Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Sabtu, 01 Maret 2014

BUDAYA DAN PERILAKU MASYARAKAT INDONESIA DITENGAH ARUS GLOBALISASI MEDIA


Oleh : Tri Wigati Istiqomah/802012022/Md302A


 A.    PEDAHULUAN

Kebudayaan yang dijalani oleh seluruh masyarakat merupakan salah satu perwujudan jati diri dan citra diri suatu negara yang membedakan antara negara satu degan negara yang lain, namun dapat dilihat dari hal yang terjadi di sekeliling kita bahwa kebudayaan yang terlihat sekarang dan yang terlihat dahulu telah megalami sebuah pergeseran.

Pergeseran terjadi di dalam era globalisasi yang megarah pada perkembagan ilmu pegetahuan dan teknologi yang berbasis pada perkembagan teknologi informasi, yang semakin medekatkan jarak antar negara. Hal tersebut meimbulkan adanya kebebasan dan membuang pilar yang memisahkan antara negara satu dan negara yang lain. 

 Lebih megarah pada globalisasi media masa, dimana media masa memiliki peranan penting yang dapat menyuguhkan berbagai macam informasi yang ada di dalam dunia yang dapat dikatakan tanpa batasan. Hal tersebut bisa mejadi sebuah kekawatiran , terutama di kalangan remaja dan anak-anak dengan daya ingin tahu yang besar. Seperti pakaian yang di jemur di bawah terik matahari, dimana masyarakat sebagai pakaian yang menerima datagnya globalisasi sebagai terik matahari yang tidak bisa di hindari.

Kekuatan dari pegaruh globalisasi itu sendiri ternyata lebih besar dibandigkan kekuatan budaya lokal setempat  hal tersebut terlihat degan bayaknya masyarakat yang memakai pakaian modern, rumah tipe modern, gadget yang selalu terupdate dan lebih memilih untuk berduduk tenang dengan memandang alat elektroik dibandigkan megenal budaya lokal dan menerapkan prinsip dari budaya lokal itu sendiri. Hal ini perlu mejadi perhatian dan kewaspadaan yang cukup, serta perluya pemfilteran dalam kehidupan masyarakat.


B.     BUDAYA INDONESIA DAN GLOBALISASI MEDIA 

Dalam paparan wikipedia kata Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta  yaitu  buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris disebut culture, yang berasal dari kata Latin  Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Sedangkan meurut Koentjaraningrat kebudayaan diartikan sebagai seluruh system gagasan dan rasa , tindakan , serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat , yang dijadikan miliknya dengan cara belajar (koetjaraigrat 1986,180). Sedagkan menurut Van Peursen Kebudayaan dipandang sebagai aktivitas yang dijalankan oleh seluruh umat untuk memperjuangkan manusia dalam kehidupannya,kebudayaan ditempatkan dalam relasi terhadap rencana hidup secara kolektif dan Perkembangan kebudayaan tidak terlaksana tanpa manusia secara aktif menjalankannya .

Globalisasi sendiri sering diartikan sebagai pegaruh budaya barat atau Westernisasi terutama kebudayaan Amerika yang cenderung berorientasi ekonomi yang menekan paham konsumstif terhadap budaya Barat, degan kata lain budaya barat adalah budaya yang diperjualbelikan, sementara masyarakat dunia sebagai konsumen yang menikmati, baik dalam bentuk pemerintahan atau sistem politik, mekanisme pasar atau paham ekonomi , bahkan kebudayaan.
 
Secara intensif, kebudayaan megalami globalisasi pada awal abad ke-20 yang sejalan dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Secara tidak langsung terjadilah kontak melalui media yang mengeserkan kebudayaan lama seperti kontak fisik secara langsung yang dijadikan sebagai sarana utama komunikasi masyarakat. Hal positif dari globalisasi tersebut membuat semakin mudahnya komunikasi antar negara, dan hal tersebutlah yang menjadi landasan perkembagan globalisasi pada kebudayaan.

Globalisasi yang berpengaruh pada bidang kebudayaan berkembang secara cepat, yang dipengaruhi oleh mudah dan cepatnya masyarakat dalam megakses komuikasi dan berita atau media massa. Media massa sendiri dapat memberikan informasi mengenai keberadaan nilai-nilai yang dianut oleh kebudayaan lain yang berbeda satu dengan yang lain. Dilihat dalam konteks globalisasi dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan pergerakan komunikasi internasional dipegang oleh negara-negara maju, jelas pengaruh globalisasi media ini bisa menjadi bumerang bagi negara berkembang seperti Indonesia. Kebanyakan negara berkembang harus ikut mengikuti arus globalisasi agar tidak menjadi negara terbelakang, baik dalam hal politik, ekonomi, sosial, budaya dan kesenian. Dari sinilah tiap-tiap negara berkembang berusaha untuk menyesuaikan kebudayaan yang dianut dengan perkembangan yang terbaru guna melanjutkan kehidupan dan menghindar dari kehancuran. Namun hal tersebut juga harus memperkokoh dimensi budaya dan struktur nilai yang terkandung didalamnya agar tidak luntur tergerus arus globalisasi yang tidak bisa dihentikan maupun ditolak.

 
C.   PERAN MEDIA MASA

Media masa dalam konteks globalisasi memang memegang kendali yang vital, penting untuk mengetahui bagaimana peran yang sebenarnya dijelaskan oleh Mc Quail (Mass Communication Theories(2000 : 66)), bahwa  terdapat enam perspektif dari Peran media masa yaitu :

  1.  Media masa sebagai window on event and experriece. sebagai jedela yag dapat melihat semua peristiwa tanpa terkecuali atau dengan kata lain merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.
  2.  Media masa sebagai a mirror of event in society and the word implying a faithful reflection. Yang terkadag mejadi dasar untuk para pengelola sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan , konflik, pornografi, dan berbagai keburukan lain. Padahal sesungguhnya, angle, arah framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para professional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahwi apa yang mereka inginkan.
  3.  Media masa sebagai filter, sebagai guide atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak.
  4.  Media masa sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan atau menunjukkan arah atas semua ketidakpastian , atau alternative yang beragam.
  5.  Media masa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada masyarakat, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik.
  6. Media masa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar wadah dari informasi, tetapi juga parthner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.

Mengetahui peran tersebut dapat dikatakan bahwa media masa bukan hanya berperan sebagai hiburan semata namun media masa sendiri memiliki informasi yang luas dan dapat berperan peting dalam kehidupan sosial. Hal yang disajikan oleh media masa tersebut bisa juga mempegaruhi persepsi seseorang serta mempengaruhi realitas subyektif yang menjadi pelaku interaksi sosial / masyarakat. Gambaran tentang realitas yang terdapat dalam media masa yang telah merubah persepsi tersebut akan mendasari bagaimana masyarakat merespond dan bersikap terhadap berbagai objek social. Maka perlu berhati-hati karena Informasi yang salah dari media masa juga akan memunculkan gambaran yang salah pula terhadap obyek sosial tersebut. Karenanya media masa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian media masa.


D.   DAMPAK GLOBALISASI MEDIA TERHADAP BUDAYA DAN PERILAKU MASYARAKAT INDONESIA.

Dapat ditafsirkan bahwa globalisasi merupakan proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia seperti perkampungan kecil, namun sisi lain dari globalisasi adalah Sebagian perwujudan untuk menyatuan masyarakat di seluruh dunia dari segi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Globalisasi yang bersifat meyeluruh dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan,tentu saja kebudayaan termasuk didalamnya karena manusia sedirilah yang menjadi tujuan dan subyek dari globalisasi.

Terlihat sekarang bahwa tidak semua pengaruh dari globalisasi dapat langsug lolos dapat diterima dalam kehidupan masyarakat indoesia tentunya, hal ini didasari pada nilai-nilai luhur dalam paham kebagsaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia itu sendiri. Salah satu cotoh yang tidak asing lagi adalah maraknya progran televisi, radio, majalah, koran, buku, film, vcd, HP, dan kini lewat dunia maya atau internet yang sedikit banyak telah megeserkan nilai kebudayaan dan perilaku masyarakat Indonesia.

Hal tersebut bermulai dari adaya Kebebasan pers yang muncul pada awal reformasi, yang tidak jarag diguakan oleh oknum tidak bertanggug jawab untuk memasukkan unsur “porografi” dalam media masa karena mereka menganggap bahwa pers mempunyai kemerdekaan yang dijamin sebagai hak asasi warga Negara dan tidak dikenakan penyensoran dan pembredelan akan tetapi hal tersebut jelas telah meyisikka peraturan yang tertuang dalam pasal 5 ayat 1 Undang-undang pers No 40 tahun 1999, yang berbunyi ”pers berkewajiban memberikan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat”.  serta dalam Undang-undang perfilman tahun 1992 pasal 33 yang berbunyi ”setiap film dan reklame film yang akan diedarkan atau dipertujuklkan di Indonesia, wajib sensor terlebih dahulu”. Pasal 19 dari UU ini menyatakan bahwa : ”LSF (Lembaga Sensor Film)harus menolak sebuah film yang menonjolkan adegan seks lebih dari 50 % jam tayang”. Dalam UU Penyiaran pasal 36 ayat 6 dinyatakan bahwa: ” isi siaran televisi dan radio dilarang menonjolkan unsur cabul (ayat 5) dan dilarang merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama dan martabat manusia Indonesia ”.

Dengan  media semakin terbuka dan terjangkau membuat masyarakat Indonesia degan mudah  menerima berbagai informasi tentang peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Seperti fenomea alam seperti sekarang yaitu banjir, bukan hanya banjir air tetapi juga banjir informasi dan nilai dari budaya baru yang diterima dari banyaknya suguhan media yagn tidak dibatasi oleh norma dan nilai budaya Indonesia. Seperti papara diatas bahwa contoh yagn paling mudah dijumpai adalah masalah pornografi dimana sekarang wanita–wanita Indonesia yang terpengaruh oleh trend mode dari luar seperti cenderung mini dan terbuka. Meghilagnya budaya sapa meyapa dimana banyak anak muda yang sibuk degan gadget masing-masing hingga mucul suatu istilah “orang dekat jadi jauh dan orang jauh menjadi dekat”.

Globalisasi dapat mendatangkan masalah baru dalam kehidupan berbudaya di negara ini, ibarat sebuah badai yang dapat mencabut akar budaya. Namun dilihat dari sudut pandang yang lain, globalisasi dapat membuat seluruh bangsa yang kaya akan keberagaman budaya seperti di Indonesia dengan hasil karya seni yang beragam dapat terlihat dan menyebar keseluruh negara serta bisa juga berdampak positif atau dengan kata lain dapat mempengaruhi budaya lain sebagai contoh batik. Di dalam catatan sejarah pada era globalisasi inilah Indonesia berada pada masa kegemilangan pada seni da kebudayaan. Meskipun ada juga kebudayaan dari negara ini yang tereduksi oleh arus budaya yang lebih besar seperti Korea atau Cina dan Amerika , akan tetapi bangsa Indonesia harus mempunyai kepercayaan terhadap akar budaya dan berusaha mengetahui dan memahami bagaimana seni dan kebudayaan bisa menjadi benteng pertahanan identitas da citra diri bangsa Indonesia untuk generasi pernerusnya.


E .GLOBALISASI DAN TANTANGAN  MASA DEPAN BUDAYA INDONESIA

Melihat budaya Indonesia dalam arus globalisasi media, banyak atau pun sedikit telah mengalami perubahan. Untuk mempertahankan identitas dan citra Indonesia, perlu adaya tinjauan kembali akan apa itu konsep dari kebudayaan Indonesia itu sendiri. Lemahnya tradisi dalam megikuti arus globalisasi tidak boleh dibiarkan begitu saja. Globalisasi yang mengarah pada proses pembunuhan tradisi atau pelenyapan atas sumber lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal harus dilawan dengan upaya-upaya untuk mempatenkan kebudayaan agar tidak lagi ada berita mengenai pengakuan hasil budaya oleh negara lain. Upaya yang lain yaitu pembangunan jati diri dan citra diri bangsa Indonesia, termasuk didalamnya penghargaan nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan cinta tanah air yang dirasakan semakin memudar. Dalam kenyataannya didalam struktur masyarakat terjadi Kesenjangan sosial, baik hanya dalam status maupun tingkat pendapatan. Kesenjangan sosial yang semakin melebar itu menyebabkan orang kehilangan harga diri. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit dicernakan sementara itu budaya global lebih mudah dihayati.

Oleh karenanya, perlu adaya pegkajian ulang yang mecerminkan masyarakat dan realitas sosial negara ini. Agar terwujud masyarakat yang bisa dikatakan melek budaya, harus diupayakan adaya rekonstruksi kebudayaan Indonesia dengan mempertimbagkan berbagai macam hal seperti  megkaji ulang gagasan-gagasan pemikir kebudayaan Indonesia yang dimulai dari sebelum kemerdekaan. Melakukan penelitian dibidang politik kebudayaan pada setiap rezim pemerinahan yag berkuasa di Indonesia, dimulai dari kemerdekaan sampai era reformasi yang meliputi apa  konsep dari kebudayaan, siapa yang membentuk kebudayaan, bagaimana bentuknya, strategi kebudayaan apa yang digunakan, bagaimana rancangan proyeksiya. Hal yang lain adalah melakukan penelitian mengenai bagaimana nilai-nilai asli yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat dan perubahan apa yang terjadi di dalam masyarakat. Setelah itu perlu juga melihat bagaimana posisi Indonesia sekarang di tengah-tengah arus globalisasi serta berbagai ragam kekuasaan budaya diseluruh dunia.

Dalam kasus Globalisasi Media, hal yang berpengaruh negatif dalam media masa telah ditidaklajuti secara tegas oleh pemeritah seperti  menerapkan hukum Undang-Undang Pers, Undang-Undang Perfilman dan Undang-Undang Penyiaran yang secara tegas dan konsisten, disamping itu tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau dibiarkan bisa menghancurkan negeri ini.
 
Maka dari itu globalisasi yang tidak lagi bisa ditolak harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian serta pengembangan budaya.

F. PENUTUP 

Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pegaruh atau dampak dari globalisasi sangat mempengaruhi perilaku dan budaya masyarakat Indonesia. Tidak harus meghidari globalisasi tersebut tetapi harus meghadapinya karena globalisasi dan modernisasi sangat diperlukan dan bermanfaat terutama dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya berdampak positif namu juga berdampak negatif sehigga perlu kewaspadaan terhadap kebebasan di era globalisasi media ini. Serta perlunya kecerdasan dalam menyaring efek globalisasi. Dan dapat memafaatkan globalisasi itu sendiri seperti akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat mejadi pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal.





Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda