Selamat menikmati berbagai artikel dan makalah dari teman-teman Mahasiswa ISBD, ditunggu komentar, kritik dan saran anda pada posting tulisan tersebut, dalam kolom komentar. Atau anda bisa mendapat kiriman artikel via email dengan memasukan alamat email anda pada kolom diatas. Terima Kasih

Selasa, 25 Maret 2014

MELESTARIKAN KEBUDAYAAN JAWA PADA ZAMAN MODERNISASI



Oleh: Alfransis Sinatra Jefrison P. / 672012113 / MD302A




     1.       PENDAHULUAN
Daerah asal orang jawa adalah Pulau Jawa, yaitu suatu pulau yang panjangnya lebih dari 1.200 km, dan lebarnya 500 km. Letaknya di tepi sebelah selatan Kepulauan Indonesia, kurang lebih tujuh derajat di sebelah selatan garis khatulistiwa. Pulau ini hanya merupakan tujuh persen dari seluruh daratan Kepulauan Indonesia.
Pulau Jawa adalah bagian dari suatu formasi geologi tua berupa deretan pegunungan yang menyambung dengan deretan Pegunungan Himalaya dan pegunungan di Asia Tenggara, dari mana arahnya menikung kea rah tenggara kemudian ke ara timur melalui tepi-tepi Daratan Sunda yang merupakan landasan Kepulauan Indonesia.
Pulau Jawa merupakan daerah gunung merappi yang memiliki sejumlah besar gunung berapi, baik yang masih bekerja maupun yang tidak, dengan ketinggian antara 1.500 hingga 3500 meter di atas permuakan laut. Gunung-gunung berapi dengancelah-celah yang mengeluarkan gas-gas dan asap, senantiasa memuntahkan lava dan abu. Kecuali gunung-gunung berapi utama ini, ada gunung-gunung dan buki-bukti yang lebih kecil yang terpancar letaknya, yang ada kalanya berasal dari gunung-gunung berapi utama.
Sederet bukit-bukit kapur yang ad apada umunya berbentuk rata, dengan ketinggian yang sedang-sedang saja, terdapat di sekitar pantai utara Jawa Timur dan di pantai selatan. DI kaki-kaki gunung-gunung berapi dekat pantai selatan dan pantai utara di sebelah timur Pulau Jawa, terbentuk sederet pagunungan kapur. Di banyak tempat di pantai selatan, pegunungan ini membentuk tebing-tebing curam.
Dari lereng-lereng gunung dan bukit mengalir sungai-sungai yang membawa batu-batu muntahan gunung-gunung berapi kelembah-lembah yang luas di tepi sungai-sungan yang besar. Lembah-lembah yang terdiri dari tanah pasir dan batu kerikil halus itu mengandung kesuburan ang tinggi untuk pertanian, dengan suatu kapasitan kandungan air yang tinggi pula. Sungai-sungan besar seperti sungai Serayu du Jawa Tengah, dan Bengawan Solo serta Brantas di Jawa Timur, membawa bahan-bahan vulkanis yang subur ke daerah-daerah dataran rendah, yang diendapkan di sepanjang pantai selatan Jawa Tengah dan sepanjang pantai utara Jawa TImur.
Orang Jawa hanya mendiamii bagian tengah dan timur dari seluruh Ulau Jawa; sebelah baratnya (yang hamper seluruhnya merupakan Dataran Tinggi Priangan). Hampir seluruh Pulau Jawa memang sangat padat enduduknya, bahwa Pulau Madura yang gersang di sebelah timur-lautnya berpenduduk lebih dari dua juta jiwa pada tahun yang sama. Pulau Jawa yang luasnya 7% dari seluruh wilayah Kepulauan Indonesia dan dihuni oleh lebih hamper 60% dari seluruh penduduk Indonesia adalah daerah asalh Kebudayaan Jawa.
               


Ini adalah table jumlah keseluruhan orang Jawa (Total Penduduk Jawa Menurut Pembagian Resiensi 1815-1930)

    2.       PEMBAHASAN
A.      SEJARAH SINGKAT KEBUDAYAAN JAWA
a.       Pertumbuhan Daerah Perkotaan di Jawa
Kota terkecil di Jawa adalah pusat kecamatan yang dipimpin oleh seorang pegawai berpangkat penewu. Kota-kota ini biasanya luasnya tidak lebih besar dari suatu desa dengan penduduk yang jumlahnya kurang dari 10.000 jiwa dalam tahun 1930, di mana belum terdapat aliran listrik, dan sering kali belum berwujud sebagai kota. Setingkat lebih tinggi adalah ibukota distrik, dengan seorang wedana sebagai kepala daerahnya. Kota ini biasanya berpenduduk antara 10.000 dan 25.000 orang. Kota-kota yang dikepalai oleh bupati, yang merupakan pangkat tertinggi yang bias dicapai oleh seorang pegawai pribumi, menurut sensus tahun 1930 biasanya berpenduduk antara 25.000 dan 100.000 orang. Daerah yang dikuasai oleh seorang bupati adalah kabupaten atau regentschap, yang pada awal abad ke-20 berjumlah 81 buah, yang digolongkan menjadi kesatuan-kesatuan yang lebih luas lagi, ialah karesidean atau residentie. Hingga tahun 1940, suatu daerah karesidenan di Jawa hanya dikepalai oleh seorang pegawai Belanda. Ibukota karesidenan adalah kota dengan 100.000 hingga 150.000 penduduk dalam tahun 1930. Masih ada 5 kota yang terbesar di pulau Jawa, yaitu ibukota kelima propinso, yaitu Bandung (Ibukota Jawa Barat), Semarang (Ibukota Jawa Tengan), Surabaya (ibukota Jawa TImur), dan Yogyakarta serta Surakarta, yang dengan masing-masing berpenduduk 150.000 hingga 500.000 orang.

Angka tertinggi dari taun 1961 dan 1971 menunjukan bahwa enduduk kota Jawa bertambah dengan suatu laju sebesar 3.7% setiap tahun, sedangkan penduduk pedesaan hanya dengan angka 1.9%. Sebab dari gerak urbanisasi itu, kecuali sebab-sebab yang biasa, juga disebabkan karena keadaan yang tidak aman di daerah pedesaan dalam kedua dasawarsa pertama setelah kemerdekaan Indonesia.

b.      Perkembangan Pendidikan Umum di Jawa
Sekolah-sekolah Umum untuk penduduk Jawa baru diadakan dalam tahun 1849. Sekolah-sekolah yang mula-mula didirikan adalah sekolah-sekolah dasar tiga tahun, sedangkan sekolah penddikan guru didirian pada tahun 1852 di Surakarta. Jumlah sekolah itu mulai meningkat waktu demi waktu secara perlahan-lahan, dalan dalam tahun 1892 jumlah murid pribumi mencapai 52.700 anak.
Di Indonesia pendidikan tinggi baru dimulia sejak tahun 1920 dengan dirinya Techmische Hogeschool (Perguruan Tinggi Tehnik) di Bandung, yang sebelumnya merupaan lembaga pendidikan swasta, yang setahun kemudian menjadi lembaga pendidikan negri.
B.      KEBUDAYAAN JAWA DI KOTA
a.       Golongan-Golongan Sosial Dalam Masyarakat Perkotaan
Kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur belum banyak dikaji, kecuali satu atau dua saja, kota-kota di Jawa umumnya merupakan pusatpemerintahan yang bersifat pra-industri, dengan pola tata kota dan pemukiman yang sama.
Orang Jawa yang tinggal di kota pada umumnya dapat dibagi ke dalam tiga lapisan sosial, yaitu : (1) golongan orang biasa dan para pekerja keras; (2) golongan pedagang; dan (3) golongan pegawai pemerintah yang bekerja di kantor pemerintah daerah, , di instansi-instansi pemerintah, dan orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan kepegawaian, yang bekerja di belakang meja tulis. Sebelum Perang Dunia II, di Yogyakarta dan Surakarta, di Negarigung, dan Cirebon di daerah sisir Barat, masih ada satu golongan sosial lain, yaitu kaum bangsawan Jawa                
C.      CONTOH-CONTOH KEBUDAYAAN JAWA
-          Wayang
Wayang adalah salah satu tradisi bercerita di Jawa Tengah yang masih berlanjut hingga saat ini yang paling berkembang dan terkenal hingga ke penjuru dunia.Wayang merupakan salah satu kesenian Jawa yang hingga sekarang ini masih eksis.
 Kesenian wayang sering disajikan dalam hajatan. Wayang tidak jauh berbeda dengan ketoprak. Jika ketoprak diperankan oleh manusia, sementara tokoh-tokoh cerita dalam wayang diperankan dengan properti yang disebut wayang itu sendiri yakni sejenis miniatur dengan bentuk sosok manusia yang digambarkan sesuai dengan sifatnya dan berbahan dari kulit . Wayang  dijalankan oleh seorang dhalang.
Beberapa alat yang digunakan dalam pewayangan di antaranya adalah: “kelir” (background dalam bentuk  layar yang berupa kain berwarna putih), “blencong” (sejenis lampu yng digunakan untuk menambah kesan untuk menguatkan suasana dari jalan ceritanya), “debog” (batang pisang yang digunakan sebagai tempat untuk menancapkan wayang-wayang yang hendak dimainkan), “cempala” dan “kepyak” (sejenis alat untuk menciptakan suara pengiring saat wayang dijalankan).
-          Lagu Daerah Jawa Tengah
Budaya Intelektual di tanah Jawa pada masa lalu ternyata sudah dapat dikatakan tinggi, hal ini terbukti banyak karya-karya sastra yang ditulis, meskipun berbentuk tembang (sastra sekar) macapat yang juga ternyata memiliki aturan-aturan baku , yang kalau kita pelajari akan tampak nilai-nilai intelektualitas yang tinggi.
Ciri lain yang menonjol dari karya-karya itu adalah nilai mistiknya, sehingga membaca karya mereka seakan kita hanya akan mengungkap khasanah mitos yang tidak rasional. Padahal jika diperhatikan secara seksama banyak dari karya mereka yang mengandung informasi yang meyakinkan.
Jawa Tengah memiliki lagu daerah, yang dibagi atas : (1) tembang dolanan(Ilir-Ilir, Cublak-Cublak Suweng, Gundhul Pacul, dan lain-lain), (2) tembang macapat (Maskumambang, Pocung, Gambuh, Megatruh, Mijil, Kinanthi, Durma, Pangkur, Asmaradana, Sinom, dan Dhandanggula), dan (3) gendhing Jawa kreasi (modern).
-          Kesenian Musik Jawa Tengah
Musik Jawa yang disebut gamelan sering digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing dan tari , terdiri atas gender,demung, bonang, bonang penerus, gambang, gong, kempul, kethuk, kenong, saron, peking, siter, rebab, suling, dan kendhang.  Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda,  yang menuntun suara adalah rebab sementara yang menuntun “sampak” (Tempo) adalah kendhang.
Gamelan Jawa itu adalah salah satu corak gamelan  yang eksis di Jawa Tengah dan Yoyakarta dan sebagian Jawa Timur. Musik gamelan Jawa berbeda dengan gamelan dari daerah lainnya. Jika gamelan Jawa pada umumnya mempunyai nada lembut dan menggunakan tempo lebih lambat, berbeda dengan gamelan Bali yang mempunyai tempo lebih cepat dan gamelan Sundha yang mana musiknya mendayu-dayu serta didominasi dengan suara seruling.
Gamelan Jawa juga mempunyai aturan-aturan yang sudah baku di antaranya terdiri  atas beberapa “puteran danpathet” (tinggi rendahnya nada). Juga ada aturan “sampak” (tempo) dan “gongan” (melodi) yang kesemuanya terdiri atas empat nada. Sementara yang memainkan gamelan disebut “Panayagan” atau “nayaga” dan yang menyanyi disebut “pesinden” (wiraswara atau swarawati).
D.      PELESTARIAN BUDAYA JAWA PADA ZAMAN MODERNISASI
a.       Pengertian Modernisasi
Pada dasarnya setiap masyarakat menginginkan perubahan dari keadaan tertentu ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan yang lebih maju dan makmur. Keinginan akan adanya perubahan itu adalah awal dari suatu proses modernisasi. Modernisasi dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.
b.      Perkembangan Kebudayaan Jawa
Globalisasi dan modernisasi menjadi fenomena yang berkembang di hampir seluruh pelosok dunia, terutama dinegara-negara berkembang. Seperti yang dapat dilihat bahwa dua proses ini memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali dengan kebudayaan manusia yang juga terpengaruhi. Perkembangan kebudayaan ini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia sesuai dengan berkembangannya pengetahuan manusia untuk menciptakan inovasi baru.
Globalisasi dan modernisasi dalam bidang kebudayaan dapat dilihat dengan semakin luasnya masyarakat dunia mengenal suatu kebudayaan dari suatu daerah. Seperti yang diungkapan oleh Anthony Giddens bahwa modernitas meruntuhkan jarak antar ruang dan waktu.

c.        Dampak Positif terhadap kebudayaan Jawa
Perkembangan arus globalisasi dan modernisasi dalam kehidupan memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam hal kebudayaan. Dua proses ini  memberikan dampak positif, diantaranya :
1.       Semakin dikenalnya suatu kebudayaan dari suatu Negara ke seluruh pelosok dunia
2.       Meningkatkan jumlah devisa Negara karena wisata budaya
3.       Meningkatkan kreativitas dalam berkarya
4.       Membuat kebudayaan semakin maju


d.       Dampak negatif terhadap kebudayaan Jawa
Dalam pelaksanaannya, globalisasi dan modernisasi memberikan dampak yang negatif sebagai berikut :
1.       Westernisasi yang semakin marak, dimana budaya barat dianggap sebagai budaya yang lebih maju dan terus ditiru terutama oleh Negara yang sedang berkembang
2.       Melunturnya jati diri bangsa karena anak muda berkiblat terhadap kebudayaan asing dan kurang menghargai kebudayaan sendiri, sehingga ada kecenderungan kebudayaan semakin lama semakin tergerus arus globalisasi.
3.       Budaya hedonisme dan konsumerisme yang terus berkembang tanpa bisa dicegah.
e.      Pelestarian Kebudayaan

-          Upaya Pemerintah
Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah ditanah air, yakni kebudayaan asli Indonesia. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijaka yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional.
Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah disetiap even-even akbar nasional. Misalnya saja tarian-tarian, lagu daerah, makanana khas daerah, dan lain sebagainya. Karena dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan modernisasi menyebabkan kebudayaan asli daerah itu semakin terpinggirkan, banyak malah yang mengundang atau menampilkan artis, tarian atau dance modern yang itu jelas-jelas bukan kebudayaan asli bangsa kita yakni bangsa Indonesia.
Dengan menampilkan tarian-tarian, lagu-lagu daerah, makanan khas, dan lain sebagainya semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan leluhur kita yang harus dijaga, dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia bahwa itu semua adalah kebudayaan asli bangsa Indonesia dan kita harus bangga akan kebudayaan yang kita miliki, karena kita tinggal, karena kita berbahasa, dan karena kita ini adalah warga masyarakat Indonesia.
Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal yakni pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah.

-          Upaya Masyarakat
Beragam wujud warisan lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajarinya. Masalah kebudayaan lokal sering kali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya banyak warisan buadaya yang lupuk dimakan usia, terlantar, terabaikan, dan bahkan dikalin oleh negara tetangga. Padahal banyak negara yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jatidirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budaya yang sedikit jumlahnya. Kita sendiri bangsa Indonesia yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan asset yang tak ternilai harganya. Sungguh kondisi yang kontradiktif.
Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang sehingga kaya akan keanekaragaman budaya lokal seharusnya mati-matian melestarikan budaya dari warisan jaman dulu. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama dan terus turun-temurun ke anak cucu kita. Jadi bukan pelestarian yang hanya sesaat, berbasis proyek, donor, dan tanpa akar yang kuar didalam masyarakat itu sendiri. Pelestarian tidak akan dapat bertahan dan berkembang jika tidak didukung oleh masyarakat luas dan menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Para pakar pelestarian kebudayaan harus turun dari menara gadingnya dan merangkul masyarakat menjadi pecinta pelestarian kebudayaan yang bergairah. Pelestarian kebudayaan jangan hanya tinggal dalam buku tebal disertai para doktor, jangan hanya diperbincangkan dalam seminar para intelektual dihotel mewah, dan lain sebagainya. Pelestarian kebudayaan harus hidup dan berkembang dimasyarakat, atau bahkan dunia.


-          Kebudayaan Sebagai Warisan Dunia
Kebudayaan sendiri disetiap negara pasti berbeda-beda, mempunyai historis sendiri-sendiri, dan arti sekaligus tujuan kebudayaan itu diciptakan. Kebudayaan sudah ada sejak manusia itu hidup dan terus berkembang sehingga menghasilkan kebudayaan itu sendiri. Dengan jalan melestarikan, merawat, memelihara kebudayaan itu sendiri, kedepannya dapat dipastikan bahwa kebudayaan yang dibuat atau dimunculkan oleh nenek moyang kita akan terus terjaga keberadaannya. Tetapi tidak dipingkiri lagi, kita sebagai manusia yang mampunyai pikiran, pasti akan berkembang dan mengalami kamajuan, baik itu dalam bidang komunikasi, transportasi, keahlian, dan lain sebagainya yang membuat warisan kebudayaan sendiri tergerus kerasnya jaman. Lalu munculah lembaga-lembaga resmi dunia yang  bertugas untuk mengangkat kembali warisan budaya yang termarjinalkan dari dasar untuk diangkat kembali dan menjadi sebuah kebanggaan sendiri dalam sebuah bangsa serta agar manusia sendiri tidak melupakan sejarah atau historisnya sampai akhirnya dapat hidup sampai sekarang ini.
Kebudayaan sebagai warisan dunia tak akan ternilai harganya jika dibandingkan dengan sebuah harta. Karena kebudayaan itu diciptakan tidak lebih dan tidak kurang berpuluh-puluh ribu tahun atau bahkan berjuta-juta tahun yang lalu. Dan itu merupakan warisan dunia yang tersebar luas tidak hanya pada negara Indonesia saja, tetapi hampir semua negara memiliki kebudayaannya masing-masing dengan ciri, serta khasnya yang berbeda-beda.

      3.       KESIMPULAN
Dengan mengetahui dan memahami budayanya, maka masyarakat akan tergerak hatinya untuk mencintai dan menjaga budaya mereka. Jika rasa memiliki telah tumbuh, maka mereka tidak akan pernah mau kehilangan budayanya. Sehingga mereka akan berusaha dengan keras untuk menjaga budayanya tersebut dari segala hal yang mengancam keberadaan budaya tersebut dan mereka akan selalu berusaha untuk melestarikannya.
Kita harus berupaya keras untuk mencari jalan keluar dari  permasalahan ini, sehingga kita semua dapat terus menjaga kelestariannya. Dengan demikian generasi penerus kita masih dapat menikmati budaya yang elok ini.
Sehingga kekhasanahan budaya bangsa ini juga akan tetap terjaga hingga akhir nanti. Karena menjaga budaya daerah sama halnya dengan nenjaga budaya negeri ini. Dan hal ini adalah salah satu perwujudan kecintaan kita kepada tanah air.

Daftar Pustaka
Online

Buku
PN BALAI PUSTAKA.Cetakan Pertama – 1984. KEBUDAYAAN JAWA KOENTJARANINGRAT



Tidak ada komentar:

Masukan alamat email anda