Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Minggu, 02 Maret 2014

Inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)


Topik : Teknologi di Bidang kedokteran  

Pendahuluan

Latar Belakang


Penulis Muhammad Faisal Latif /
672012074 / MD302A

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan). Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan  adalah inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination  yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen.Berdasarkan pengertian di atas, maka definisi tentang inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. Namun perkembangan lebih lanjut dari inseminasi buatan tidak hanya mencangkup memasukkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan sperma, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan   (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan, dan penentuan hasil inseminasi pada manusia dan hewan. Adapun tujuan dari inseminasi buatan adalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan keturunan bagi pasutri yang belum mendapat keturunan. 

Tujuan
1.  Mengetahui mengapa melakukan inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
2.  Mengetahui beberapa pandangan tetang inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
3.  Mengetahui dampak dari positiof dari inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
4.  Mengetahui dampak  negatif dari inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
5.  Mengetahui  solusi dari dampak negatif dari bayi tabung


Pembahasan

1.  Sebab mengapa inseminasi buatan pada manusia atau bayi tabung dilakukan.Hadirnya seorang anak merupakan  tanda dari cinta kasih pasangan suami istri, tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan.Inseminasi buatan pertama kali dilakukan pada manusia dengan menggunakan sperma dari suami telah dilakukan secara intravagina pada tahun 1700 di Inggris. Sophia Kleegman dari Amerika Serikat adalah salah satu perintis yang menggunakan inseminasi buatan dengan sperma suami ataupun  sperma donor untuk kasus infertilitas.   Pada wanita kendala ini dapat berupa hipofungsi ovarium, gangguan pada saluran reproduksi dan rendahnya kadar progesterone. Sedangkan pada pria berupa abnormalitas spermatozoa kriptorkhid, azoospermia  dan rendahnya  kadar testosteron. Selain untuk memperoleh keturunan, faktor kesehatan juga merupakan fokus utama penerapan teknologi reproduksi. Sebagai contoh kasus:

Di Colorado Amerika Serikat pasangan Jack dan Lisa melakukan program inseminasi, bukan semata-mata untuk  mendapatkan keturunan tetapi karena memerlukan donor bagi putrinya Molly yang berusia 6 tahun yang menderita penyakit  fanconi anemia, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sebagai penghasil darah. Jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit leukemia. Satu-satunya pengobatan adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang dari saudara sekandung, tetapi masalahnya Molly anak tunggal. Yang dimaksud inseminasi disini diterapkan untuk mendapatkan anak yang bebas dari penyakit  fanconi anemia  agar dapat diambil darahnya sehingga diharapkan akan dapat merangsang sumsum tulang belakang Molly untuk memproduksi darah.[1]

2.  Pandangan tetang inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)

a.Segi Agama
Dalam hukum Islam tidak menerima cara pengobatan ini dan tidak boleh menerima anak yang dilahirkan sebagai anak yang sah, apalagi jika anak yang dilakukan perempuan karena nantinya akan mempersoalkan siapa walinya jika anak tersebut menikah. Bolehkah “ayah” yaitu suami yang memiliki gangguan reproduksi dapat diterima sebagai walinya? Selain masalah agama juga muncul soal hukum dalam pembagian harat. Bolehkah anakyang dilahirkan AID mewarisi harta “ayah” juga dalam hal lain-lain yang berkaitan dengan pewarisan. Di negara barat, yang mana inseminasi benih penderma dilakukan dengan giatnya, mereka atasi masalah Undang-Undang dengan menjalani proses “adopsi” secara sah. Tetapi kedudukan di negara Indonesia masih belum jelas. Alasan lain dari sekelompok agamawan menolak teknologi reproduksi ini karena mereka meyakini bahwa kegiatan tersebut sama artinya bertentangan dengan ajaran Tuhan yang merupakan Sang Pencipta. Allah adalah kreator terbaik. Manusia dapat saja melakukan campur tangan dalam pekerjaannya termasuk pada awal perkembangan embrio untuk meningkatkan kesehatan atau untuk meningkatkan ruang terjadinya kehamilan, namun perlu diingat Allah adalah Sang pemberi hidup.

b.Segi Hukum
Dilihat dari segi hukum pendonor sperma melanggar hukum. Contoh kasus pada bulan Juni 2002, pengadilan di Stockholm, Swedia menjatuhkan hukuman kepada laki-laki yang mengaku sebagai pendonor sperma kepada pasangan lesbian yang akhirnya bercerai. Dan diberi sanksi untuk memberi tunjangan terhadap 3 orang anak hasil inseminasi spermanya, sebesar 2,5 juta perbulan. Dalam kasus ini akan timbul sikap etis dan tidak etis. Sikap etis timbul dilihat dari sikap pendonor sperma yang telah memberikan spermanya kepada pasangan lesbian, karena berusaha untuk membantu pasangan tersebut untuk mempunyai anak. Sedangkan sikap tidak etis muncul dari pasangan lesbian yang bercerai, karena telah menuntut pertanggungjawaban kepada pendonor sperma yang mengaku sebagai ayahnya untuk memberikan tunjangan hidup bagi ke-3 anak hasil inseminasi spermanya.Dengan demikian maka inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah  perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi.

c.Segi Sosial
Posisi anak menjadi kurang jelas dalam tatanan masyarakat, terutama bila sperma yang digunakan berasal dari bank sperma atau sel sperma yang digunakan berasal dari pendonor, akibatnya status anak menjadi tidak jelas. Selain itu juga, di kemudian hari mungkin saja terjadi perkawinan antar keluarga dekat tanpa di sengaja, misalnya antar anak dengan bapak atau dengan ibu atau  bisa saja antar saudara sehingga besar kemungkinan akan lahir generasi cacat akibat inbreeding. Lain halnya dengan kasus seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dan dia ingin mempunyai anak dari sperma beku suaminya. Hal ini dianggap etis karena sperma yang digunakan   berasal dari suaminya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah sosial, karena status anak yang dilahirkan   merupakan anak kandung sendiri. Kasus lainnya adalah seorang wanita ingin mempunyai anak dengan inseminasi tetapi tanpa menikah, dengan alasa n ingin mempunyai keturunan dari seseorang yang diidolakannya seperti artis dan tokoh terkenal. Kasus tersebut akan menimbulkan sikap tidak etis, karena sperma yang diperoleh sama halnya dari sperma pendonor, sehingga akan menyebabkan persoalan dalam masyarakat seperti status anak yang tidak jelas. Selain itu juga akan ada pandangan negatif kepada wanita itu sendiri dari masyarakat sekitar, karena telah mempunyai anak tanpa menikah dan belum bersuami.[2]

3.  Dampak positif dari inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
Anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri (pasutri). Tapi faktanya, tak semua pasutri dapat dengan mudah memperoleh keturunan. Data menunjukkan, 11-15 persen pasutri usia subur mengalami kesulitan untuk memperoleh keturunan, baik karena kurang subur (subfertil) atau tidak subur (infertil). Jadi proses bayi tabung adalah upaya untuk memperoleh keturunan dari pasangan suami istri yang bersangkutan . Bayi tabung dilakukan untuk membantu kehamilan pada wanita, dilakukan pada kasus infertilisasi yang disebabkan beberapa faktor diantaranya :
Sumbatan atau kerusakan tuba fallopi ( dapat disebabkan oleh Pelvic Inflammatory
Disease)Endometriosis Faktor infertilisasi laki-laki, termasuk penurunan jumlah sperma dan sumbatan.Infertilisasi yang t idak diketahui sebabnya.[3]

4.  Dampak negatif (resiko) dari inseminasi buatan pada manusia (bayi tabung)
Dan itu harus dihadapi apabila sudah menetapkan program bayi tabung sebagai pilihan
utama untuk mendapatkan keturunan. Resiko program bayi tabung antara lain :
  • Resiko terjadinya stimulasi indung telur yang berlebihan sehingga terjadi penumpukan cairan di rongga perut yang menyebabkan keluhan berupa mual, kembung, muntah dan hilangnya selera makan. Dengan pemantauan yang rutin akan menghindari resiko stimulasi yang berlebihan.
  • Resiko kehamilan kembar lebih dari dua akan meningkat akibat banyaknya embrio yang dimasukkan ke rahim. Dan berakibat terjadinya resiko terjadinya persalinan prematur yang akan memerlukan perawatan lebih lama. Untuk mengurangi resiko t ersebut dengan mempertimbangkan usia maka akan dilakukan pembatasan embrio yang akan dimasukkan ke rahim.
  • Resiko terjadinya pendarahan dan infeksi akibat pengambilan sel telur dengan jarum. Karena kemungkinan jarum akan mengenai kandung kemih, usus dan pembuluh darah. Tetapi dengan tehnologi USG hal itu bisa dihindari.  
  • Resiko mengalami keguguran dan kehamilan diluar kandungan. Dengan pemberian hormon dan panduan tehnologi USG maka diharapkan hal itu tidak akan terjadi.
  • Resiko lainya adalah tentang biaya yang dikeluarkan, kelelahan fisik dan emosi dalam menyikapi harapan dan kenyataan yang terjadi selama mengikuti program bayi tabung tersebut.[4]
5.  Solusi dari dampak negatif bayi tabung
Ketika teknologi kedokteran belum secanggih sekarang, bila suami tak  memiliki sperma (azoospermia) maka pupus harapan untuk memiliki momongan. Akan tetapi bayi tabung memberikan harapan baru. Mungkin tak sedikit yang menilai bayi tabung menjadi jalan terakhir.Dr Malvin Ameraldi, SpOG menjelaskan sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan, yaitu inseminasi. Program ini berupaya memasukkan sperma ke dalam rahim, terjadi pertemuan sel telur dan sperma di dalam tubuh.Sementara pada program bayi tabung, dokter mengambil sel telur dan sperma lalu digabung menjadi embrio, selanjutnya embrio tersebut ditanam ke rahim calon ibu. Indikasi untuk dilakukan bayi tabung terutama bila ada gangguan sperma/tidak memiliki sperma, sumbatan salur telur, dan kelainan yang tak bisa dijelaskan.Di dunia, keberhasilan program bayi tabung sekitar 30-40 persen. Dari beberapa pilihan program, keberhasilan inseminasi tanpa penyubur sekitar lima persen, dengan penyubur tujuh persen, dan dengan stimulasi hormone 4-17 persen. Dengan teknik bayi tabung persentase keberhasilannya termasuk lebih  besar. Namun demikian, keberhasilan program  bayi tabung dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya usia calon ibu, cadangan sel telur, dan faktor penyebab infertilitas.[5]



Penutup

Kesimpulan

  • Hadirnya seorang anak merupakan tanda dari cinta kasih pasangan suami istri, tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan. Bayi tabung adalah salah satu solusi bagi pasangan yang tidak bisa memiliki anak untuk memperoleh anak. Tetapi berbagai pandangan tentang bayi tabung menjadi pro dan kontra setiap lapisan masyarakat.
  • Dari pandangan agama proses bayi tabung tidak dibenarkan atau tidak diperbolehkan karena  menyimpangang dari ajaran.  Dari pandangan hukum proses bayi tabung dilarang, karena inseminasi buatan harus  harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi  tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi.  Dari pandangan sosil pun tidak  memperbolehkan karena akan menimbulkan konflik tentang status anak.
  • Dan bayi tabung pun mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dampak positif adalah upaya untuk memperoleh keturunan dari pasangan suami istri yang bersangkutan.
  • Tetapi selain itu terdapat dampak negatif dari bayi tabung itu sendiri yaitu  Resiko terjadinya pendarahan dan infeksi akibat pengambilan sel telur dengan jarum.
  • Namun bayi tabung bukan satu-satunya jalan memperoleh anak, inseminasi bisa menjadi jalan keluar bagi para pasangan suami-istri.
Saran 

Pada prakteknya, seharusnya memperhatikan dari sudut pandang agama, hukum, sosial. Karena pada dasarnya dari semua sudut pandang bayi tabung diharamkan. Lebih baik memcari alternatif lain. Seperti inseminasi tapi ditanam dirahim suami istri yang akan melakukan progam tersebut. Karena setatus anak akan jelas dan tidak menimbulkan prokontra.




Daftar Pustaka
Anonima.2004.Inseminasi Buatan. http://ferrykarwur.i8.com/materi_bio/materi4.html .
Evi Puspita Sari, Esti Cahya Wirastri, Yusmeida Ciptami, Susanna Puspitarini.Bayi Tabung.2004. Inseminasi Buatan.http://farras-agda-m.blog.ugm.ac.id/2012/06/20/pandangan-islam-mengenai-proses-bayi-tabung/.
Anonimb.2006. Pengertian Bayi Tabung dan Resikonya. http://dloepiq.blogspot.com/2013/01/pengertian-bayi-tabung-dan-resikonya.html .  
Ice Cream Vanilla. 2010. BAYI TABUNG” DALAM PEREKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI . (MENCAKUP ETIKA , MORAL , DAN BEBAS NILAI )” . http://wwwicecreamvanilla.blogspot.com/2010/08/bayi-tabung-dalam-perekembangan-ilmu.html .
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA.2013. Bayi Tabung Bukan Jalan Terakhir Punya Anak, Ini Solusi Lainnya. http://www.tribunnews.com/2013/01/28/bayi-tabung-bulan-jalan-terakhir-punya-anak-ini-solusi-lainnya.



[1] Anonima.2004.Inseminasi Buatan
[2] Evi Puspita Sari, Esti Cahya Wirastri, Yusmeida Ciptami, Susanna Puspitarini.Bayi Tabung.2004. Inseminasi Buatan
[3] Anonimb.2006. Pengertian Bayi Tabung dan Resikonya.
[4] Ice Cream Vanilla. 2010. BAYI TABUNG” DALAM PEREKEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI.(MENCAKUP ETIKA , MORAL , DAN BEBAS NILAI )” .
[5] TRIBUNNEWS/DANY PERMANA.2013. Bayi Tabung Bukan Jalan Terakhir Punya Anak, Ini Solusi Lainnya.

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda