Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Minggu, 30 Maret 2014

Sang Garuda yang terluka



Oleh :  Caroline Yuni Prasetyawati Lukitoo/852010020/MD302B

 “Nasionalisme” ,kata ini mungkin bukanlah sesuatu yang spesial bagi generasi bangsa dewasa ini. Hal ini tidak lagi menjadi insipirasi dan motivasi bagi anak bangsa. Tidak lagi membakar semangat seperti saat diucapkan pada masa-masa sebelum berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat. Kenyataan yang diterima generasi ini adalah mereka hanya sedikit berusaha menghagai kata itu “nasionalisme” dengan senyuman kecil. Mereka tidak lagi merasakan apa yang dirasakan oleh para pendiri bangsa ini. Mereka tidak pernah atau barangkali belum pernah merasakan terjajah oleh bangsa lain. Mereka tidak pernah merasa bagaimana rasanya saat dipaksa bekerja, rasanya berperang dan kehilangan orang-orang terkasih di medan perang demi menghapuskan penjajahan dan untuk sebuah pengakuan akan negara yang berdaulat.
 
Sebagai generasi muda, penulis merasa topik ini penting untuk diangkat. Penulis tertarik akan hal ini semenjak mengikuti kelas matakuliah umum ISBD dan Kewarganegaraan. Muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak penulis :
“ Mengapa nasionalisme seperti tidak memiliki arti bagi anak bangsa di zaman ini?
Bukankah sebagai ideologi bangsa, Pancasila lebih menekankan pada persatuan  dan bukan perpecahan?
Namun apakah semua yang terjadi di negara ini berlandaskan Pancasila dan UUD1945 sebagai Identitas bangsa Indonesia?
Mengapa keberagaman yang seharusnya dapat menjadi keunikan bangsa malahan menjadi masalah internal bangsa yang sampai saat ini belum bisa teratasi?
Atau kah harus diakui bahwa negara kita belum siap hidup bersama dalam keberagaman yang ada? “

·        Keberagaman Indonesia


Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, selain itu  merupakan bangsa yang besar dengan berbagai macam latar belakang suku, budaya dan agama dari para penduduknya. Hal ini membuat negeri ini menjadi amat kaya dengan segala macam keberagaman yang ada.
Gambar-gambar berikut merupakan salah satu dari contoh dari sekian banyak keberagaman tersebut :

-          Keberagaman kebudayaan Indonesia

Dapat dilihat dari gambar-gambar diatas bawah tiap etnis memiliki kebudayaannya masing-masing serta tidak ada unsur kemiripan antara satu dengan yang lain.
-          Keberagaman Agama di Indonesia

              
  Semua Keberagaman ini dapat menyatukan jika kita melihatnya sebagai keunikan serta dapat menghargai itu. Namun disisi lain keberagaman itu dapat menjadi duri dalam daging jika kita belum bisa atau bahkan belum siap untuk saling menerima. Keberagaman jika tidak didasari dengan keadilan, kesamaan dan persatuan, dapat memicu timbulnya kecemburuan dan persaingan . Yang satu merasa lebih penting dari yang lain. Yang satu merasa lebih tinggi dari yang lain dan mulailah melahirkan sikap eksklusif dari suku atau agama tertentu.
Bila diamati dengan baik, hal-hal yang timbul di masa ini adalah dampak dari lunturnya kesaktian Pancasila. Pancasila telah mengalami banyak penyimpangan. Sejak negara ini mulai berdiri hingga pada saat ini. Sehingga tidak dapat disalahkan bila anak bangsa merasa seakan tidak lagi dapat berlindung dibawah naungannya. Namun apakah itu tujuan dari para pendiri bangsa saat merumuskan Pancasila? Jawabannya tentu “ tidak “


·         Pancasila sebagai dasar negara
Pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia, disamping merupakan falsafah, ideologi, pandangan hidup dan nilai bangsa. Hal ini berarti keberadaan Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Inilah yang memberikan ciri khas bangsa yang berbeda dengan bangsa lain yaitu pola pikir, sikap dan perilaku yang senantiasa mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkadung dalam Pancasila. Namun faktanya Pancasila hanya seperti sebuah mimpi yang indah bagi negri ini. Yang ada bukan Pancasila yang melandasi pemikiran kelompok tertentu tetapi pemikiran kelompok itulah yang mengatasnamakan Pancasila.
Mengamati dari sila pertama “Ketuhanan yang Mahaesa” . menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang mengakui adanya kuasa yang besar diluar kemampuan manusia. Namun hal ini bukan berarti Indonesia adalah negara yang hanya menganut satu agama tertentu. Dari sila pertama dapat dikatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara menjunjung tinggi kebebasan umat beragama. Namun, kenyataan yang ada semakin berbalik dari apa yang tertulis. Terjadinya pengrusakan beberapa tempat ibadah dari kaum minoritas dan saat hal ini terjadi pemerintah seolah takbisa berbuat apa-apa. Bagaimana generasi penerus bangsa dapat hidup dengan rukun satu dengan yang lain dan saling menghargai jika fakta yang selalu mereka lihat berbanding terbalik dari apa yang diajarkan untuk mereka. Sedangkan Pancasila sendiri menuntut untuk sampai pada pemahaman akan kebersamaan sekalipun berbeda.

Selain itu juga masalah internal bangsa yang timbul dan semakin memadamkan api nasionalisme adalah gerakan-gerakan yang memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bila dilihat dari akar permasalahan secara umum. Alasan timbulnya gerakan-gerakan ini dapat dikatakan karena merasa kurangnya keadilan. Yang seharusnya telah diamanatkan dalam sila ketiga dari Pancasila, yang berbunyi “ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”.
 Keadilan yang dimaksudkan disini ialah pemerataan pembangunan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Mengapa rakyat yang hidup di daerah-daerah perbatasan lebih memilih berganti kewarganegaraan menjadi warga negara tetangga. Karena mereka melihat fakta bahwa kehidupan di negara lain lebih menjamin. Perbedaan yang terlihat amat mencolok dari daerah-daerah perbatasan Indonesia dan negara lain. Sedangkan kita hanya lebih banyak terfokus dengan permasalahan ibu kota negara yang macet, dengan permasalah pertikaian selebritis, dengan permasalah koprusi yang tak kunjung habisnya. Namun kita lupa bahkan mungkin tidak pernah mengingat dan mengalihkan pandangan kita kepada saudara-saudara sebangsa kita yang hidupnya amat memprihatikan. Mereka bahkan tidak mempunyai guru tetap dalam sebuah sekolah, mereka bahkan harus membayar sampai empat bahkan lima kali lipat dari beberapa rupiah yang kita pakai untuk mendapatkan makanan yang rasa dan kualitasnya sama dengan yang kita makan.

Begitu mirisnya melihat apa yang terjadi, Sang Garuda yang gagah itu terluka disana-sini. Ia butuh segera disembuhkan. Jika kita terus mengukit kesalahan tanpa memperbaikinya. Apakah gunanya?
Nasionalisme tidak hanya dibutuhkan saat kita menjadi negara jajahan . Nasionalisme tidak hanya dibutuhkan dimasa-masa sebelum merdeka. Namun nasionalisme terus dibutuhkan bahkan setelah merdeka demi mempertahakan keutuhan sebuah negara. Nasionalisme bukan hanya semangat melawan penjajahan dari bangsa lain. Tetapi juga adalah semangat kita melawan penjajahan oleh diri kita sendiri ; kemalasan kita, ketidakpedulian, kebodohan,bahkan ketertinggal di segala bidang. Hal ini masih menjadi PR bersama bagi bangsa ini.  Nasionalisme juga berarti peduli kepada bangsa karena mencintai berarti peduli mencintai negri berarti mencintai bangsanya dan menginginkan yang terbaik. Mengusahakan persatuan bukan perpecahan.
·         Nasionalisme di Era globalisasi
Diera globalisasi ini rasa nasionalisme sangat dibutuhkan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa. Bukan berarti kita harus membenci bangsa lain. Namun semangat nasionalisme membuat kita lebih meningkatkan kualitas bangsa dengan meningkatkan sumberdaya manusia yang kita miliki dan mempersiapkan diri untuk persaingan-persaingan baik segi ekonomi, sosial dan pendidikan yang telah menanti didepan mata. Selain itu nasionalisme mengajarkan kita untuk tetap bangga dan mencintai bangsa ini dan berusaha membuatnya sebagai sebuah kebanggaan.
Mencintai bukanlah hal yang mudah, mencintai berarti menerima, memaafkan dan berkorban. Tanah air kita membutuhkan generasi yang mencintainya. Dan tidak mudah untuk mencintai sebuah bangsa dengan beribu penduduk dan latarbelakangan yang berbeda. Namun kita memiliki contoh yang amat baik dari para pendiri bangsa. Sedikit mengingat kembali pada sejarah. Pada hari perumusan pancasila dan UUD 1945, terdapat banyak sekali perdebatan didalamnya. Diantara berbagai macam ideologi dan latar belakang serta pemikiran-pemikiran lainnya para pendiri bangsa harus mengesampingkan semua kepentingan yang bersifat kelompok , suku, ataupun agama tertentu dan mengalah untuk kepentingan bangsa dan kebaikan bersama.
Pancasila merupakan dasar negara kita yang wajib kita hormati dalam hidup sehari-hari sebagai warga negara Indonesia. Dan nasionalisme tetap dibutuhkan dalam hati kita. Untuk menjaga bangsa ini dari segala permasalahan dan perpecahan.


Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda