanggung jawab keluarga

            Rasa tanggung jawab yang tinggi menuntut peran yang penting bagi keluarga dalam proses pelaksanaan Upacara Suci Tiwah, diantaranya ialah: biaya yang besar, tanggung jawab terhadap arwah yang ditiwahkan, memerlukan kebersamaan dan rasa sosil yang tinggi karena upacara ini memakan waktu yang cukup lama dan melibatkan banyak orang.

Pendidikan

            Walaupun sudah menganut agama kristen, pengaruh agama Kaharingan yang pernah mereka anut tidak hilang begitu saja. Faktor pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapat atau pandangan masyarakat tentang Upacara Suci Tiwah. Walaupun masyarakatnya memiliki tingkat pendidikan SMP, SMU, sampai S1.

Ekonomi

            Karena upacara Tiwah sangat mahal dan membutuhkan waktu yang lama, banyak masyarakat Suku Dayak yang melakukan  Upacara Suci Tiwah secara koletif, bersama-sama dengan keluarga lainnya. Dengan demikian biaya yang ditanggung lebih ringan.

 Apakah Upacara Suci Tiwah bertentangan dengan Iman Kristen?      
  
         Dalam Tiwah, 2008. Penulis mendapatkan informasi bahwa jemaat yang di GKE Eka-Asi Tangkahen masih memegang adat budaya agama pribuminya, yaitu kaharingan. Berdasarkan informasi yang didapatkan melalui wawancara dan bukti tertulis beberapa jemaat menganut agama Kristen hanya karna ingin melamar pekerjaan seperti pegawai negeri. Jika ingin melamar pekerjaan, pemerintah memberikan syarat ialah harus menganut agama yang diakui oleh Pemerintah. Hal inilah yang menjadi motivasi untuk memeluk agama kristen. Nilai-nilai agama Kaharingan tidak akan bisa hilang dari kehidupan masyarakat Dayak Ngajuk, sekalipun dalam kehidupan bergereja. Kenyataannya bahwa agama Kaharingan telah dahulu hadir didalam hidup suku Dayak Ngaju dan sudah menumbuhkan rasa tanggung jawab akan budaya tersebut. Agama Kristen bisa dikatakan sukses dalam penyebarannya dikalangan masyarakat Dayak Ngaju, karena hampir diseluruh pelosok Kalimantan Tengah didirikan gereja yang disebut Gereja Kalimantan Evangelis. Tetapi walaupun penyebarannya diakui sangat tinggi, namun ajaran yang ada di dlaam agama kristen belum bisa mendarah daging didalam masyarakat Dayak Ngaju. Ini merupakan salah satu fenomena budaya dalam kaitannya dengan agama Kristen.


Daftar Pustaka

http://rid755.wordpress.com/2012/07/page/2/ di akses pada 15 feb 2014, 20.19 wib

http://fauziyah-ziyaazira.blogspot.com/2013/04/upacara-tiwah-suku-dayak.html  di akses pada 15 feb 2014, 20.19 wib

http://www.gunungmaskab.go.id/pariwisata/wisata-budaya/tiwah-2.html di akses pada 15 feb 2014, 20.19 wib

http://budaya-indonesia.org/Tiwah/ di akses pada 15 feb 2014, 20.19 wib

http://www.bimbingan.org/pengertian-budaya-menurut-koentjaraningrat.htm  di akses pada 15 feb 2014, 20.19 wib

Jeniva, Isabella dan David Samiyono. 2008. “Tiwah”. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Press




[1] Duhung mamatandang: Roh halus yang bertugas mengantar roh yang telah meninggal dalam acara Tantulak dan upacara suci Tiwah yang mana dalam acara Tantulak roh tersebut diantar sampai Bukit Nalian Lanting Lewu Rundung Kereng Naliwu Rahan, sedangkan dalam upacara suci Tiwah roh-roh orang yang telah meninggal tersebut diantar ke Lewu Tatau Dia Rumpang Tilang Isen Raja Kamalesu Uhat, dan menggunakan Banama Nyahu untuk mengantar roh tersebut.
[2] Ibid., 124-125 dalam Tiwah
[3] Tiwah., 26
[4] Tiwah., 27

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda