Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Minggu, 30 Maret 2014

Penyebab dan Dampak Banjir di Jakarta




Oleh :Rheza Winahyu / I672012060@student.uksw.edu/MD302B



 
Gambar Banjir yang terjadi di Jakarta



                Beberapa bulan terakhir perhatian pemerintah dan rakyat Indonesia terfokus pada berbagai bencana yang melanda negeri ini. Salah satu bencana tersebut adalah banjir di Jakarta.
                Bencana banjir sebenarnya bukan hal baru bagi penduduk Jakarta sebab setiap tahun penduduk di wilayah-wilayah tertentu di Jakarta selalu mengalami banjir. Hujan beberapa jam saja dengan curah hujan yang tinggi sudah bisa menyebabkan banjir. Untuk tahun 2014 ini bencana banjir di Jakarta lebih istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
                Kalau di tahun 2013 banjir di Jakarta lebih luas cakupannya, bahkan istana negara dan bandara pun tak luput dari serbuan banjir. Namun banjir tahun lalu cepat surut sedangkan di tahun 2014 ini daerah-daerah yang terkena banjir lebih sedikit namun surutnya sangat lama. Bahkan ada yang satu minggu lebih banjir belum bisa surut, hingga air banjir berwarna kehijauan, keruh, dan pasti juga berbau. Selain itu ada beberapa wilayah yang ditahun-tahun sebelumnya tidak terkena banjir, tahun ini mengalami kebanjiran parah. Lalu apa penyebab banjir di Jakarta begitu parah tahun ini?

A.        Penyebab Banjir di Jakarta
Banjir yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1.         Adanya pemanasan global yang makin parah
Akibat pemanasan global yang semakin parah di dunia ini, Indonesia ikut menanggung akibatnya. Salah satunya adalah iklim yang tidak menentu dan curah hujan yang tinggi di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya di Jakarta.
2.         Curah hujan yang tinggi
Curah hujan yang sangat tinggi di Puncak dan Bogor menyebabkan sungai-sungai dan bendungan di sana penuh air dan air tersebut megalir ke Jakarta. Karena sungai-sungai di Jakarta banyak yang dangkal akibatnya air kiriman dari Puncak dan Bogor tersebut meluap dan menggenangi berbagai tempat di Jakarta yang dekat dengan sungai maupun bendungan.


3.         Kebiasaan penduduk membuang sampah ke sungai
Mengingat begitu banyaknya penduduk di Jakarta maka tak mengherankan jika masih banyak penduduk yang dengan sengaja membuang sampah di sungai. Jika ditanya mengapa membuang sampah di sungai,kebanyakan akan menjawab bahwa mereka tidak punya tempat pembuangan sampah, jadi sampah yang terpaksa dibuang di sungai. Akibatnya sungai makin dangkal dan jika curah hujan tinggi, terjadilah banjir karena sungai yang meluap.
4.         Banyaknya penduduk yang membuat rumah di bantaran dan di atas sungai
Akibat begitu banyaknya rumah yang didirikan di bantaran sungai bahkan di atas sungai menyebabkan sungai makin sempit. Jika ada air kiriman dari Puncak dan Bogor atau hujan yang tinggi, sungai tidak bisa menampung semua air tersebut sehingga meluap dan menggenangi daerah-daerah sekitarnya.
Menurut penulis, berbagai hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta.

B.        Dampak Banjir di Jakarta
Terjadinya banjir di Jakarta di tahun 2014 ini menimbulkan berbagai dampak baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Dampak-dapak tersebut diantaranya:
1.         Penduduk terpaksa mengungsi
Karena wilayahnya tergenang air, ribuan penduduk Jakarta terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Di pengungsian mereka harus mau tidur di tempat seadanya serta makan seadanya.
2.         Kerugian material yang sulit dihitung
Akibat banjir menyebabkan rumah-rumah penduduk rusak termasuk perabotan rumah. Selain itu karena ditinggal mengungsi banyak orang kehilangan harta benda karena dicuri orang. Akibat banjir juga dirasakan berbagai perusahaan di Jakarta, perusahaan-perusahaan tidak bisa beropersi tempat bekerja karena tergenang air dan listrik yang mati.
3.         Dampak psikologis bagi penduduk yang terkena banjir
Masyarakat yang mengalami banjir banyak yang sedih dan putus asa karena harus tinggal di pengungsian dalam waktu lama, tidak bisa bekerja, tidak bisa sekolah dan setelah banjir mereda mereka pun harus membersihkan kembali rumah mereka yang penuh dengan lumpur dan sampah-sampah akibat banjir.
4.         Pemerintah harus mengeluarkan dana ekstra untuk membantu korban banjir
Pemerintah Indonesia melalui BNPB harus mengeluarkan begitu banyak dana untuk mendirikan posko-posko pengungsian, dapur umum, tenda-tenda, bahan makanan, obat-obatan, tikar, selimut, dan berbagai keperluan untuk pengungsi.
Itulah berbagai dampak yang timbul akibat terjadinya banjir di Jakarta.

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa banjir di Jakarta disebabkan berbagai hal yang kompleks yang sulit untuk diubah. Sehingga dampak banjir sangat berat dirasakan warga masyarakat maupun pemerintah DKI Jakarta. Dalam hal ini, saya sebagai penulis tidak hanya memaparkan penyebab dan dampak dari banjir di Jakarta, tapi penulis juga akan menawarkan solusi yang diharapkan dapat memecahkan persoalan tentang banjir di Jakarta ini.
Ada beberapa solusi yang jika dilaksanakan sesuai dengan aturannya, akan berhasil memecahkan bahkan mencegah terjadinya banjir di Jakarta. Solusi-solusi tersebut diantaranya adalah :
1.         Setiap satu minggu sekali diadakan kerja bakti masal bagi seluruh warga penghuni bantaran sungai dan masyarakat sekitar.
Pentingnya membersihkan areal sungai dari sampah-sampah rumah tangga yang sengaja di buang di sungai dan juga terjadinya pendangkalan sungai mengakibatkan arus air yang tidak lancar. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan terjadinya banjir, oleh karena itu pembersihan sungai dari sampah dan pengerukan sungai sangat dibutuhkan demi kelancaran arus air. Kerja bakti masal ini sebaiknya diadakan hari minggu dimana sebagian besar orang libur dari aktifitas kerja sehingga dapat berpartisipasi secara maksimal dalam kerja bakti ini. Setiap RT diharapkan mengirimkan paling sedikit 75% dari seluruh kepala keluarga yang menghuni wilayah satu RT tersebut. Sebaiknya diadakan penjadwalan bagi setiap kepala keluarga dan juga absensi sehingga akan mudah diketahui siapa saja yang tidak berangkat pada saat kerja bakti masal tersebut. Bagi mereka yang membolos dari kerja bakti masal tersebut, sebaiknya dikenakan sangsi berupa denda dengan nominal yang bisa ditentukan sesuai dengan musyawarah warga. Besarnya denda sebaiknya tidak terlalu sedikit atau murah sehingga masyarakat tidak menyepelekan kerja bakti masal ini. Uang denda yang terkumpul, nantinya bisa dimanfaatkan untuk membenahi sarana dan prasarana yang berguna bagi masyarakat sekitar.
2.         Diadakan penjagaan di seitar bantaran sungai dan juga patroli keliling untuk menjaga kebersihan sungai.
Sungai yang bersih setelah diadakan kerja bakti masal di hari Minggu tidak akan bermanfaat jika masyarakat sekitar tetap bertahan pada kebiasaan lamanya untuk membuang sampah di sungai. Untuk menghindari terulangnya kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai, perlu adanya seorang penjaga di bantaran sungai dekat pemukiman penduduk. Orang ini bertugas mengawasi siapa-siapa saja yang membuang sampah di sungai, mencatat nama atau bahkan memfotonya sebagai bukti, lalu menegur satu kali. Bia lain kali hal itu masih diulangi, maka si penjaga bantaran sungai wajib mendenda sebesar denda yang telah disetujui bersama. Karena diharapkan si penjaga sungai ini mampu mengenali warganya, maka diharapkan yang menjadi penjaga sungai adalah orang yang telah lama tinggal di daerah tersebut atau orang yang dituakan sehingga masyarakat sekitar hormat kepadanya sehingga segan untuk mengotori sungai. Tentu saja menjadi penjaga sungai tidak hanya menjaga sungai dan mengawasinya tetapi juga melakukan patroli di sekitar tempat-tempat dimana warga sering membuang sampah. Untuk pekerjaannya mengawasi dan berpatroli itulah penjaga sungai akan menerima upah yang diambil dari denda warga masyarakat.
3.         Pemerintah berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan untuk mendirikan pusat pengolahan sampah rumah tangga.
Mengingat bantaran sungai yang sudah berpenjaga, warga masyarakat mungkin menjadi bingung bagaimana cara mereka membuang sampah rumah tangganya. Hal inilah yang mendasari penulis mempunyai ide untuk mengumpulkan masing-masing sampah rumah tangga sesuai dengan jenisnya. Misalnya sampah berbahan dasar plastik dikumpulkan dalam tempat yang terpisah dengan sampah berbahan dasar kertas, daun, dan sebagainya. Di setiap RW, pemerintah akan memfasilitasi sebuah area yang nantinya akan digunakan untuk mengolah sampah. Jika warga sudah memilah sampah berdasarkan jenisnya, mereka dapat menjual sampah-sampah tersebut ke tempat ini. Selanjutnya, hasil sampah dari masyarakat akan didaur ulang oleh para pekerja di area tersebut. Pengolahan sampah ini mempunyai manfaat ganda yaitu sebagai pemecahan masalah sampah warga dan juga membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran karena mereka dapat bekerja di area ini untuk mengolah sampah. Uang hasil pengolahan sampah menjadi barang-barang daur ulang maupun pupuk, hasilnya akan digunakan untuk membeli sampah warga dan juga membayar upah para pekerja di pengolahan sampah tersebut.
4.         Pemerintah harus menindak tegas para pemilik bangunan yang melanggar tata kota.
Sering kita jumpai, wilayah yang seharusnya untuk penghijauan ataupun taman kota, berubah menjadi tempat perbelanjaan modern maupun hunian masyarakat. Hal ini tentu menyebabkkan terganggunya peresapan air hujan, sehingga dapat meningkatkan potensi banjir. Pemerintah harus tegas memberikan sanksi kepada para pemilik bangunan-bangunan tersebut untuk segera membongkar bangunan mereka. Jika solusi 1 sampai 3 selalu berhubungan dengan uang, dalam hal ini pemberlakuan denda dianggap tidak akan menyelesaikan masalah, karena biasanya para pemilik bangunan yang melanggar tata kota ini adalah kaum berduit yang uangnya tidak akan habis untuk membayar denda. Jika mereka tahu bahwa sanksi dari bangunan yang melanggar tata kota hanyalah sebatas denda, mereka akan melakukan hal yang sama dengan membangun bangunan yang melanggar tata kota di tempat lainnya.

Penulis percaya dengan melakukan hal-hal tersebut di atas dengan rutin dan cermat, maka masalah banjir di Jakarta bisa diminimalisir atau bahkan bisa dihindari sama sekali. Selanjutnya penulis berharap bahwa masyarakat Jakarta akan dapat merubah kebiasaannya membuang sampah di sungai dan mulai belajar dari pengalamannya terkena banjir setiap tahun.

Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda