Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Senin, 03 Maret 2014

Mengusut Peninggalan Sejarah Kebudayaan Tangerang



Oleh : Angelia Astri H /802012092 /802012092@student.uksw.edu
MD302A

 
                Indonesia, ragam budayanya. Kenapa beragam? Indonesia, suatu negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau, dari pulau yang ukurannya besar sampai yang kecil, dari yang padat penduduk sampai tidak ada penghuni, dari yang sering dibicarakan namanya hingga yang tidak punya nama. Ragam budaya, dari Sabang sampai Merauke, dari bahasa Aceh sampai Papua, dari rendang sampai papeda, dari ulee balang sampai manawou, dari tugu Nol Kilometer RI  sampai tugu Kembaran Sabang Merauke.
                Terlalu luas untuk membicarakan budaya Indonesia, terlalu panjang untuk menceritakan dari ujung barat hingga timur budaya Indonesia. Mari kita perkecil pandangan kita, dari Negara Indonesia ke Pulau Jawa ke Provinsi Banten dan berhenti di sebuah kota pinggiran barat Jakarta yaitu Tangerang.
Tangerang? Apa itu Tangerang? Sebuah kota terbesar di provinsi Banten yang dahulunya merupakan bagian dari provinsi Jawa Barat dengan luas sekitar 164.54 km2. Kawasan perkotaan terbesar Jabodetabek setelah Jakarta. Berdampingan dengan kota Jakarta dan kota Depok. Berslogan Bhakti Karya Adhi Kertaraharja yang berarti semangat pengabdian dalam bentuk karya pembangunan untuk kebesaran negeri dan kemakmuran serta kesejahteraan wilayah. Sesuai dengan slogannya, Tangerang memanglah kawasan industri dengan cukup banyak berbagai perusahaan yang berdiri. Selain kawasan industri, lebih dari 60%  lahan kota Tangerang diisi dengan perumahan yang aslinya merupakan daerah rawa-rawa dan mempunyai cuaca cenderung panas dan tetapi juga lembab.
Tangerang tidak bisa lepas dari peranan sungai Cisadane yang membujur dari daerah selatan pegunungan ke daerah pesisir. Sungai yang membawa cerita bahwa Tangerang untuk pertama kalinya kedatangan orang Tionghoa pada tahun 1407. Kapal mereka terdampar di wilayah Teluk Naga dan akhirnya mereka berbaur dengan masyarakat dan melakukan pernikahan campuran yang menghasilkan istilah Cina Bike atau orang Tionghoa yang berasal dari keturunan bibi dan sinkhe. Fase 2 orang Tionghoa datang ke Tangerang adalah karena sistem kerja paksa Belanda sehingga menghasilkan mata pencaharian bertani di kalangan masyarakat Tangerang dan juga Belanda menyediakan pemukiman bagi warga Tionghua di daerah Petak Sembilang yang lebih sering dikenal sebagai Pasar Lama yang merupakan kawasan perdagangan dan juga wisata kuliner.
Tidak heran jika banyak peninggalan berbau Tionghoa di sekitaran Tangerang yang berwujud klenteng seperti Klenteng Boen Tek Bio, Boen San Bio dan Boen Hay Bio. Klenteng Boen Tek Bio yang berdiri sejak sekitar tahun 1684 merupakan klenteng tertua di Tangerang yang terletak di jalan Bhakti 14 kawasan Pasar Lama. Klenteng ini merupakan tempat ibadah tiga agama, etnis Tionghoa, yaitu Budha, Khonghucu, dan Tao. Meskipun bersama-sama dalam satu tempat, tetapi tidak pernah ada fanatisme di salah satu agama. Di dalam klenteng tersebut terdapat benda kuno dan bersejarah seperti, Batu Tambur (peninggalan sekitar abad ke-17), Patung Singa / Ciok Say (sekitar abad ke-17), Lonceng kuno (sekitar abad ke-18), Prasasti Kayu (sekitar abad ke-18). Klenteng Boen San Bio yang terletak di jalan KS Tubun Pasar Baru dibangun sejak tahun 1689 oleh Oey Giok Koen dan memiliki peninggalan Patung Singa / Ciok Say (sekitar abad ke-17) dan Perahu Peh Cun yang berusia sekitar 100 tahun. Yang terakhir klenteng Boen Hay Bio yang berdiri sekitar tahun 1694 di kawasan Serpong.
Selain klenteng, terdapat pula peninggalan berupa rumah-rumah kapitan atau jabatan bagi Dewan Kong Koan yaitu sebuah perkumpulan untuk masyarakat Tionghoa sebagai pusat komunitas saat itu yang dibentuk oleh Belanda. Yang pertama, ada rumah kapitan Oey Dji San yang kabarnya, rumah ini berdiri sebelum Klenteng Boen Tek Bio dibangun. Terletak di daerah Karawaci dan memiliki keunikan tersendiri yaitu,  mengandung 3 unsur arsitektur Belanda, Cina, dan Lokal, memiliki keindahan dengan berbagai ukiran unik pada setiap sisi bangunannya, atap rumahnya yang berbentuk ekor wallet, pernah menjadi pusat perkebunan karet terbesar di Tangerang dan juga pernah menjadi tempat penampungan masyarakat Tionghoa yang telah menjadi korban kerusuhan pada tahun 1946. Namun kini rumah tersebut sudah tidak terawat lagi dikarenakan tidak adanya perhatian dari pemerintah setempat.
Rumah Keluarga Tan Un Long, terletak di daerah Gang Bansin Karawaci, yang memiliki papan arwah 8 generasi yang tidak ditemukan di daerah lain manapun, memiliki Hio Lo yang berasal dari abad ke-17. Makam Kapitan Oey Giok Koen yang terletak di daerah Pondok Arum. Kapitan Oey Giok Koen merupakan pemimpin masyarakat Tionghoa pada saat itu, meninggal sekitar tahun 1900-an. Makamnya memiliki keindahan dan keunikan tersendiri karena nisan yang konon didatangkan langsung dari Negeri Tiongkok. Makam Kapitan Oey Kiat Tjin yang meninggal pada tahun 1937 terletak di daerah gang H. Rain Karawaci.
Rumah Kebaya yang masih dapat ditemui di daerah-daerah tertentu. memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari rumah kebanyakan di Tangerang sekarang ini. Keseluruhan bangunan rumah kebaya ini menggunakan unsur kayu dengan pintu di tengah diapit oleh dua buah jendela. Memiliki paseban untuk menerima tamu dan memiliki latar untuk menjemur padi. Perahu Pehcun, perahu yang sangat mengandung nilai sejarah dan unsur budaya yang bernilai tinggi bagi masyarakat Tangerang.
Pehcun merupakan sebuah perayaan untuk memperingati l00 hari tahun baru China (Imlek). Tahun Baru Imlek atau Sin Tjia oleh masyarakat keturunan China yang berbahasa Hokkian, bermula dari ungkapan rasa gembira para petani di Tiongkok zaman dahulu kala untuk menyambut musim semi (Chun), yaitu saat mereka dapat kembali bekerja kembali di sawah. Ada sumber lain pula yang mengatakan Pehcun merupakan upacara tradisional Cina yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh yang berpengaruh, tengelam dan tewas di sebuah sungai di cina. Merupakan upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan pehcun di Tangerang pertama kali digelar pada tahun 1910. Digelar dengan cara memperlombakan Perahu Naga dan dimeriahkan oleh Gambang Kromong. Perayaan tersebut pernah vakum pada jaman Orde Baru, tetapi kemudian pada era pemerintahan Presiden K.H Abdurrahman Wahid festival tersebut kembali dilakukan dengan sangat meriah bahkan sampai pernah dihadiri oleh presiden. Namun setelah beberapa tahun berikutnya festival tersebut dianggap sebagai Festival Cisadane sehingga mengakibatkan lunturnya perayaan Festival Pecun yang agak telah mengubah makna budaya dan sejarah dari Festival Pecun yang sebenarnya.
            Alat musik Gambang Kromong merupakan perpaduan dari alat musik lokal dan Tiongkok. Alat musik yang mengiringi perayaan Pehcun ataupun perayaan pernikahan ini tidak dapat dilepaskan dari Nie Hu-kong, seorang pemimpin golongan China yang membentuk orkes alat musik ini. Gambang Kromong terdiri dari alat musik Tiongkok bangsing, tehyan, sukong, kongahnyan, ningning, dan alat musik lokal berupa  gambang, kromong, gendang, gong, kemor, kecrek, kempul, dan slukat. Dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan, bukan saja terjadi pengadaptasian, tapi pula pengadopsian lagu-lagu China yang disebut pobin, seperti pobin mano Kongjilok, Bankinhiva, Posilitan, Caicusiu dan sebagainya.
                Tari Cokek, tarian khas Tangerang yang diwarnai budaya etnik China karena dikembangkan oleh masyarakat tionghoa sejak abad ke-17. Tarian ini diiringi oleh orkes gambang kromong dengan penari yang mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian ini identik dengan keerotisan penari, penari pria dan wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.
                Arak-Arakan Dewi Kwan Im atau nama lainnya Gotong Toapekong yang secara rutin diselenggarakan 12 tahun sekali oleh masyarakat Tionghoa Cina Benteng yang dimulai dari sekitar abad ke-19. Acara ini pun sempat vakum pada jaman pemerintahan Orde Baru dan diselenggarakan kembali pada tahun 2012 yang ramai dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
                Tradisi Perkawinan Chiou-Thaou, diselenggarakan dalam tradisi kuno masyarakat China Benteng. Konon adat  pernikahan ini juga hanya ada di beberapa daerah saja seperti Tangerang, Padang dan Penang Malaysia. Chiou-Thau adalah istilah umum bagi suatu upacara pernikahan yang unik dan langka karena merupakan perpaduan dua unsur budaya, budaya lokal dan budaya Tionghoa yang terlihat dari pakaian kedua mempelai, mempelai pria menggunakan baju ala Tiongkok dari Dinasti Qing dan mempelai wanita menggunakan kebaya. Dan Persembahyangan dilakukan dengan 2 cara yaitu, cara Tionghoa dengan menggunakan meja persembahyangan yang disebut dengan Samkay dan cara lokal dengan menggunakan sedekah ala masyarakat Sunda. Makan 12 mangkuk, bersantap dengan 12 jenis lauk yang masing-masing diletakkan dalam mangkuk porselin. Pengantin wanita didampingi dua orang saudara laki-laki yang belum menikah dan sebaiknya dari shio naga dan macan. Makanan dalam 12 mangkuk itu melambangkan kesinambungan rezeki dalam tiap-tiap bulan selama setahun. Rasa masakan juga berbeda-beda: asin, manis, pahit, tawar, pedas, gurih, berlemak yang bertujuan untuk menyiapkan pengantin bahwa tidak selamanya mereka menghadapi kondisi menyenangkan sepanjang usia pernikahan mereka.
Selain tradisi perayaan suatu acara, Tangerang juga mempunyai makanan khas peranakan Tangerang-Cina. Beberapa makanan khas Tangerang misalnya : Sayur Besan yang merupakan makanan khas Tangerang yang selalu dihidangkan pada saat orang tua mempelai laki- laki datang ke rumah orang tua mempelai wanita, pada acara perkawinan (ngabesan), sehingga sayur ini dinamakan sayur besan. Gecom (Toge dan Oncom) atau nama lainnya sering disebut dengan toge/kecambah goreng. Laksa Tangerang, berbeda dengan laksa betawi atau malaysia. Ada dua macam jenis laksa tangerang yaitu Laksa Nyai dan laksa Nyonya. Laksa Nyai dibuat oleh kaum pribumi tangerang sedangkan laksa Nyonya dibuat oleh kaum peranakan Cina di Tangerang. Bahan utamanya adalah semacam bihun tapi tebalnya seperti spaghetti dan terbuat dari beras kemudian bahan-bahan ini disiram dengan kuah laksa yang dimasak dari kacang ijokentangsantan dan kaldu ayam serta ditambahkan daging ayam kampung atau telur. Tangerang juga memproduksi kecap yang merupakan cikal bakal produk kecap manis terkenal yang sekarang ini di pasaran. Peran kaum etnis tionghoa di benteng atau Cina Benteng yang menetap di Tangerang tidak lepas dari produksi kecap ini. Salah satunya yang terkenal adalah Kecap Benteng SH (Siong Hin) yang telah mempunyai nama di pasaran sejak tahun 1920.
Mungkin memang Tangerang adalah salah satu kota yang yang tidak terlalu mempunyai budaya khas, namun saya ingin mencoba memperkenalkan asal-usul lahirnya budaya Tangerang kepada masyarakat yang sering mengatakan “Tangerang punya (budaya) apa sih yang bisa dibanggain?”. Dari tulisan ini, kita bisa mengetahui kenapa budaya Tangerang tidak ada yang terlalu orisinil, masyarakat Tangerang merupakan campuran warga Tionghoa, Tangerang juga mengalami perpindahan wilayah bagian yang semula bagian dari Jawa Barat menjadi masuk dalam bagian provinsi Banten.


Topik     : Kebudayaan Tangerang



Masukan alamat email anda